Pembuatan Abate Alamiah Dari Ekstrak Tomat (Solanum lycopersicum L)

Judul : “ Pembuatan Abate Alamiah Dari Ekstrak Tomat (Solanum lycopersicum L)”.


A. Latar belakang
Indonesia merupakan daerah endemis malaria di mana banyak kasus terjadi dan meningkat secara signifikan .Malaria adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh protozoa dari genus Plasmodium melalui gigitan nyamuk Anopheles sp. Malaria dapat menimbulkan beban sakit dan kematian serta menimbulkan dampak buruk terhadap sosial ekonomi masyarakat, khususnya bagi penduduk miskin di daerah endemis malaria (Depkes RI, 2003).
Secara nasional, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan propinsi dengan angka kesakitan malaria tertinggi. Data Depkes RI tahun 2005 menunjukkan bahwa NTT memiliki kasus malaria tertinggi di Indoneisa, sedangkan pada tahun 2006 NTT memiliki kasus tertinggi kedua di Indonesia setelah Papua. Pada tahun 2006, AMI (Anual Malaria Incident) di NTT sebesar 145, 43 per 1.000 prang per tahun dan API (Anual Parasite Incident) sebesar 29,56 per 1.000 orang per tahun. Tahun 2007, AMI di NTT sebesar 119 per 1.000 orang per tahun dan API sebesar 29,08 per 1.000 orang per tahun. Tahun 2008, AMI di NTT sebesar 83,2 per 1.000 orang per tahun dan API sebesar 25,9 per 1.000 orang per tahun (Dinkes Prop. NTT, 2009).
Berdasarkan data yang ada maka telah dilakukan berbagai upaya untuk memberantas penyakit malaria tersebut, mulai dari pengobatan penderitanya, pemberantasan pada vektornya yakni nyamuk Anopheles sp, sampai memanipulasi lingkungan sedemikian mungkin agar tidak terjadi perkembangbiakan vektor malaria pada lingkungan tersebut. Akan tetapi, sampai saat ini malaria masih merupakan masalah kesehatan di masyarakat dan kejadiannya semakin meningkat setiap tahun. Hal ini karena dipengaruhi oleh faktor yang beragam dan sangat kompleks (Depkes RI, 1999).
Pemberantasan penyakit malaria dapat dilakukan dengan memberantas vektornya baik pada stadium dewasa maupun pada stadium jentik. Pada stadium dewasa umumnya masyarakat menggunakan obat nyamuk semprot, bakar, dan oles yang banyak dijual bebas. Menurut Soeroto dalam Kurniasih (2006) bahwa penggunaan obat nyamuk harus berhati-hati karena pada umumnya obat nyamuk mengandung bahan aktif yang berbahaya dari insektisida pembunuh serangga. Dampak dari penggunaan insektisida sintetis ini yaitu dapat menimbulkan bau yang dapat menyebabkan sesak napas, menyebabkan alergi pada kulit, menimbulkan kerusakan hati, dan menekan produksi sel darah di sumsum tulang sehingga akan berpengaruh pada kesehatan. Sedangkan pada stadium jentik dapat menggunakan larvasida baik itu sintetis maupun alamiah. Pemakaian insektisida yang berulang dan terus menerus dalam waktu yang lama dapat menyebabkan resistensi pada vektor (Imansyah, 2006).
Mencermati berbagai dampak maupun risiko penggunaan insektisida sintetis, maka perlu dicari cara lain yang lebih ekonomis, tidak menimbulkan dampak terhadap manusia tetapi dapat bermanfaat untuk pemberantasan vektor. Oleh karena itu, penggunaan insektisida nabati atau botanik yang bersifat alamiah merupakan salah satu alternatif yang perlu dipertimbangkan (Nugroho, 2008).
Insektisida nabati dalam pengendalian vektor umumnya dilakukan pada stadium jentik (larvasida). Sejak pertama kali dirintis oleh Champbell dan Sulivan pada tahun 1933, hingga kini telah banyak penelitian yang menguatkan bahwa bahan tanaman tertentu ternyata memiliki zat beracun bagi serangga. Salah satu tanaman tersebut yaitu tomat.
Tomat (Solanum lycopersicum L) mudah diperoleh karena sangat dekat dengan kehidupan masyarakat, mudah dikembangkan karena tanaman ini dapat hidup di segala musim, dan mudah diekstraksi secara sederhana. Tomat memiliki buah yang mengandung senyawa alkaloida (senyawa yang bisa bersifat racun dan menggagalkan proses metamorfosis) dan saponin (senyawa aktif yang bersifat seperti sabun) yang dapat berfungsi sebagai larvasida (Yulianti, 2007).
Daerah NTT terkenal sebagai daerah semiarid memiliki banyak potensi tanaman lokal lahan kering. Salah satunya adalah jenis tanaman holtikultura yakni tomat. Tanaman ini menyebar hampir di seluruh kabupaten di NTT walau masing-masing daerah memiliki kekhasan potensi sesuai kondisi agroklimat. Tanaman ini dapat dijadikan sebagai sumber pangan untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi masyarakat sebagai bagian mewujudkan ketahanan pangan masyarakat di daerah ini (Levis, 2009).
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Bina Produksi (2007), produksi tomat di NTT tiap tahun mengalami peningkatan yakni dari tahun 2002-2006. Hal ini didukung oleh data dari Indonesia Tanah Airku (2007), menyatakan pada tahun 2004, lima sayuran dengan produksi tertinggi adalah sawi, terung, bawang, dan tomat. Sedangkan pada tahun 2005 kacang tanah menduduki peringkat pertama, sementara tomat produksi tertinggi. Ketika produksi tomat melimpah dan tidak laku di pasaran maka tomat akan rusak. Hal ini karena tomat merupakan komoditi pertanian yang cepat rusak. Dengan demikian, perlu adanya upaya pemanfaatan tomat selain sebagai sayuran juga dapat digunakan sebagai larvasida nabati untuk membasmi jentik nyamuk.
Penelitian menggunakan ekstrak buah tomat pernah dilakukan oleh Nugroho tahun 2008 dengan menggunakan sampel jentik Anopheles aconitus instar III dengan jumlah 20 ekor pada tiap dosis dan perlakuan dengan masing-masing pengulangan 3 (tiga) kali. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ekstrak buah tomat mampu membunuh jentik nyamuk tersebut.



