DONGENG TENGAH HARI


sember foto: http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR0dIehQ5ZR2HDn1Y7sUdNvHyr0_RKUTQ_dESmFDGEQp0LpOGmEld9F8GJMXw

Matahari telah memenuhi seluruh jagat dengan sinarnya. Liburan sekolah yang membosankan. Tak ada liburan berkemah di gunung atau bertamasya ke pantai, seperti liburan musim lalu. Aku dan adikku cuma duduk kesepian di rumah. Bosan juga kalau hanya bermain playstation atau pun hanya menonton televisi.
Kutarik tangan adikku. Ada sedikit perlawanan namun akhirnya ia mengikutiku. Ada banyak pertanyaan yang ia lontarkan, tapi tak kuhiraukan. “ ikut saja nanti kamu mengerti juga kemana tujuan kita” aku betindak otoriter.
Kurang lebih setengah jam bersepeda, kami tiba di rumah panggung mungil. Desain etnis kental pada rumah itu. Orang menamakan dengan sao mere tenda zewa. Sebutan untuk rumah adat Ende. Rumah itu terletak di pinggiran kota. Sekitar tujuh kilometer dari rumah kami. Rumah ini milik Bapak dari Mama kami. Kakek kami.
Kakek adalah mantan tentara yang telah pensiun. Beliau sangat senang melihat kami datang. Terhapus sudah prasangka buruk terhadap kami. Ia berpikir, kami telah dipengaruhi bapak untuk tidak ke rumah. Pengaruh paham patriakat dalam budaya juga yang membuat kami lebih menegnal keluarganya bapak daripada keluarga mama.
Kami duduk menemani kakek yang sudah mulai sakit-sakitan. Ia mulai bercerita banyak pada kami. Sungguh, hal yang paling tidak aku sukai, karena beliau bisa bercerita berjam-jam. Sekedar meliukan pinggang pun ditegurnya. “ kalau orang tua omong, dengar. Jangan malas tau” katanya tanpa menanyakan alasanku meliukan badan.
*****
Matahari telah membuka lembaran baru untuk memulai kecerahan di hari yang baru ini. Tampak orang-orang kampung mulai gelisah dengan perjalanan mereka menuju kebun masing-masing. Seorang pemuda memegang tali sambil menggiring kedua ekor anjingnya. Jenis anjing pemburu yang harus diikat sebelum sampai di kebun, kalau tidak keadaan lebih rumit lagi. Bisa saja anjing-anjing itu menyerang babi piaraan warga kampung yang dibiarkan begitu saja. Tak  diikat dan tak kandangkan. Maklumlah, kampung itu masih jauh dari kesan modernisasi sehingga warga berbuat tanpa berpikir tentang artistik apalagi mengenai kesehatan. Yang mereka tahu Cuma bisa makan dan minum serta tidak mengalami gangguan seperti batuk pilek ataupun demam.
Kehidupan warga yang bersahaja dan masih berhubungan darah di kampung itu membuat mereka saling bertegur sapa apabila bertemu di jalan. Seorang pemuda gagah tadi mempercepat langkahnya agar tidak kesiangan sampai di kebunnya. Percikan embun yang membasahi kaki tak berkasutnya tak ia hiraukan. Jangankan embun, tunas ilalang yang seperti duri menusuk telapak kakinya saja ia rasa seperti gelitik yang menggelikan. Memang, mereka sudah terbiasa dengan kehidupan yang menyatu dengan alam. Pemuda itu bernama Rangga.
 Seseorang dengan sigap menghadangnya di jalanan. Seorang lelaki hitam dekil, dengan tinggi yang hanya satu setengah meter itu mengurungkan niat Rangga untuk cepat sampai di kebun. Ia mulai menceritakan hal ihwal kedatangannya menemui rangga. Rangga Cuma manggut-manggut pertanda mengerti. Mendengar cerita lelaki paruh baya itu, Rangga akhirnya memutuskan untuk tidak ke kebunnya hari ini. Ia berjalan mengikuti langkah pendek lelaki ceking itu.
Sampailah mereka di sebuah kebun bernama Mbotu Tuwe yang setiap malamnya selalu diserang oleh babi hutan sehingga menghancurkan semua tanaman perkebunan tersebut. Lelaki yang menemui Rangga tadi adalah seorang utusan Raja yang bernama Mbira Noi. Ia pergi untuk meminta bantuan Rangga membasmi babi hutan tersebut. Kini Rangga tengah beristirahat di kebun itu dengan dua ekor anjingnya yang bernama Dorea Sewaku dan Wake Tau. Sedang, lelaki tadi telah kembali ke hadapan Raja.
