PELANGI


Aku membolak-balikan buku tentang fenomena alam di perpustakaan. Akhirnya aku menemukan sebuah sumber yang ingin sekali untuk kuketahui. Kumeraih laptop lalu menulisnya. Pelangi terbentuk karena pembiasan sinar matahari oleh tetesan air yang ada di atmosfir. Ketika sinar matahari melalui tetesan air, cahaya tersebut dibengkokkan sedemikian rupa sehingga membuat warna-warna yang ada pada cahaya tersebut terpisah. Tiap warna dibelokkan pada sudut yang berbeda, dan warna merah adalah warna yang paling terakhir dibengkokkan, sedangkan ungu adalah yang paling pertama. Fenomena ini yang kita lihat sebagai pelangi.
Sebuah prosa berpendapat lain, bidadari merenda pelangi, atas langit sedikit mendung. Mungkin kamu tidak akan pernah tahu, bahwa saat matahari dengan cahayanya yang muram, saat rinai-rinai hujan menetes di wajah bumi. Saat itu bidadari sedang merenda pelangi. Memilinnya dengan benang-benang warna-warni air mata mereka. tak seorang pun tahu itu, di saat kelopak mata bidadari mulai merekah, mengalirkan tetes warna-warni di pipi mungil mereka. Saat itu mereka menampungnya di dalam kendi sesuai dengan warna air mata mereka. saat purnama tiba air mata itu membeku. Menjadi buntalan. Buntalan air mata itu kemudian direnda menjadi kain. Saat alam mulai redup dengan mentari dan rintik hujan, mereka turun ke lapisan langit pertama yang paling dekat dengan bumi lalu membentang kain itu. Pelangi terbentuk.
Setiap orang pasti punya persepsi yang berbeda mengenai keindahan alam yang satu ini. Akupun demikian. Hal iseng yang tak terduga akhirnya menjadi semacam trade mark bagiku. Semua teman-teman maupun adik semester selalu tersenyum ketika berpapasan denganku. Tidak lupa “pelangi di matamu” terlontar dari mulut mereka. Aku cuma tersenyum meladeni mereka.
Sore yang bergerimis. Truck meraung melintasi Kota Atambua. Terpal yang menaungi dibiarkan terbuka. Seorang teman mabuk, cuma terpaku di sudut kanan belakang tanpa tahu harus berbuat apa. Ety, cewek hitam manis dari Ende, menawarkan botol minyak angin aroma terapi yang sering dibawanya ke mana-mana. Dihirupnya botol tersebut lalu kembali mengintip keluar dari celah truck.
Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Beberapa teman laki-laki mencoba menjajaki truck dengan duduk di ujung atas truck. Uchy, cewek semampai peranakan Ende Bajawa, meminta turut. Aku terpaksa harus berbagi tempat yang cukup sempit dengannya. Sorakan teman-teman dari truck yang lainnya membuat mukaku sedikit memerah. Mereka mencoba memanasi pacarnya yang ada di atas truck bersama mereka. Aku gugup dan menyuruhnya untuk turun.
Perjalanan yang kurasa cukup jauh. Sesekali teriakan dari teman-teman cewek karena truck seakan mau terbalik ketika melintasi jalan yang menanjak dan berlubang. Sinyo mencoba berulah dengan menarik dedaunan. Semua berteriak marah karena wajah mereka diperceki oleh air hujan yang tersisa dari dedaunan. Wajah-wajah manis yang penuh senyum berubah cemberut dan jelek. “ka sinyo…kayak ana kecil sa…” entah siapa yang berteriak.
Aku seolah dirasuki oleh perbuatan bodoh dan kekanak-kanakan juga turut berandil bersama Sinyo. Tanggapan tak sedap keluar dari berbagai mulut. Mukaku sedikit memerah dengan ucapan mereka, tapi aku berusaha untuk tidak merasa dengan masa bodoh. Seorang teman yang duduk di sebelah kananku hampir terjungkal ketika harus berpapasan dengan dahan dan ranting pepohonan yang menjorok ke atas badan jalan.
Sinyo kembali berulah. Kali ini aku yang menjadi sasaran empuknya. “Rice..ka djho ne…” katanya memerahkan muka maluku. Rice cewek semester dua itu juga tersipu dengan ocehannya. “ka sinyo..kuat baganggu mati ew…talalu lebe-lebe aw…” katanya sambil menutup wajah manisnya dengan kedua telapak tangannya. Dalam hati aku cuma bisa berharap agar truck  ini bisa cepat sampai di tujuan, supaya sinyo bisa berhenti berceloteh.
Aku berusaha menarik perhatian semua orang yang berada di dalam truck,  sehingga tidak terfokus pada apa yang sinyo katakan. “ada pelangi…” kataku berbohong pada semua orang yang mendengarkannya di mendung sore. “di mana???” seorang cewek tiba-tiba bertanya dengan nada sedikit manja. Entah kenapa tiba-tiba ada semacam bola lampu yang menyala di atas kepala, seperti pada setiap film kartun ketika seseorang menemukan ide. “di matamu!!!” kataku disambut gelak tawa semua penumpang mengganggu ketenangan sore yang bersemedi, melakukan ritual untuk mengundang sang Dewi malam.
“ka djho lucu ew..” katanya bermerah muka. Aku juga ikut tertawa bersama ngakak, yang belum hilang dari beberapa teman. Riven cowok hitam manis kelahiran Kupang asal solor yang tinggal di manggarai berbisik “lu salah ngero… coba kalo lu panggil namanya Rice baru bilang ada pelangi.. itu kalo dia tidak merasa su terlalu” aku cuma tersenyum sambil menganggukan kepala (padahal dalam hatiku ada kata “KET”)
Truck terus merangkak, naik dan turun menuju Lahurus yang damai. Tidak ada ejekan terhadap Atambua lagi. Mungkin semua telah malas dengan ejekan. Atau karena damainya Lahurus telah menghipnotis semua pemikiran dan rasa negatif dari Putra Putri Aqunas.
Ndoe sebagian ceritanya jao su lupa ngero, kalo begitu bae su..
Jao tulis puisi dengan judul PELANGI sa…
PELANGI

Terlukis indah padah merahnya senja
Bukan karena kesombongan hadirmu
Hanya indah yang menawan parasmu
Mengapa engkau, bagaimana aku??

Katanya kamu jelmaan tujuh bidadari
Yang rela meninggalkan raga demi rakyat jelata
Terbakar pada amarah api senja menyala
Bergumul bersama asap pekat
Terurai antara nisbinya gerimis petang
Terukir indah tiada duanya

Aku bukan diktator penentu rasa
Fasisme tak bergeming padamu
Korupsi, kolusi dan nepotisme
Malu, tahu diri menjebakmu

Terakhir ini tidak indah
Aku lelaki kau pelangi
Memenjarakan jiwa merana
Aku tak mau mengumbar rasa
Entah pada siapa
Hanya pada katup senja yang berang
Bersama deringan bom bunuh diri
Pada laptopku yang kehabisan energi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, setelah membacanya.
Terima kasih