B. Rumusan masalah
Rumusan masalah yang diangkat adalah ‘‘ Bagaimana cara pembuatan abate alamiah dari ekstrak tomat’’

C. Tujuan
Tujuan dari program ini adalah mengembangkan inovasi teknologi dengan pembuatan abate alamiah sebagai insektisida nabati untuk memberantas jentik nyamuk Anopheles sp dari ekstak tomat.

D. Luaran yang diharapkan
Luaran yang diharapkan dari program ini adalah hasil kreatifitas inovasi dalam teknologi dengan menciptakan abate sebagai insektisida nabati.Program ini juga sesuai dengan basic ilmu yang tim geluti yaitu ilmu kesehatan masyarakat dimana keterkaitan dengan program ini adalah merupakan salah satu upaya tindakan preventif terhadap penyakit malaria.

E. Kegunaan
Kegunaan dari program ini adalah :
 Pendayagunaan sumber daya alam yang ada secara tepat guna.
 Menjadi solusi tepat dalam mengurangi penggunaan bahan kimia dan usaha ramah lingkungan dalam menekan prevalensi malaria.
 Menambah khazanah ilmu serta menjadi acuan dan referensi dalam bidang kesehatan.
 Menekan biaya dalam usaha pemberantasan vector baik biaya yang dikeluarkan oleh perorang,NGO atau pemerintah (APBN,APBD)
 Menekan angka prevalensi malaria.


