CINTAILAH

CINTAILAH
Oleh : Djho izmaiL

Mengutip apa yang dikatakan Romain Roland, bahwa “Manusia pasti membuat kesalahan, itulah kehidupan. Tetapi mencintai tidak pernah merupakan kesalahan.” Pada dasarnya manusia yang merupakan makhluk lemah memiliki kesalahan. Entah sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak sadar manusia tetap memiliki kesalahan. Pesona kehidupan modern saat ini saat bervariatif. Pesona-pesona yang ada seakan tak ada titik batasnya. Tak ada puncak yang sudah distandarkan karena salah satu sifat dasar manusia yakni keinginan yang tak pernah berkesudahan.
Mari kita menengok di sekeliling kita, di mana produk-produk baru telah menyihir insan mulia untuk menggunakannya. Rambut-rambut yang berputar-putar kini berubah menjadi lurus akibat kecanggihan teknologi yang semakin pesat. Sadar atau tidak, secara tidak langsung karakter alamiah kita telah diubah. Kecanggihan teknologi telah berdampak pada perubahan karakter. Manusia zaman ini seakan hidup pada lakon dunia tanpa sutradara. Insan yang digambarkan melalui “RupaNya” telah menodai kealamiahannya menjadi sosok yang berkarakter ganda. Saat di mana seseorang terpesona oleh figur-figur tertentu, ia telah melupakan keaslian (alamiah) karakternya sendiri. Sadar atau tidak ia telah membangun dasar pada dirinya “To be the other” bukan lagi yang semestinya “To be your self”
Tuntutan cintailah ini bukan bermakna sebagai mencintai seseorang, Lelaki atau Perempuan yang telah membuat jantung kita mau copot ketika berhadapan dengannya. Bukan juga karena malam tak nyenyak tidur mengimpikan wajahnya. Bukan itu, yang dimaksud mencintai disini. Mencintai yang dimaksud adalah mencintai alam dan lingkungan kita yang merupakan “saudara kembar” kita, karena kita hadir dari yang sama, yakni sama-sama “diciptakan olehNya.” Mungkin kita telah membuat kesalahan dalam hidup ini. Kesalahan karena telah merusak lingkungan, tapi mulai dari sekarang kita dituntut untuk mencintainya, karena mencintai bukan merupakan kesalahan.
Cintailah, maka kamu akan dicintai. Ketika kita mencintai alam, kita telah menyetarakan alam menjadi Teman, Pacar, Sahabat, Orang tua, Saudara dan Sesama kita. Untuk itu, maka alam dekat dengan kita. Apabila kita telah dekat dengan alam, maka alam dan kita (manusia) akan menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Karena kita satu kesatuan, secara otomatis kita tidak akan merusak alam.
Mencintai adalah karakter dasar manusia. Dengan mencintai kita telah membuat keharmonisan yang luhur. Yang membuat tidak terpisahkan dari cinta adalah karena telah menjadi satu kesatuan. Alam adalah suatu yang alamiah sama seperti manusia karena diciptakan dari kemurnian cinta tanpa batas.
Dalam era dewasa ini, manusia mulai menyadari dengan adanya ketidakseimbangan antara alam dan lingkungan dengan manusia. Berbagai macam kejadian, fenomena alam dan bencana alam mulai menyadarkan manusia bahwa, manusia telah mengekplorasi dan mengeksploitasi kemurnian alam untuk kepentingannya sendiri. Tak ada cinta tulus dan murni sebagai sesama ciptaanNya. Untuk itu tuntutan mencintai tanpa batas untuk kemurnian alam harus dijalankan. Semuanya akan seimbang sesuai dengan harapan sang khalik.
Karena alam adalah yang alamiah, maka kita wajib membuatnya tetap alamiah jangan kita menodai kemurniannya, karena pada hakikatnya alam adalah yang alamiah tak ternoda. Jangan pernah mengidolakan sesuatu yang bukan merupakan karakter kita, apabila kita telah merubah karakter kemurnian kita maka, kita telah membawa diri kita pada pencemaran kemurnian yang telah dititipkan Tuhan pada kita, pada saat penciptaan. Demikian juga dituntut untuk tidak merubah karakter alam. Manusia dewasa ini telah dibohongi oleh karakter palsu yang bukan karakter aslinya. Bukan yang asli berarti telah dinodai. Masih maukah kita mencintai yang telah ternodakan??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, setelah membacanya.
Terima kasih