KABUT PAGI KEPI

“Selesai ujian semester ganjil, engkau harus pulang. Pulang. Banyak masalah di kampung yang harus engkau ketahui, engkau mengerti dan selesaikan. Lihat kakak-kakakmu serta Bapa Mama. Mereka tidak pedulikan saya lagi. Saya harus bagaimana ini. Engkau yang lebih mengerti. Tolong e, ade.” Kalimat panjang beruntun dari kakaku membuat aku hanya mengiyakan. Lalu meletakan kembali handphone yang telah dimatikan oleh penelpon dari sebrang sana. Ia bercerita sambil terisak. Mungkin air matanya telah membasahi putih pipinya. Ia tengah berbadan dua. Aku tak mau masalah ini membuat hatinya hancur, pikirannya buntu dan berimbas ke calon bayinya, ponakanku juga. Kira-kira beginilah implementasi sedikit ilmu yang kudapati. Jangan membuat wanita hamil berkutat dengan pikirannya. Beribu kalimat yang pernah diucapkan lewat telepon kembali terngiang.
Biar sudah kamu. Tidak usah hiraukan saya lagi.
Kak Yoni begitu, hans begitu, Venta apalagi…
Pikirannya seperti bapa dan mama di kampung.
Mereka terlalu memikirkan harta.
Saya merasa mereka lebih menyayangi yoni.
Karena yang memberikan ngawu untuk bapa.
Untuk keluarga. Dan saya…
Saya tidak punya apa-apa.
Bapa sudah tagih uang sapi……
*****
Aku termenung di atas kapal. Suara dari mikrophone memberitahukan bahwa KM. Awu akan berlabuh di pelabuhan Ipi Ende. Aku bergegas menyiapkan tasku. PC yang kugunakan untuk bermain zuma, kumatikan dan membiarkannya bersemayam damai di dalam tas. Seorang lelaki berambut merah tersenyum padaku. Aku tersadar dari hiruk pikukku dan membalas senyumnya. Kuulurkan tangan menyalaminya. Ia meraihnya dengan erat. Dia adalah kakak semester yang di juga sama-sama di Vox Gaudentia Choir. Dan sekarang bekerja di sebuah LSM Internatioanal di Kota Maumere.
Semua berebut tempat menuruni tangga kapal. Seorang cewek berjilbab yang dari kemarin bersebelahan tempat denganku di dek tiga tesenyum. Aku membalas. Ternyata senyumnya hanya sebagai pelumas untuk meminta bantuanku. Aku tersadar telah dibodohi sebuah senyum. Kubimbing dia dari belakang, berlagak sebagai lelaki penuh pengertian. Ia sekali-kali melirik ke belakang. Mungkin takut tasnya dibawa kabur, pikirku. Ia meminta tas, yang katanya berisi laptop ketika bertemu mamanya. Aku lalu bergegas meninggalkannya. Mencari adikku yang datang menjemput.
Mata terus kuawasi kiri dan kanan. Aku tak sabar, lalu menelponnya. Suara lain yang menjawab. Diberitahu tempatnya menunggu. Seorang menepuk punggungku dari belakang. “terima kasih kak.” Nona berjilbab itu lagi. Rupanya tadi ia lupa mengucapkannya. Aku merasa lucu juga. Sudah berlalu sekitar tujuh menit tetapi ia kembali. Kutemui adikku dan temannya, kemudian kami membela dinginya malam Kota ke kontarakan yang disewa kakakku untuk adik dan kakakku.
Deru Madani meninggalkan asap di belakangnya. Sebuah truck hasil modifikasi menjadi bus untuk armada penumpang. Kata orang-orang di situ “Bis Kayu” raungan bis kayu Madani menderu bagaikan lolongan keletihan. Tanjakan yang berkelok terus didaki. Jalanan aspal yang berlobang-lobang bekas peninggalan pembangunan orde baru. Pemerintah di era reformasi sekarang sudah melupakan semua janji kampanyenya. Mereka lebih mementingkan meroformasikan semua sistem yang ada. Melakuakan berbagai mutasi di setiap bidang dan instasi. Mungkin para pembuat kebijakan takut dengan kepala-kepala yang isinya tak sepaham.