F. Tinjauan pustaka
1. Tinjauan Tentang Nyamuk Anopheles sp.
1.1. Deskripsi
Menurut Prabowo (2004), malaria pada manusia hanya dapat ditularkan oleh nyamuk Anopheles sp. betina. Dari 400 spesies Anopheles di dunia, hanya sekitar 67 yang terbukti mengandung sporozoit dan dapat menularkan malaria. Di setiap daerah dimana terjadi transmisi malaria biasanya hanya ada satu atau paling banyak tiga spesies Anopheles yang menjadi vektor penting. Di Indonesia telah ditemukan 24 spesies Anopheles yang menjadi vektor malaria (Harijanto, 2000). Sedangkan 7 (tujuh) spesies di antaranya ditemukan di daerah NTT yakni 3 (tiga) spesies sebagai vektor utama dan 4 (empat) spesies sebagai vektor sekunder (Ndoen, 2006).
Nyamuk Anopheles sp. hidup terutama di daerah tropik dan subtropik, namun bisa juga hidup di daerah beriklim sedang dan bahkan di daerah Antartika. Anopheles sp. jarang ditemukan pada ketinggian 2000-2500 m, sebagian Anopheles sp. ditemukan di dataran rendah (Prabowo, 2004).
Menurut Gunawan dalam Harijanto (2000), nyamuk Anopheles sp. betina menggigit antara waktu senja dan subuh, dengan jumlah yang berbeda-beda menurut spesiesnya. Kebiasaan makan dan istirahat nyamuk Anopheles sp. dapat dikelompokkan menjadi:
a. endofilik : suka tinggal dalam rumah/bangunan
b. eksofilik : suka tinggal di luar rumah
c. endofagi : menggigit dalam rumah/bangunan
d. eksofagi : menggigit di luar rumah/bangunan
e. antroprofili : suka menggigit manusia
f. zoofili : suka menggigit binatang.
Jarak terbang nyamuk Anopheles sp. adalah terbatas, biasanya tidak lebih dari 2-3 km dari tempat perindukannya. Bila ada angin yang kuat nyamuk Anopheles sp. bisa terbawa sampai 30 km. Nyamuk Anopheles sp. dapat terbawa pesawat terbang atau kapal laut dan menyebarkan malaria ke daerah yang non-endemik (Harijanto, 2000).
1.2. Siklus kehidupan (life cycle) nyamuk Anopheles sp.
Seperti nyamuk pada umumnya, maka siklus hidup Anopheles sp. melalui empat tahap, yakni telur, jentik, kepompong, dan dewasa. Menurut Bruce-Chwatt (1985), perkembangan nyamuk Anopheles sp. mengalami metamorfosis sempurna dimana telur, jentik, dan kepompong hidup di air sekitar 10-14 hari pada kondisi tropis, sedangkan stadium dewasa hidup di udara bebas sekitar 5-14 hari sesuai dengan jenis dan suhu udara. Nyamuk Anopheles sp. betina dapat hidup sampai satu bulan, tetapi sering hidupnya tidak lebih dari satu sampai dua minggu. Biasanya memerlukan waktu sekitar satu minggu dari telur untuk berkembang menjadi nyamuk dewasa (Harijanto, 2000).




(Sumber: Kakkilaya, 2006)
Gambar 1. Metamorfosis nyamuk Anopheles sp.

1.3. Tata hidup nyamuk Anopheles sp.
Menurut Iskandar (1985) dalam Riwu (2007), layaknya nyamuk pada umumnya, Anopheles sp. dalam kehidupannya mempunyai tiga macam tempat yaitu tempat untuk berkembang biak (breeding places), tempat untuk mendapatkan darah (fleeding places), dan tempat untuk beristirahat (resting places).
a. Tempat untuk berkembang biak (breeding places)
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, siklus hidup nyamuk Anopheles sp. mempunyai empat stadium yaitu: telur, jentik, kepompong, dan nyamuk dewasa. Stadium telur, jentik, dan kepompong berada dalam air dan tempat yang mengandung air tersebut dinamakan “breeding places”. Tipe-tipe breeding places yang disenangi Anopheles sp. untuk berkembang biak bermacam-macam tergantung spesies Anopheles yang bersangkutan.
Menurut Iskandar (1985) dalam Riwu (2007), macam-macam breeding places Anopheles sp. antara lain sebagai berikut:
1) Berdasarkan kadar garam dari air, dibedakan atas:
a) Air payau yaitu campuran air tawar dengan air laut. Breeding places air payau antara lain seperti tambak-tambak ikan pantai, dan muara sungai yang sedang menutup. Anopheles sp. yang senang berkembang biak di air payau antara lain: An. sundaicus, An. vagus, dan An. subpictus.
b) Air tawar. Breeding places air tawar masih dibedakan lagi atas macam-macam tipe dan kebanyakan nyamuk Anopheles sp. senang berkembang biak di air tawar.
2) Berdasarkan keadaan sinar matahari, dibedakan atas:
a) Breeding places yang langsung mendapat sinar matahari diantaranya lebih disenangi oleh jenis An. sundaicus dan An. maculatus.
b) Breeding places yang terlindung dari sinar matahari lebih disenangi oleh jenis An. vagus, An. umbrocus, dan An. barbumbracus.
3) Berdasarkan aliran air, dibedakan atas:
a) Air tidak mengalir seperti kobokan, bekas-bekas tapak kaki yang kemasukan air, bekas-bekas roda yang kemasukan air dan lain jenisnya. Tempat-tempat tersebut digunakan untuk berkembang biak oleh An. vagus, An. indefinitus, dan An. lueucosphirus.
b) Air yang tenang atau sedikit mengalir seperti sawah, disenangi oleh banyak jenis Anopheles, misalnya: An. aconitus, An. vagus, An. barbirostris, An. indefenitus, dan An. anullaris.
b. Tempat untuk mendapatkan darah (fleeding places)
Berdasarkan kesenangan mencari darah, dikenal dua golongan nyamuk yaitu:
1) Nyamuk yang senang mencari darah manusia.
2) Nyamuk yang senang mencari darah binatang.
Kebanyakan nyamuk di Indonesia kesenangan ini bersifat mutlak. Artinya meskipun nyamuk tersebut bersifat senang menggigit binatang, akan tetapi jika tidak ada binatang maka nyamuk tersebut akan menggigit manusia, seperti An. aconitus (Riwu, 2007).
Waktu keaktifan mencari darah bagi nyamuk Anopheles sp. berbeda-beda. Baik nyamuk yang aktif pada malam hari maupun siang hari, tiap jenis mempunyai kebiasaan yang berbeda-beda pula. Ada golongan nyamuk yang banyak menggigit pada siang hari dan makin berkurang pada malam hari seperti An. aconitus. Ada yang mulai menggigit setelah tengah malam sampai pagi seperti An. icucosphyrus. Ada juga yang menggigit sepanjang malam seperti An. sundaicus dan An. subpictus (Riwu, 2007).
Berdasarkan perilaku waktu aktif mencari darah pada malam hari, Anopheles sp. digolongkan atas:
1) Nyamuk masuk rumah, langsung menggigit, kemudian langsung meninggalkan rumah.
2) Nyamuk masuk rumah, hinggap di dinding kemudian baru menggigit yang akhirnya meninggalkan rumah.
3) Nyamuk masuk rumah, langsung menggigit kemudian hinggap di dinding baru meninggalkan rumah.
4) Nyamuk masuk rumah, hinggap di dinding kemudian menggigit, hinggap di dinding lagi setelah itu baru meninggalkan rumah.

