AKU, MAMA DAN C

AKU, MAMA DAN C
Oleh : Djho Izmail

Cinta, ya cinta. Semua orang di dunia membicarakannya. Dari anak ingusan sampai tua bau tanah. Dari kampung sampai metropolitan bahkan megapolitan. Cinta seolah-olah menu dengan kandungan gizi seimbang di dalamnya pada tiap rumah tangga. Bahkan temanku pun pernah mengaku jatuh cinta di awal masuk Taman Kanak-Kanak. Cinta telah membuat musuh menjadi sahabat begitupun sebaliknya. Cinta ada dan dibicarakan dimana-mana. Di sawah, di pasar, di kantor, di radio, di TV, di puisi, di cerpen, di lagu bahkan di dongeng-dongeng. Dan dalam cerita jeritan batin ini, cinta kembali hadir sebagai protagonis dan antagonis. Bagaimana kisah AKU, MAMA DAN C ini?

Jhuron
Aku tidak suka ma..! biarkan kita hidup berdua saja ma, aku sudah besar. Sudah banyak yang aku tahu dari ketidaktahuanku. Cukup sedikit dari yang banyak, syukurlah dari pada tidak tahu sama sekali. Aku tahu mama butuh pendamping hidup, tapi mengapa mama tak mau ketika kuiznkan waktu itu. Katanya mama cinta mati pada papa. Buktinya??
Mama
Anakku, dunia ini kadang menyedihkan kadang pula membahagiakan. Matahari dengan keperkasaanya takluk pada tebalnya awan hitam menggumpal, sehingga sinarnya tak tersorot sampai ke bumi. Yang penting kamu belajar. Jangan cemaskan mama. Ini yang terbaik buat mama dan kamu juga. Mama menikah lagi bukan berarti mama tidak cinta lagi pada papamu, anggap ini masa lalu, nak. Tataplah ke depan, pandanglah pada titik yang tak kelihatan, lalu teriaklah “masa depan nantikan aku dengan pakaian kebesaranmu”
Jhuron
Tapi, ma. Serpihan cinta mama pada papa dulu mama simpan di mana? Katanya “ first love is never die” kenyataanya?? Juataan rupiah telah amblas terimpas dengan kosmetik untuk dandanan mama. Untuk apa semua ini ma?? Supaya Duda di Gang CHAMPEN itu tertarikkan ma?? Maafkan aku, mungkin terlalu kurang ajar untuk seorang anak bertutur begitu terhadap mama. Tapi mama harus sadari bahwa kadar cinta mama berkurang terhadapku, aku butuh perhatian. Sekolahku terganggu. Kata teman-teman aku anak dari seorang wanita jalang. Tak kuhiraukan itu. Karena bagiku, mama adalah ibu terhebat di dunia, wonderwoman-ku.
Mama
Sayang.. jangan buat mama pusing. Cukup sudah uraian air matamu. No tears my little angel. Jangan lagi berkata kasar terhadap mama.mama masih sayang kamu. Mama ambil keputusan ini karena, sangat mencintaimu my dear. Maafkan mama kurang memperhatikanmu. Tapi, yakinlah dunia akan berhenti berputar jika mama menelantarkanmu. Percayalah, mama menikah lagi bukan karena mama tak sayang padamu. Mengertilah sayang. Bila tiba saatnya nanti kita akan bahagia. Penuh dengan luapan cinta.
Jhuron
Mama, aku tidak percayah lagi pada cinta ma! Ia hanya batu loncatan untuk mencapai maksud dari masing-masing insan. Kalau cinta itu benar-benar ada mengapa ia harus membunuh papa yang masih penuh dengan luapan cinta terhadap mama. Jawab ma!! Karena kebisuan tidak memberi solusi untuk menyelesaikan masalah. Atau mama sudah sadar kesalahan mama. Mama jawab aku ma! Jawab sekarang!
Mama