Aku memilih duduk di tengah para penumpang. Sengaja menghindari rambut dan wajah dari terpaan debu jalanan. Rasanya tak sabar lagi untukku tiba di rumah. Melihat senyum mamaku yang tidak pernah kumemanggilnya mama,karena dari kecil aku memanggilya dengan menyebut namanya. Juga menatap kurus legamnya bapaku. Sesosok ayah pekerja keras dan juga keras dalam caranya mendidik kami. Didikan denagn amarah dan rotan yang selalu bersama. Sungguh, didikan yang tak pernah aku pahami sampai sekarang. Yang jelas beliau hanya ingin kami menjadi orang yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain.
Malam yang agak sunyi. Aku masuk kembali ke rumah setelah puas menatap bintang dan teduhnya sinar rembulan. Aku membuaka pembicaraan setelah makan malam. “Begini ema, saya hanya berusaha demi kalian. Kamu yang masih sekolah.” Bapaku membela diri, ketika aku menghakiminya. “tapi dia anak bapak juga. Bapak jangan berbuat seolah-olah mebeda-bedakan anak dengan porsi kasihsayang yang berbeda.” Darahku sedikit mendidih. Aku beranjak meninggalkannya. Pergi tidur.
Baba gera kai karna kai mbeta tana ema.
Baba sambuna tazo ka, jadi baba mete pa kai na.
SK kai gade mbeta tana.
Mbeja na kai aki..
Baba kasia miu ana aki sakola zetu.
Sapi tau uta nua na, sapi kita.
Ebe sepu, ebe janji wi baya, jadi baba simo.
Kata-kata dari kakakku venta di Ende tadi kembali mengusik batok kepalaku. Mengapa mereka harus berbuat begini. Apakah merekah tidak sadr di sini ada yang tersakiti. Aku jadi tidak mengerti dengan semua kata-kata orang tua dan kakak-kakakku. Aku harus berpihak pada siapa?. Tidak. Aku tak mau berpihak. Netral, biar aku yang akan menyatukan perbedaan ini. Harta tidak menjadi satu-satunya yang paling berharga dalam hidup ini. Di bumi ini. Cuma keluarga dan kebersamaan yang harus tetap menjadi latar utama. Tak ada yang lebih indah selain senyum di setiap wajah dengan sumringah.
*****
Aku tersadar ketika kumerasakan tetes-tetes bening membasahi pipiku. Betapa rumitnya kehidupan keluargaku. Sungguh lakon kehidupan yang penuh intrik. Aku memiliki bapa berwatak keras berjiwa pemimpin tapi kadang kurang bijak. Mamaku yang agak cerewet dan kadang sering mengalah dengan kami anak-anaknya. Aku memiliki kakak perempuan pertamaku yang sedikit egois dan superior. Kakak perempau keduaku yang mempunyai visi ke depan tapi rapuh. Kakak ketigaku kurang aku pahami karakternya karena ia tidak bersama kami sejak kecil. Kakak keempatku yang cerewet tapi dewasa. Adik bungsuku yang cuek tapi sebenarnya sangat peduli. Dan aku…ah, aku tak mengerti diriku. Tetangga kostku mampir. Menertawakanku karena berderai air mata. “anak rapper ko menangis.” Kilahnya lalu pergi setelah membaca sedikit cerita ini. Dari hati kecilku berharap agar senyum selalu menghiasi bibir mereka. Orang yang kusayangi. Keluargaku. Tak butuh pertentangan, hanya karena membicarakan harta atau apapun yang duniawi. Tak tahukah mereka bahwa, aku kadang makan satu hari sekali?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, setelah membacanya.
Terima kasih