c. Tempat untuk beristirahat (resting places)
Setelah nyamuk betina menggigit manusia atau binatang sampai perutnya penuh darah, nyamuk akan pergi ke resting places. Nyamuk akan beristirahat di resting places selama 2-3 hari untuk iklim Indonesia. Kemudian setelah telur matang nyamuk ke breeding places untuk bertelur. Tempat istirahat nyamuk Anopheles sp. dapat bersifat di dalam rumah atau di luar rumah (alam bebas). Resting places di luar rumah dapat bersifat alamiah seperti gua-gua, tebing sungai/parit, dan semak-semak; resting places buatan seperti pit traps yaitu lubang-lubang dalam tanah yang sengaja dibuat untuk beristirahat (Riwu, 2007).
1.4. Upaya pemberantasan malaria
Program pemberantasan malaria dapat didefinisikan sebagai usaha terorganisasi untuk melaksanakan berbagai upaya menurunkan penyakit dan kematian yang diakibatkan malaria, sehingga tidak menjadi masalah kesehatan utama. Tujuan pemberantasan malaria adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian sedemikian rupa sehingga penyakit ini tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat (Harijanto, 2000).
Menurut Gunawan dalam Harijanto (2000), berbagai kegiatan yang dapat dijalankan untuk mengurangi malaria adalah:
a. Menghindari atau mengurangi kontak/gigitan nyamuk Anopheles sp. (pemakaian kelambu, penjaringan rumah, repelen, dan sebagainya).
b. Membunuh nyamuk dewasa (menggunakan berbagai insektisida).
c. Membunuh jentik (kegiatan antilarva) baik secara kimiawi (larvasida) maupun biologik (ikan, tumbuhan, jamur, dan bakteri).
d. Mengurangi tempat perindukan (source reduction).
e. Mengobati penderita malaria.
f. Pemberian pengobatan pencegahan (profilaksis).
Konverensi malaria global yang dihadiri oleh semua menteri kesehatan di dunia yang diadakan di Amsterdam pada tahun 1992 telah menetapkan Strategi Global Pemberantasan Malaria, sebagai berikut:
a. Menyediakan diagnosis dini dan pengobatan tepat.
b. Merencanakan dan melaksanakan upaya preventif yang selektif dan berkesinambungan termasuk pengendalian vektor.
c. Menemukan secara dini, menanggulangi atau mencegah wabah malaria.
d. Meningkatkan kemampuan lokal di bidang penelitian dasar dan terapan agar dimungkinkan terlaksananya penilaian keadaan malaria secara tepat, khususnya faktor ekologis dan sosial ekonomik penyakit malaria.
Dengan demikian diharapkan para pengelolah kesehatan di setiap tingkat harus dapat menyesuaikan strategi ini pada tingkat lokal dan mendapat pendidikan tambahan untuk menghadapi malaria secara efektif. Salah satu upaya yang mendukung pemberantasan malaria adalah melakukan penelitian yang berkaitan dengan kegiatan antilarva (Harijanto, 2000).
Berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk memberantas perkembangan vektor malaria adalah sebagai berikut:
a. Pengolahan/manipulasi lingkungan
Prinsip manipulasi lingkungan adalah mengusahakan agar kondisi lingkungan tidak/kurang disenangi oleh nyamuk. Hal ini mengakibatkan proses perkembangan nyamuk terganggu dan nyamuk tidak mempunyai kesempatan untuk menularkan penyakit kepada manusia (Depkes RI, 1999).
Pada stadium dewasa dapat dilakukan manipulasi lingkungan dengan cara menambah pencahayaan ruangan, mengurangi tanaman perdu, tidak membiasakan menggantung pakaian di kamar, dan memasang kawat kasa. Sementara pada stadium jentik dapat dilakukan manipulasi tempat-tempat perindukan dengan tujuan menghalangi nyamuk untuk meletakkan telurnya atau menghalangi proses pembiakan nyamuk (Depkes RI, 1999).

