SAYA DAN IPELMEN


Sebuah refleksi pribadi

Pagi yang lelah menanti tiap mentari. Hari baru berawal lagi.beberapa teman mulai kompromi dan promosi, bernagai rutinitas mereka. Say tak paham, apa yang ada pada saya. Seorang teman mulai berkoar tentang kedaerahannya. Cerita berujung pada organisasi. Wadah lokal yang bertujuan menghimpun mahasiswa sedaerah untuk turun rembuk bersama menetapkan tujuan dan angan yang sama untuk diperjuangkan. Saya masih terdiam, karena saya tidak mengerti apa-apa.
Bermula dari kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru (MPAB) Keluarga Mahasiswa Katolik St. Thomas Aquinas saya mulai diperkenalkan dengan apa yang namanya organisasi. Seorang kakak pemateri yang memberikan materi bertanya pada saya, setelah saya memberitahu daeraha asal saya. “Eja harus ikut organisasi lokal dari daerah eja, ada IPELMEN dan Banyak yang dari kecamatan” saya mengiyakan, karena saya punya kerinduan besar untuk berkumpul bersama anak-anak dari Ende, maklum di tempat kuliah saya hanya beberapa orang yang dari Ende ( tidak bermaksud sukuis)
Kendala awal yang saya hadapi, saya sendiri tidak punya akses informasi mengenai keberadaan IPELMEN itu sendiri. Beberapa orang yang saya temui, yang berasal dari Ende sudah saya bicarakan, tetapi hasilnya nihil. Terpaksa saya harus mengubur niat saya tersebut.
Kabar baik datang dari seorang teman lama waktu SMP. Ternyata dia juga anggota IPELMEN. Anehnya sekarang dia baru memberitahukan saya tentang hal ini. Dengan penuh semangat saya mengikutinya dan mendaftar untuk menjadi peserta MPAB IPELMEN tahun 2009.
Pada awal hari kegiatan, saya mendapat informasi untuk berkumpul di depan gereja katedral. Dengan polosnya saya mengikuti informan tersebut. Sayang, kami harus sendirian di sana.kami seperti anak ayam yang kehilagan induknya. Hujan deras mebuat semangatku menjadi perlahan luntur. Mulai muncul berbagai prasangka tentang IPELMEN. Seorang panitia datang, padahal yang berkumpul di gereja katedral bagi calon anggota yang tidak tahu tempat kegiatan. Sial buat saya (tempat kegiatan hanya sekitar lima ratus meter dari rumah)
Saya dan beberapa teman terlambat sampai ditempat kegiatan, walaupun acara belum di mulai. Selama kegiatan cukup berjalan dengan lancar. Cuma ada satu hal yang terjadi pada diri saya. Saya masih ingat ketika suatu malam terjadi saling menyalahkan antara calon anggota dengan panitia dan SC. Waktu itu saya hendak muntah, tapi ditahan oleh seorang kakak ketika saya minta izin untuk ke kamar manti. Terpaksa saya harus muntah di tempat.
Dari perkenalan dan bincang-bincang ringan dengan sesama calon anggota, mulai muncul beberapa informasi. Banyak teman yang ikut tetapi tidak mengumpulkan kontribusi dengan alasan karena kakaknya yang mendaftar. Sedang saya dan teman lain yang membayar, dikelompokan pada kategori mana??
Berbagai kejanggalan terus terjadi selama saya menjadi anggota IPELMEN. Perjuangan dari berbagai Kecamatan untuk mendapatkan tempat sebagai pemimpin IPELMEN terlihat nyata dan memberikan kesan tidak bagus. Masa wadah yang mempersatukan harus terpecah karena kepentingan segelintir orang. Hal ini yang membuat saya perlahan mundur dari IPELMEN. Bagi saya pembelajaran di IPELMEN tidak memberikan saya motivasi sebagai sesama saudara. Terlihat sekali emosi yang belum matang dan membauat IPELMEN di pandang sebelah mata. Seharusnya kita sebagai sesama saudara lebih tertuju pada corectio in fraterna.
            Hal lain yang terlihat nyata yakni ketiak saya memberikan komentar pada Grup jejaring sosial untuk ipelmen. Seorang mantan ketua mengklaim saya sebagai salah satu orang yang tidak puas dengan pembelajaran demokrasi yang terjadi di wadah ini. Suatu bentuk kedangkalan pemahaman terhadap ipelmen dan proses pembelajarang yang ada di dalamnya.
            Hal lain yang juga dikomentari oleh mantan ketua tadi adalah mengenai tulisan dengan judul “IPELMEN: SEBUAH NAMA DAN WADAH PENGKADERAN MELAWAN REALITAS HIDUP DAN PENDIDIKAN” beliau justru hanya mengomentari judulnya. Saya yakin dia tidak membaca isi dari tulisan itu sehingga komentarnya terlalu mengambang. Seharusnya sebagai mantan ketua dan senior IPELMEN, beliau lebih mengantar kami adik-adiknya pada suatu pemahaman yang membuat IPELMEN tetap di hati, bukan berkomentar begitu. Karena secara tidak langsung beliau telah menjelaskan bahwa pembelajaran di wadah ini hanya sebatas pembentukan kubu dan persaingan untuk kepentingan kubu tertentu.
            Sebagai akhirnya, Mungkin tulisan saya akan disepelekan, dihapus, dikomentari maupun tidak dikomentari secara bijak dengan akal sehat, tak apa-apa. Saya Cuma merasa kecewa dan kesal terhadap diri saya sendiri karena tidak memberikan sesuatu untuk Ipelmen. Hal lain adalah saya kecewa dan kesal dengan komentar seorang mantan ketua yang terkesan apatis dengan beberapa orang yang ada di ipelmen. Saya tidak pernah merasa kalah terhadap sesuatu yang terjadi di ipelmen sekarang, saya Cuma kecewa karena kurang adanya rasa memiliki dari saya.
Semoga IPELMEN tetap jaya. “sa bhoka sa ate sa wiwi sa seru demi Ende tana sare.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, setelah membacanya.
Terima kasih