Anakku, kuharap engkau sadar sekarang. Engkau berbicara atas nama ketidaktahuanmu. Masih banyak yang ada belum mengerti tentang dunia ini, termasuk cinta itu nak! Percayalah pada mama. Kamu sekarang berbicara tentang teori. Cinta bisa muncul kapan saja dan dimana saja, tanpa memohon izin pada sang empunya jiwa. Bila engkau memandang langit sore berubah kelam, dan fajar remang berubah terang, apa yang engkau dapati artinya dari sana? Itu semua karena kebesaranNya. Karena cinta pastinya. CintaNya pada ciptaanNya.
Jhuron
Ah….!!! Terserah mama mau bilang apa. Yang pasti, aku tidak percaya pada cinta. Entah teori ataupun praktek, sama saja cinta itu tetap tidak ada. Ingat ma. Aku bosan mendengar orang berbicara tentang cinta. Muak!! Sekarang aku akan buktikan kepada mama, topeng di balik cinta itu sebenarnya. Bila terkuak aku akan tertawa. Dunia akan heran dan takjub. Pastinya kebesaran namaku. Aku bisa dikatakan penemu hebat abad ini. Padahal Cuma menyadarkan manusia yang telah terhipnotis oleh ilusi cinta yang dihasilkan sendiri dari keterbatasan pikiran dan kata-kata yang telah berujung. Aku dapat nobel. Hahahahaaaaaa……..
Matahari menyinari, angin berhembus, bulan bermandi cahya, hujan menyisir bumi, melukis pelangi di atas latar birunya langit, waktu berjingkrak sampai tiga bulan kemudian…
Mama
Anakku.. mari makan nak! Tak ada gunanya kau memungkiri cinta. Ia benar-benar ada nak. Bahkan sekarang ia sedang menari di antara sinar mata kita. Sudalah nak. Ia tak dirumuskan ataupun berasal dari teori abad pertengahan. Ia ada sebelum bumi dibentuk, sebelum jagat raya dihiasi ciptaanNya. Tidakkah kau sadari udara yang kau hirup? Dari mana asalnya dan untuk apa dia ada? Penguasa benar-benar adil dan penuh cinta nak!
Jhuron
Diam! Bagiku kata yang mama ucapkan tak bermakna. Apalagi soal kata haram. Cinta, ya cinta. Ia lebih haram ketika sepotong kotoran manusia menggelitik kerongkonganku. Buat apa meninggalkan apa yang menjadi komitmenku hanya karena sebuah mantra tak berguna yang bernama cinta itu. Sudahlah akui saja kesalahan mama dan orang-orang yang memuja cinta itu. Hedonis cinta. Atau mama mau menjadi tembok pemisah antara aku dan literaturku tentang manuisa yang dibodohi oleh cinta hanya karena keterbatasan akalnya.
Mama
Anakku, sadarkah kau dengan perjuanganmu untuk menjungkirbalikan cinta? Supaya engkau dikenal sebagai pahlawan tanpa tanda tanya?? Sadarlah nak! Cinta itu benar-benar ada. Bahkan sekarang dia sedang menari di pelupuk mata kita. Ia bersenda gurau bersama jiwa dalam kebersamaan kita. Jangan kau pungkiri cinta. Ia alamiah dan tak ternodakan.
Jhuron
Maafkan aku ma! Sebenarnya aku hanya ingin menyembunyikan rasa aneh yang selalu menghantui hari-hariku. Kusadar itu cinta ma. Aku telah menjadi terdakwa atas rasaku sendiri. Sekarang aku divonis Jatuh cinta dengan Chinta, anak gadisnya Om Christo Duda di Gang Champen itu ma. Maafkan aku ma! Aku tahua mama ingin menikah dengan Om Christo, tapi aku terlanjur cinta dengan anaknya. Bagaimana ini ma??

Champen, 110209

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, setelah membacanya.
Terima kasih