b. Pemberantasan secara kimia
Upaya ini dilakukan dengan memakai bahan-bahan kimia sintetis untuk membunuh nyamuk dewasa maupun jentik. Untuk nyamuk dewasa dilakukan dengan cara penyemprotan (fogging), sedangkan jentiknya dibasmi dengan menggunakan larvasida. Dalam penggunaan bahan kimia tersebut harus mempertimbangkan kerentanan terhadap pestisida yang digunakan, bisa diterima oleh masyarakat, aman terhadap manusia, dan organisme lainnya (Depkes RI, 1999).
c. Pemberantasan secara biologi
Berbeda dengan kedua metode di atas, pemberantsan secara biologi menggunakan predator/pemangsa sebagai musuh alami nyamuk. Untuk jentik biasanya menggunakan beberapa jenis ikan pemakan jentik seperti ikan kepala timah (Aplocheilus panchax) dan ikan guppy (Poecilia reticulata) atau ikan seribu (Depkes RI, 1999).
d. Pemberantasan terpadu
Merupakan aplikasi dari ketiga cara di atas, yang dilakukan secara tepat dan terpadu dengan kerjasama lintas program maupun lintas sektor serta mengaktifkan peran serta masyarakat (Depkes RI, 1999).
e. Pemberantasan genetika
Pemberantasan ini dilakukan dengan cara pemandulan nyamuk jantan, kemudian nyamuk tersebut dilepas ke habitatnya sehingga tidak terjadi perkembangbiakan. Walaupun demikian, metode ini jarang digunakan karena sulit diukur tingkat keberhasilannya (Depkes RI, 1999).
f. Pemberantasan Legislatif
Pemberantasan ini dilakukan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ada di setiap daerah. Untuk Provinsi NTT mengacu pada Peraturan Daerah Nomor 03 Tahun 2005 tentang pemberantasan nyamuk (Pemerintah Provinsi NTT, 2005).
2. Buah Tomat (Solanum lycopersicum L)
a. Deskripsi tomat
Bagi masyarakat kita, tomat sudah tidak asing lagi. Hampir semua orang pasti sudah mengenal tanaman ini. Dalam kehidupan sehari-hari tomat memegang peranan yang penting, terutama bagi ibu-ibu rumah tangga. Mereka sering menggunakan tomat dalam masakan (Tugiyono, 2007).
Tomat sangat penting bagi kehidupan khususnya untuk mengatasi masalah kesehatan. Oleh karena itu, sudah selayaknya apabila tomat ditanam dan dikembangkan lebih lanjut. Menanam tomat dapat dilakukan oleh siapa saja karena tanaman tomat hanya membutuhkan perawatan yang relatif sedikit. Sehingga akan lebih bijaksana apabila setiap keluarga melakukan penanaman sayuran buah ini. Selain dapat menghemat uang belanja, banyak sekali manfaat tomat dalam aspek kesehatan (Tugiyono, 2007).
Bagi keluarga yang tidak mempunyai pekarangan yang luas, tanaman ini dapat ditanam di pot-pot seperti layaknya orang menanam bunga. Perlakuan tanaman yang di pot sama dengan yang di kebun. Bahkan dalam perkembangan teknologi pertanian saat ini tanaman tomat dapat dibudidayakan secara hidroponik, yaitu suatu teknik bertanam tanpa menggunakan tanah. Budidaya secara hidroponik ini dapat dilakukan oleh orang yang tidak memiliki lahan yang luas (Tugiyono, 2007).
b. Sejarah dan klasifikasi tomat
Menurut tulisan karangan Andrew F. Smith “The Tomato in America”, tomat kemungkinan berasal dari daratan tinggi pantai barat Amerika Selatan (Peru, Ekuador, dan Bolivia). Setelah Spanyol menguasai Amerika Selatan, mereka menyebarkan tanaman tomat ke koloni-koloni mereka di Karibia. Spanyol juga kemudian membawa tomat ke Filipina pada tahun 1571 yang menjadi titik awal penyebaran ke daerah lainnya di seluruh benua Asia. Masuknya tanaman tomat ke Indonesia diduga pada tahun 1811. Spanyol juga membawa tomat ke Eropa. Tanaman ini tumbuh dengan mudah pada wilayah beriklim mediterania (Puspita, 2008).
Menurut Tugiyono (2007), dalam klasifikasi tumbuhan, tanaman tomat termasuk kelas Dicotyledoneae (berkeping dua). Secara lengkap klasifikasi tomat sebagai berikut:
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Divisi : Spermatophyta (tanaman berbiji)
Subdivisi : Angiospermae (biji berada di dalam buah)
Kelas : Dicotyledoneae (biji berkeping dua)
Ordo : Tubiflorae
Famili : Solanaceae (suku terung-terungan)
Genus : Solanum
Spesies : Solanum lycopersicum L.
c. Karakteristik tomat
Tomat yang oleh para ahli botani disebut sebagai Solanum lycopersicum L syn. Lycopersicum esculentum Mill, merupakan tanaman dari famili Solanaceae, yaitu berbunga seperti terompet. Tomat termasuk tanaman setahun (annual) yang berarti umurnya hanya untuk satu kali periode panen. Tanaman ini berbentuk perdu atau semak dengan panjang bisa mencapai dua meter. Oleh karena itu, tanaman tomat perlu diberi penopang atau ajir dari turus bambu atau turus kayu agar tidak roboh ke tanah tetapi tumbuh secara vertikal (Cahyono, 2008).
Bentuk daunnya bercelah menyirip tanpa daun penumpu (stippelae). Jumlah daunnya ganjil, antara 5-7 helai. Di sela-sela pasangan daun terdapat 1-2 pasang daun kecil yang berbentuk delta. Bentuk batangnya segi empat sampai bulat. Warnanya hijau dan mempunyai banyak cabang. Akarnya tunggang dengan akar samping yang menjalar di seluruh permukaan atas. Bunganya berjenis dua dengan 5 (lima) buah kelopak berwarna hijau berbulu dan 2 (dua) buah daun mahkota berwarna kuning. Hampir semua bagian tanaman tomat berbulu halus bahkan ada yang tajam, kecuali pada akar dan mahkota (Tugiyono, 2007).
Bentuk, warna, rasa, dan tekstur buah tomat sangat beragam. Ada yang berbentuk bulat, bulat pipih, keriting, atau seperti bola lampu. Warna buah masak bervariasi dari kuning, orange, sampai merah, tergantung dari jenis pigmen yang dominan. Rasanya pun bervariasi, dari masam hingga manis. Buahnya tersusun dalam tandan-tandan. Keseluruhan buahnya berdaging dan banyak mengandung air.







