puisi-puisi

PUISI-PUISI
Oleh : Djho izmail

RESOLUSI TAHUN BARU
Kelam membelenggu dari berbagai sudut bumi
Bercurah rahmat dari langit berbentuk cair
Membentuk lain di atas gundukan lembah
dataran terbentuk kolam meriak pelan
di ujung teriak mulut berbagai bentuk

hiruk pikuk dunia menggelegar pecah sunyi
mercun dan petasan berdentum bom rakitan
ngiangan deru gemericik berpadu Satu
bayiku terbangun menangis
tersulut bunda dengan amarah perlahan nyala
rentetan dunia berkejar mendahului waktu

resolusi ratusan lembar terbuang percuma
tiga pena meringkuk di kotak sampah
hanya karena ingin kususun sebuah resolusi

kabut memudar sembunyi dari tatapan bumi
lorong lenggang semakin gaduh berhamburan
terompet dan sangkakala menyair di menara kota
gunung dan bukit mendongkak bersama gaduhnya
sungai dan lembah bernyanyi bak kurang energy
sayup perlahan menunggu waktu mati

di ujung lorong percintaan bisu
sahabat membisik sarat makna
pedih kudengar seakan mengejekku
di kedalaman lubuknya ia hanya berucap
jujur”save d’planet” ngiang tak mau pergi

januari 2009

LELAH LELAKI TUA

diantara karang mencuat tajam
terkikis sepi terbawa angin
amarah tersembul dalam diam
hancurkan mimpi sepikan hari
lelah lelaki tua
memanah dara tak Nampak
hanya mimpi hayal belaka
ujung hari tuakan mimpi
tapak kisah tua
hadirkan aku tanpa mimpi pasti

di ujung lorong singgah itu
aku pernah bermimpi
indah tak pasti
terbuai bersama angin
nyata itu mimpi
berawal dari impian


semenjak borok singgahi desa ini
tak ada yang tahu pasti
berapa yang terkulai
tergilas tanpa belas kasihan
salah sendiri kenapa protes!
Kau kira enak hidup tanpa janji?
Janji itu media janji itu uang

Lelah lelaki tua
Perlahan terkulai lemas
Tersungkur memeluk ‘berada
“beri aku roti “
“pergi!!”
mengapa dulu kau malas?
Malas menipu, malas berjanji

20102009










SUNYI
saat tdk memperingati hari pahalawan

Detak waktu terus berlalu
Semua sunyi diam menyepi
Mendung menghantui siang
Gerimis mencekam
Sepi menggelinding
Hari ini tidak sama
Enam puluh empat tahun silam
Orang lupa
Sejarah Cuma fatamorgana
Hari ini sunyi
Bukan untuk berkabung
Apalagi mengheningkan cipta
Sunyi berpikir diri
Merrenung kedok hamper terkuak

10XI2009


IBUKU TUA

Sepi mewabahi bumi
Luka menganga perih
Setangkai mawar terpotong
Duri menancap di hati
Merana perih sengsara

Sosok-sosok tertawa angkuh
Menangkan pergumulan murahan
Bersama bandit kelaparan
Haus kan ‘segiempat’ bernama
Utama gapaian insane alam

Ufuk bulir merah menetes
Cair rembes mengental
Horizon keluar nanah
Bau amis menjijikan
Ufuk dan horizon berpandangan

Udara merah menyala
Hantarkan hawa panas
Menyengat sekatkan hati
Perih ini siapa peduli
Sampai temaram memanggil

Mata mulai buta dan dibutakan
Beriring tamak memaksa
Telinga mulai tuli dan dipekakkan
Bersama deru rekayasa industry
Mulut tutur manis mengelabui





Aku tua
Karena dimakan usia
Menua
Lantaran serakah mendera
Di kejauhan raja berlari
Menghindar penjara

Juni 2009


DEMOSTRAN TERTIMPAH TIMAH PANAS

Luka ini mewabah darah mengucur
Perihpun pedih menyengat
Semburkan api dan berkobar
Bertambah perih pedih
Nanah membumbung
Jantung berdetak pelan
Seakan weker habis energi
Redup belum mati
021209

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, setelah membacanya.
Terima kasih