PEMERINTAH ENDE: “PERUT KAMI HARUS TETAP BUNCIT DAN PERSETAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR UNTUK RAKYAT”

Siang yang terik memaksa saya untuk tergesa-gesa menuju terminal. Kakak ipar saya menawarkan seorang temannya yang juga ojek, untuk mengantar. Beberapa lubang di jalan membuat kami harus berzig-zag agar ban tidak memasuki lubang. Sunguh suatu potret pembangunan infrastruktur yang bisa dikatakan sangat tidak prorakyat di kota kelahirank, Ende. Bayangkan saja, jalan berlubang dimana-mana, sedang gedung dewan maupun kantor bupati begitu megah.
Di terminal, saya harus puas dengan oto terakhir yang akan menuju kampungku, Rajawawo. Sebuah pick up yang sedikit dimodifikasi menjadi mobil penumpang. Amat diragukan kelayakannya, apalagi kenyamanannya. Di sini saya jadi berpikir lagi, apakah pemerintah khususnya LLAJR Kabupaten Ende sudah buta semuanya sehingga mereka mengeluarkan izin trayek yang seharusnya layak untuk barang ini. Atau mereka telah ditutup mulutnya dengan segumpal rupiah? Tak heran ditengah perjalanan terdengar teriakan “rore… rore…”(bahasa Setempat yang artinya SEMBELIH) artinya mereka yang berteriak itu menganggap orang yang ada di pick up itu hewan sembelihan. Sungguh sebuah penurunan kodrat yang menyakitkan.
Saya merasa tak nyaman selama perjalanan. Himpitan para penumpang bagaikan barang yang saling menindih. Seorang anak kecil menginjak sepatu. Saya berusaha sabar walau darah sedikit menukik naik diterik sinag itu. Beberapa lelaki yang idak kebagian tempat mencoba peruntungan dengan menggelantung di sisi kiri kanannya.
Mobil berbelok ke kiri tepat di kampung maunggora. Sungguh derita bertambah parah di sini, setelah menyaksikan jalanan kota Ende yang berlubang, saya memulai lagi dengan babak baru yakni, medan tanjakan yang extreme. Beberapa penumpang termasuk saya harus turun untuk berjalan kaki. Sopir beralasan, mobil tidak bisa menanjak karena terlalu berat dan juga jalannan tak beraspal yang berlubang. Saya terhenyak dengan lubang dijalanan yang setinggi betis orang dewasa. Bahkan sampai ke lutut. Saya sedikit merenung “pemerintah di daerahku ini, apa yang mereka buat dengan janji kampanye mereka. Jangan sampai mereka janji karena minum moke”
Saya dan beberapa penumpang lain berjalan kaki sekitar dua kilometer. Kami ngos-ngosan. Seorang penumpang perempuan sampai mengeluh jera untuk itu. Ia tampak kelelahan sekali. Jika pemerintahan era reformasi sekarang tidak begini, pasti kami tersenyum sampai ke kampung kami. Sayang, ini Cuma mimpi. Pembangunan ini bahkan bekas peninggalan Orde Baru yang katanya otoriter dan korup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, setelah membacanya.
Terima kasih