(Sumber: Sutomo, 2008)
Gambar 12. Buah tomat Solanum lycopersicum L
d. Jenis tomat
Menurut Tugiyono (2007), bentuk tomat bermacam-macam. Ada yang bulat, bulat pipih, dan ada pula yang berbentuk seperti bola lampu. Buahnya tersusun dalam tandan-tandan. Keseluruhan buahnya mengandung air dalam jumlah yang banyak. berdasarkan bentuk buahnya, tanaman tomat komersial dapat dibedakan dalam beberapa tipe sebagai berikut:
1) Tomat biasa (Lycopersicum commune)
Bentuk buahnya bulat pipih, lunak, tidak beraturan, dan sedikit beralur di dekat tangkainya. Jenis tomat ini sangat cocok ditanam di daerah dataran rendah.
2) Tomat apel (Lycopersicum pyriforme)
Bentuk buahnya bulat, padat, dan sedikit keras menyerupai buah apel (peer). Tanaman ini sangat cocok ditanam di daerah pegunungan.
3) Tomat kentang (Lycopersicum grandifolium)
Buah berbentuk bulat, besar, padat, dengan ukuran lebih kecil dari tomat apel, dan daunnya lebar-lebar.
4) Tomat keriting (Lycopersicum validum)
Buah berbentuk agak lonjong dan keras seperti alpukat atau pepaya yang dikenal tipe “roma”. Tomat ini disebut tomat gondol, yang disenangi karena kulitnya tebal. Daunnya rimbun keriting seperti terserang virus keriting dan berwarna hijau kelam.
Berdasarkan warna buah muda, tanaman tomat dapat dibedakan dalam beberapa tipe sebagai berikut:
1. Berbuah hijau merata.
2. Berbuah hijau keputih-putihan merata.
3. Berbuah hijau tua pada pangkal dan hijau muda sampai hijau keputih-putihan pada bagian lainnya (greenshoulder).
Berdasarkan warna buah yang telah masak, tomat dibedakan menjadi 3 (tiga) tipe sebagai berikut:
1. Berbuah merah tua.
2. Berbuah merah kekuning-kuningan sampai kuning.
3. Berbuah merah jambu (pink).
Berdasarkan ukuran dan bentuknya, tomat dikelompokkan sebagai berikut (Rukmana, 1994; Anonim, 2005):
1) Granola yang bentuknya bulat dengan pangkal buah mendatar dan mencakup yang biasanya dikenal sebagai tomat buah (karena dapat dimakan langsung).
2) Gondol yang biasa dibuat saus dengan bentuk lonjong oval (biasanya yang ditanam di Indonesia adalah kultivar “Gondol Hijau” dan “Gondol Putih”, dan keturunan dari kultivar impor “Roma”) dan termasuk pula tomat buah.
3) Sayur adalah tomat dengan buah biasanya padat dan dipakai untuk diolah dalam masakan.
4) Ceri (tomat ranti) yang berukuran kecil dan tersusun berangkai pada tangkai buah yang panjang.
e. Tomat sebagai bioinsektisida










