GARA-GARA CATATAN

GARA-GARA CATATAN
Oleh : Djho_Izmail

Senja yang menggebu-gebu, sesekali di kejauhan terdengar nyanyian terkenal dari mulut bernubuat. Aku baru saja berjalan menyisir di antara lorong-lorong pasar inpres menuju suatu tempat di ujung los pasar. Beberapa penjual sayur dan tempe berusaha menawarkan dagangannya kepadaku. Aku menolaknya dengan halus karena memang aku tak berniat menbelinya. Malang bagiku, tempat tersebut telah ditutup lebih awal. Katanya ada pertemuan dengan pimpinan.
Aku berjalan pulang sambil sesekali melap keringat yang bercucur dari sumber tak terlihat. Rasanya keringat itu bagaikan benda yang muncul tiba-tiba dari langit, layaknya kisah dalam film terminator 2. Sebuah sepeda motor hampir saja menabrak seorang ibu muda tepat di hadapanku. Aku terperanjat bersama pekikan dari orang-orang di sekitar. Akupun kembali ke tempatku. Rumah kamar.
Masih membekas diingatanku kala aku mem-posting sebuah cerpen di catatan facebook-ku. Ada berbagai macam tanggapan yang muncul dari mulut teman-temanku. Seorang teman yang tidak mau disebutkan namanya (rahasia, red) menyatakan dengan terang-terangan ingin membalas cerpenku dengan tulisannya yang katanya tak puitis. Bahkan ia telah menyiapkan judulnya Djho yang cerpenis. Berlebihan memang, padahal aku sangat direpotkan apabila menulis cerpen atau puisi dengan didahului oleh judul, lain halnya dengan dia.
Sebenarnya judul itu aku ceritakan pada dari komentar seorang dua teman. Teman yang satu ingin mengimbangiku dengan judul cerpen yang ingin di buatnya yaitu; djho yang berantakan, tapi teman yang lain menimpalinya dengan judul yang sama Cuma sedikit perubahan di akhir kalimatnya. Djho yang cerpenis. Aku menyesal telah menceritakan pada teman yang tidak mau disebutkan namanya itu. Ia bahkan telah menyiapkan puisi, amunisi dan rima (meminjam gaya dari hip-hop, red). Kata orang yang tak mau dituliskan namanya itu, ada beberapa cerita seru dan menggelikan yang telah dibumbuinya.
Aku terdiam. Kawan itu Cuma fiktif, kenapa mesti pusing dengan isinya. Mungkin bulan tak pernah lagi menerangi malam bila kau tuliskan itu, karena bulan tak mau bersahabat dengan kelam, dengan hitam saja. Di dunia ini Cuma ada terang. Tak ada hitam, karena hitam adalah bagian dari ketiadaan terang. Dan terang itu telah datang melingkupi kita. Dan terang itu ialah dia yang telah memberikan kita kehidupan kekal untuk menguasai dunia terang, karena kita adalah anak-anak terang. Apabila gelap datang melingkupimu. Pergilah ke hadapan terang, jauhlah dari gelap itu, karena dia hitam dan menakutkan. Tak ada hitam dan hitam itu bukan keindahan. Sadarkah engkau akan pelangi, pernahkah engkau melihat seberkas warna hitam???. Tahukah kamu akan bunga-bunga yang mengisyaratkan keindahan?? tak ada hitam di sana. Mengertikah kau akan coklat yang disukai gadis-gadis?? (karena jiwa mereka merupakan representative dari keindahan yang mutlak, teori sendiri..hehehee..) Cuma coklat warnanya bukan hitam. Untuk itu jangan kau berlaku seperti orang hitam. Berlakulah putih seperti jiwamu yang suci putih.
Aku meringis, ternyata aku baru saja menulis hanya untuk lontaran tak manis dari satu orang. Aku kemudian teringat akan kejadian sore tadi. Sore yang mendung. Seorang cewek, tiba-tiba memanggilku begitu melihat aku keluar dari ruangan kuliah. “mari ketong begosip ” katanya hendak melunturkan kodratku (karena lelaki benci gosip, red).
Seorang gadis manis yang sudah kulupa namanya (maaf, nanti kstw klo ketemu..hehee..) bercerita : ka djho, gara-gara pelangi di matamu tu, ketong sampai gila-gila ke tedis malam-malam. Senja yang merona merah, perlahan burung liar mencicit kembali ke sarang. Orang-orang sibuk sendiri dengan berbagai aktifitas mereka. Dua gadis manis tengah asyik mengunjungi jejaring sosial dunia maya. Mereka pun menemukan sebuah catatan yang oleh penulisnya disebut cerpen. Mereka asyik membaca catatan itu. Bahkan Susan, nama salah satu gadis itu seakan terhipnotis dengan kata-kata indah bak pujangga kenamaan Lebanon yang bermukim di Amerika. “mari kita mengejar senja” katanya mengajak teman di sebelahnya. Merekapun seolah terbius dengan pelangi di matamu untuk mengejar senja. Sampailah mereka di Tedi’s.
Banyak cerita menarik dan tanggapan negatif yang tidak sempat terekam di memori otakku. Aku berharap tak ada yang tersinggung denga tulisan-tulisanku, karena itu mutlak suara hantu. Aku terpaksa harus menutup kembali laptopku, kerena deringan handphoneku telah menginstruksikan aku agar segera mengembalikan adaptor laptop yang telah aku pinjam kemarin dari om tos.
Rumah kamar, 22 March 2011
Pukul ;18 :52

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, setelah membacanya.
Terima kasih