OTB

Kawan semangat bercerita tentang gadis manis yang baru dikenalnya. Yang membuatnya ingin mencubit pipinya, bahkan ingin menciumnya sampai lemas. Gadis yang sangat membuatnya gemas dengan kata-katanya. Oh..tidak bisa. Aku Cuma tersenyum sinis mendengar ceritanya. Tak apa kali ini biar dia merasa senang. Toh, hari-hari selalu aku bercerita. Tentang omong kosong dan bualan tak ada arti. Dan ia mendengar sambil ketawa, menampakan giginya yang tanggal satu. Setelah itu baru dia berkata “ boleh didengar tapi tak boleh dipercaya.” Lucu memang, setelah ketawa baru berkata demikian.

Dalam hati kecilku sebenarnya aku tidak percaya akan ceritanya. “ muntah do..” kataku, membuat semangatnya yang merah menyala padam seketika, bagai api yang diguyur hujan sehari. Aku tersenyum sinis padanya dan membuat darahnya berdesir cepat sampai ke ubun-ubun. Ia memarahiku, sambil mulut mengeluarkan sebuah kata sarat neraka. Kata yang harusnya enyah dari hadapan bumi. Frasa ciptaan “SPOK” dalam melayu kupang.

Cerita kawan mengembalikan memoriku tentang hal yang mungkin persis sama dengan yang pernah aku alami. Aku juga merasa tak percaya dengan apa yang baru kudengar di perpustakaan kampus tadi. Seorang gadis manis berkata persis yang diceritakan kawanku. Rasanya ingin kucubit pipinya yang montok, karena dia telah mengundang gemas. Kata yang tahu kenapa semua perempuan yang aku kenal mulai mengatakannya. Bahkan lelakipun ikut-ikutan yang membuat mereka kelihatan seperti waria baru jadi.

Tak sabar dalam hatiku, aku ingin terus mendengar kalimat itu. Ingin sekali bertemu dengannya. Selalu dan selalu untuk mendengar ucapanya tersebut. Padahal semua orang mengucapkannya, tapi kata yang keluar dari mulutnya terasa lain. Kalimat dengan tiga kata itu seolah jimat pembuat rindu yang sangat ampuh. Mampu menggetarkan isi dadaku untuk selalu mengharapkan kalimat itu datang lagi setiap kali bertemu.

Hampir setiap waktu kami sering berhadapan di kampus. Baik di lorong maupun di perpustakaan. Kalimat yang tiap hari aku dambakan tersebut tak pernah terlempar keluar dari mulutnya. Ia seolah diam tak bicara. Rasanya suara manusia di dunia ini terlampau mahal. Hanya sedikit senyum yang dipaksakan biar kelihatan ramah. Aku membalasnya dengan senyum yang begitu mereka, biar dia sadar bahwa bukan senyum itu yang aku inginkan. Tak perlu bibir tipis itu tersenyum, hanya mulut yang harus berujar kalimat itu.

Aku tak tahu harus bagaimana agar kata-kata itu kembali terujar setiap kali kami bertemu. Caraku seakan habis dipakai teman-teman yang selalu bertanya ketika hendak mendekati seorang gadis.seolah aku yang paling berpengalaman di sini padahal sejujurnya aku tak pernah memiliki hati seseorang seutuhnya. Mungkin sekedar pemuja rahasia, memuji sebagai canda dan juga mengagumi dari tempat yang jauh. Samar-samar. Bahkan seorang pernah berkomentar cinta samar-samar. Lucu memang, tapi aku seolah paling makan garam di hadapan teman-teman yang tidak tahu sama sekali tentang suasana hatiku. Ganteng-ganteng kog, jomblo, Batman menyindirku suatu hari ketika aku mengatainya jelek dan aku yang paling ganteng.

Aku mungkin telah kehilangan cara untuk membuat mulutnya menutur kalimat tersebut. Ya sudalah, aku meminjam judul lagunya Bondan and feat2black. Tapi kalimat itu hanya buat jiwa raga yang sudah kalah. Buat mereka seperti pecundang menyerah kalah, 8ball menimpaliku di lain kesempatan. Aku jadi serba salah. Tak ada lagi yang harus dibahas jika engkau harus menyerah, karena hati bukan bunga, ia tidak pernah layu maupun mati, tapi bertambah bijak, seorang teman mengirimi aku sms demikian.

Pagi tadi aku sempat melihatnya dari kejauhan. Tak ada tatapan mata yang saling beradu. Tidak jua bertukar senyuman. Hanya memandang dari kejauhan dan membiarkan semuanya berjalan dari kejauhan sehingga benar-benar jauh. Aku menerawang dan merana sedang kamu menderaku dengan rasa. Mungkin aku harus jujur pada pemilik hati itu. Buat dia tersenyum, dan berkata kalimat itu “ Oh.. Tidak Bisa” OTB.



Saat mulut dari bibir mungil mengatakannya…

Cozt, Midnight 5 April 11

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, setelah membacanya.
Terima kasih