(Sumber: Sutomo, 2008)
Gambar 13. Berbagai jenis tomat
Keistimewaan buah tomat adalah tingginya kandungan likopen. Selain memberikan warna merah pada buah tomat, likopen terbukti efektif sebagai zat antioksidan. Likopen juga dapat menurunkan risiko terkena kanker, terutama kanker prostat, lambung, tenggorokan, dan usus besar. Kandungan asam klorogenat dan asam p-kumarat di dalam tomat mampu melemahkan zat nitrosamin penyebab kanker. Vitamin A yang terkandung di dalam tomat sangat baik untuk kesehatan mata (Sutomo, 2008).
Tomat juga banyak dimanfaatkan di dalam industri kecantikan, banyak masker dan pil anti penuaan yang berbahan dasar tomat. Bukan tanpa alasan, pigmen likopen memang terbukti efektif sebagai antioksidan. Zat lain seperti tomatin di dalam tomat bersifat sebagai antiinflamasi, yaitu dapat menyembuhkan luka dan jerawat. Tomat juga mempunyai sifat antipiretik (penurun demam). Sementara serat yang tinggi di dalam tomat mampu mengatasi ganguan pencernaan seperti sembelit dan wasir (Sutomo, 2008).
Selain manfaat tomat di atas, tomat juga bisa dijadikan sebagai bioinsektisida untuk membunuh jentik nyamuk. Menurut Yulianti (2007), di dalam buah tomat terdapat senyawa alkaloida (senyawa yang bisa bersifat racun dan menggagalkan proses metamorfosis) dan saponin (senyawa aktif yang bersifat seperti sabun) yang dapat mematikan jentik nyamuk.
Buah tomat mengandung alkaloid solanin (0,007%), saponin, asam folat, asam malat, asam sitrat, bioflavonoid (termasuk rutin), protein, lemak, gula (glukosa, fruktosa), adenin, trigonelin, kholin, tomatin, mineral (Ca, Mg, P, K, Na, Fe, sulfur, chlorine), vitamin (B1, B2, B6, C, E, likopen, niasin), dan histamin. Rutin dapat memperkuat dinding pembuluh darah kapiler. Klorin dan sulfur adalah trace element yang berkhasiat detoksikan. Klorin alamiah menstimulir kerja hati untuk membuang racun tubuh dan sulfur melindungi hati dari terjadinya sirosis hati dan penyakit hati lainnya.

