KRITERIA*

Umurku sekarang dua puluh dua tahu. Semester akhir di sebuah universitas swasta di kota pelajar ini. Sayang diumurku yang sekarang, aku belum pernah pacaran. Aku lebih suka lama-lama di depan PC, dibandingkan jalan-jalan ke mall. Aku lebih senang ke toko buku jika, diajak ke tempat keramaian. Aku akan memilih ke gunung, kalau diajak ke pantai, karena aku tidak bisa berenang. Aku lebih suka baca puisi derai-derai cemara-nya Chairil Anwar jika kamu mengajak ke konsernya kangen band. Aku lebih mengandalkan rasio dan kamu cenderung menjatuhkan pilihan karena perasaan. Bagiku perasaan bisa datang sesaat dan mungkin rasa itu tak sama lagi, setelahnya. Aku laki-laki dan kamu wanita. Sekarang aku bersamamu di taman kota.
“ Yolandanya kangen band, bagus ya..” engkau menyelutuk.
“ Ah.. posesif!!!”
“ Itukan, karena rasa sayang yang terus membumbung”
“ Rasa sayang e..rasa sayang, sayang e…” aku malah bernyanyi
“ Pantas”
“ Pantas apanya”
“ Tidak punya pacar”
“Dari pada kamu, pacaran sejak SMP tapi tak pernah awet”
“ Belajar”
“Belajar untuk salah???”
“Mencari cinta sejati”
“Hmmmmm…” aku tak bisa mematahkannya.
Ia tersenyum kemenangan. Aku diam menatapnya. Kami menjerumuskan diri mengantar senja pada malam tanpa kata. Cakrawala biru perlahan legam oleh kepakan sayap sang malam. Kamu masih diam. Aku juga. Mencari kata-kata yang tercecer pada botol bekas minuman. Mengendus lewat aroma sang malam. Aku masih berdiam.
“Ehh, cerita dong kriteria wanita yang kamu idamkan”
“ Apa ya..  yang pertama: rambut panjang terurai, cantik, manis dan…” 
“ Dan apa???” ia penasaran.
“ Dadanya montok” aku tersenyum genit
“ Hmmm.. dasar mesum” katanya sambil melihat ke arah dadanya. Aku tersenyum lagi melihat kelakuannya. Ia merasa seolah aku menyindirnya. Padahal aku berkata serius. Ia saja yang terlalu merasa. Wanita bagiku adalah objek. Ia harus betul sempurna dimataku.
“ Kalo kamu, kenapa tidak pernah bertahan lama??”
“ Tidak ada yang seperti dibayangkan waktu pandangan pertama”
“ Kenapa mesti pandangan pertama??”
“ Karena kedua palsu” ia menjawab sekenanya
“ Karena kamu tidak pernah menghargainya”
“ Ehh, lanjut dong kriterianya”
“ Yang kedua: apa adanya??”
“Terlalu umum..”
“ Kalo aku jalan kaki, ia jalan kaki juga. ”
“ Terlalu melarat..”
“ Ia, karena cinta tak butuh pengorbanan. Kenapa sich, kita harus berkorban?? Padahal cinta tak butuh pengorbanan. Kalo semuanya saling mengerti buat apa berkorban. Pengorbanan adalah kedangkalan aplikasi dari seorang pencinta”
“ Tak paham. Rumit”
“ Arti dari cinta saja kamu tidak paham, bagaimana kamu mau menjalankan cinta. Teori dan praktek harus sejalan”
“ Bingung ya. Kamu terlalu ajaibkan mendefinisikannya”
Ia bingung. Aku juga. Aku omong ngawur tanpa landasan yang jelas, kadang tak rasional. Aku terlalu… tiba-tiba aku menghayal sendiri. Aku mengingat lagi masa laluku. Masa putih biru yang masih polos. Hari pertama di kelas satu. Hari pertama itu juga, aku terlambat. Baru sampai di pintu gerbang bel telah berbunyi. Beberapa kakak kelas yang menjadi pengurus OSIS menunggu di pintu gerbang. Semua yang terlambat ditahan dan akan diberi hukuman. Aku mematung disudut. Seorang kakak kelas cewek menghampiriku. Ia tersenyum padaku. Aku malu-malu bercampur rasa takut. Ada sesuatu yang lain pada dirinya dan juga pada diriku. Jantungku berdetak lebih cepat dari keadaan normalnya. Aku memaksa tersenyum, dalam hati aku berharap, agar senyumanku bisa meloloskanku dari hukuman ini. Ia tersenyum lagi, manis sekali. Mulai saat itu, aku menyukainya. Ia kelas tiga, aku kelas satu. Ia limablas tahun, aku duablas tahun. Setelah beberapa minggu bersekolah, aku baru tahu, namanya Nining.
“ Sorry.. sorry… sorryy…” katanya mengagetkan aku dari lamunanku.
“ Kenapa???”
“ Minumanmu tumpah” ia dengan raut sedih
“ Tidak apa-apa” kataku sambil memungut botolnya untuk dibuang ke tempat sampah yang jaraknya sekitar limablas meter dari tempat kami duduk.
“ Ajarin aku, kalo mau tembak cewek” kataku kembali dari tempat sampah tadi.
“ Bagaimana ya…”
“Cepat.. katanya sering gonta-ganti pacar…” aku tidak sabaran
“ Kamu pendekatan dengan dia terus setelah akrab, ajak dia ke suatu tempat yang dia suka. Terus tembak dia.”
“ Caranya??”
“ Aku suka kamu ato maukah tidak kamu jadi pacar aku. Bisa juga, sebenarnya saya sayang kamu.. Pokoknya kamu atur kata-kata yang terbaik menurut kamu. Pake gombalnya OVJ juga bisa..”
Aku mengangguk ketika ia menyudahi pembicaraannya. Ia tersenyum padaku. Menampakan sifat keibuannya.
“Bintang jatuh” kataku sambil menunjuk ke selatan.
“ Mana?? ” ia penasaran.
Aku dengan sangat cepat telah melemparkan secarik kertas yang kuramas ke atas dan jatuh tepat di pangkuannya. Ia masih melihat ke selatan.
“ Mana??” tanyanya sekali lagi
“ Ni..” aku menunjuk kertas dipangkuannya. Ia tersenyum lagi. Diambilnya kertas itu lalu dibuka secara perlahan. Ia pun membacanya.
Nining, aku ingin kita bersama selamanya..
 Ia terhentak. Melirik ke arahku dengan mimik serius. Sangat serius, membuat aku sedikit gugup.
“ Ini aku yang menulisnya” kataku mantap

                                                                                                                     Naikolan, Januari 2012

* Pernah dimuat di Timor Express edisi minggu, 4 maret 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, setelah membacanya.
Terima kasih