G. Metode Pelaksanaan
Metode yang digunakan dalam orogram ini
a. Menyiapkan alat dan bahan penelitian yaitu:
1) Gelas ukur 1 (satu) liter untuk tempat sampel sebanyak3 (tiga) buah
2) Timbangan untuk mengukur banyaknya buah tomat yang akan diekstrak.
3) Pipet volume untuk mengukur banyaknya dosis ektrak buah tomat.
4) Pipet tetes untuk mengambil jentik Anopheles sp.

b. Pembuatan ekstrak buah tomat
1) Bahan
a. Buah tomat yakni tomat biasa (Lycopersicum commune)
b. Air
2) Cara kerja
a. Buah tomat dicuci bersih.
b. Buah tomat ditimbang sebanyak 500 gram.
c. Buah tomat kemudian dipotong-potong dan diblender.
d. Buah tomat yang sudah diblender disimpan selama 24 jam lalu disaring untuk menghasilkan ekstrak buah tomat.
3) Pengeringan Ekstrak Tomat
a. Ekstrak tomat disimpan di pan, kemudian dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 70 oc selam 4 - 6 jam
b. Tomat yang telah kering diangkat kemudian didinginkan selama beberapa menit.
c. Ekstar tomat tersebut dibungkus dalam kain kasa.






H. Jadwal Kegiatan

No Uraian Kegiatan Bulan
Ke - 1 Ke - 2 Ke - 3
1 Persiapan
2 Pelaksanaan
3 Penulisan laporan
4 Laporan akhir


I. Rancangan biaya
PEMBIAYAAN JUMLAH BIAYA
1. Alat/Bahan
a. Tomat
b. Blender
c. 3 buah Oven
d. Pisau
e. Kain saring
f. Kain kasa
g. 3 buah Gelas ukur
h. 5 buah wadah
i. 3 buah Kompor
j. Pan
k. Kain serbet
l. Masker
m. Sarung tangan
n. Timbangan
o. Pipet tetes
p. Pipet Volume
2. Transportasi
3. Penulisan Laporan
4. Lain - lain
Rp. 250.000
Rp. 500.000
Rp. 1.500.000
Rp. 50.000
Rp. 45.000
Rp. 45.000
Rp. 250.000
Rp. 250.000
Rp 1. 500.000
Rp. 150.000
Rp. 45.000
Rp. 25.000
Rp. 25.000
Rp. 250.000
Rp. 25.000
Rp. 25.000
Rp. 750.000
Rp. 450.000
Rp. 1.500.000
JUMLAH Rp. 7.635.000


J. Daftar pustaka

Anonim. 2005. Buah segala musim. 216 resep makanan & minuman sehat berbahan buah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Badan Pusat Statistik (BPS). 2007. Produksi Tomat Menurut Propinsi Tahun 2002–2006. Jakarta: BPS.

Cahyono, Bambang. 2008. Tomat: Usaha Tani dan Penanganan Pascapanen. Yogyakarta: Kanisius.

Harijanto, P. N. 2000. Malaria: Epidemiologi, Patogenesis, Manifestasi Klinis, dan Penanganan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Indonesia Tanah Airku. 2007. Sumber Daya Alam Propinsi NTT. http://www.indonesia.go.id/id/index.php Diakses [21 Juli 2009 pukul 23.07 WITA].
Merdiana, 2002. Berbagai Jenis Nyamuk Anopheles dan Tempat Perindukannya yang Ditemukan Di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur dalam Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol. 12, No. 04. http://ojs.lib.unair.ac.id/index.php/ Diakses [09 Juli 2009 pukul 14.07 WITA].

Nugroho, H. Bayu. 2008. Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Tomat (Solanum licopercium L) terhadap Jumlah Kematian Larva Anopheles aconitus. http://www.unissula.ac.id/perpustakaan/index.php Diakses [20 Juni 2009 pukul 12.58 WITA].

Prabowo, Arlan. 2004. Malaria, Mencegah dan Mengatasinya. Jakarta: Puspa Swara.

Puspita, H. Eka. 2008. Deskripsi Pertelaan Tomat (Solanum lycopersicum L). http://one.indoskripsi.com/node/4129 Diakses [15 Juli 2009 pukul 23.31 WITA].
Sutomo, Budi. 2008. Menguak Manfaat Tomat. http://budiboga.blogspot.com/2008/02/menguak-manfaat-tomat.html Diakses [09 Juli 2009 pukul 17.18 WITA].


Yulianti, Novita, 2007. Ekstrak Tomat untuk Basmi Larva Nyamuk. Semarang: FKM Unnes.

1 komentar:

  1. Setelah di bungkus dalam kain basa lalu kemudian selanjutnya apa..pleaese tolong langsung jawab..

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, setelah membacanya.
Terima kasih