Di kebun tersebut Rangga mulai membuat tenda sebagai tempat istirahatnya dan juga untuk melindunginya perhatian babi. Anjingnya diikat dekat dengan tenda tempat persembunyiannya. Tengah malam ia mendengar suara berisik dari babi hutan yang memakan ubi kayu. Dengan gesit Rangga melepaskan ikatan tali pada leher anjing-anjing itu. Ia berburu babi tersebut sampai subuh. Seekor babi hutan ukuran besar harus menyerah dengan sebuah panah menembus dadanya.
Keesokan paginya, ia menghadap Raja yang juga dipanggil Ria Raja untuk memberitahukan perihal babi hutan tersebut. Raja kemudian membagi hasil buruan tersebut “Delu, kau ta Une ki, Jao ta kuku ki”1 Raja bertitah. Anak panahnya diberikan pada Raja sebagai bentuk penghormatannya. Rangga kemudian berangkat menuju Kampung Kepi. Dia menitipkan daging babi tersebut pada Dena Zewa. Seorang tetua di kampung Kepi tersebut. Dia kemudian melanjutkan perjalanannya ke Nanga Mere. Dalam perjalanannya ia harus beristirahat beberapa kali karena letih semalaman tidak tidur.
Perjalanan panjang tersebut membawa dia untuk menyebrangi sebuah sungai. Ia kaget melihat seekor anak babi berenang dengan lincahnya. Dikejarnya anak babi tersebut. Dengan susah payah akhirnya bisa ditangkap juga. Anak babi tersebut dibungkus dalam kain sarungnya (Dawu). Ia terus berjalan menuju Kampung Mbotu Tuwe, ujung Kampung Ndora Mezi. Ia menitipkan anak babi tersebut pada seorang Nenek di pondok (soku). Menjelang petang ia turun ke Kampung Besar untuk bermain dengan teman-temannya sesama pemuda.
Di tengah malam babi tersebut meratap (peze). “jao ine jani iwa si ngere wawi ata ka tai, zako ata sabho mba’o” (saya ‘Ine Jani’ bukan babi yang hina, anjing yang sia-sia).
Ayam berkokok dengan ributnya. Bertalu-talu seolah berpantun. Rangga terbangun dari tidurnya. Ia menggerakan kedua tangannya. Meliukkan pinggangnya ke kiri dan kanan. Teman di sebelahnya belum terbangun. Ia duduk membayangi hidup yang tak menentu. Menjelang matahari terbit, ia kembali ke pondok bersama Nenek Tua. Nenek kemudian bertanya “Kau simpan sesuatu di pondok belakang. Ada yang meratap semalam.??” Rangga cuma menggeleng. Di malam kedua terjadi hal yang sama. Rangga malah memarahi Nenek tersebut. Katanya mungkin Nenek itu sudah pikun, sehingga ia mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Di hari yang ketiga, sepertia biasa Rangga turun ke Kampung Besar (Nua Mere) bersama teman-temannya pada senja. Ia tidak bermalam di rumah temannya, ia kembali ke pondok.
Di tengah malam ia mendengar nyanyian (woi). Baru beberapa kalimat, ia menampakan dirinya ke sumber suara (zengga). Seorang gadis cantik duduk manis di depannya. Ia terpesona dengan kecantikannya. Gadis itu dijadikan sabagai istrinya. Akan tetapi gadis tersebut tidak pernah bicara. Bisu (Ngongo).
Berbagai cara dilakukan untuk bisa membuat istrinya dapat berbicara lagi. Dukun dan orang pintar di daerah itu dan sekitarnya telah didatangi, tapi hasilnya sama saja. Tetap bisu. Rangga tidak kehabisan akal. Pada sore yang sepi, ia memanggil dua orang pemuda untuk mengikat seekor kerbau di hutan dekat kampung (Nggoze Nua). Keesokan paginya ia dan beberapa orang pemuda berpamitan dari kampung untuk berburu Kerbau liar di hutan. Menjelang subuh, seorang utusan datang membawa berita, kalau Rangga diserang oleh Kerbau Liar dengan luka parah disekujur Tubuhnya. Orang sekampung geger. Hiruk pikuk orang tua muda, besar kecil, laki perempuan memenuhi rumah Rangga.
Di kejauhan terlihat empat orang pemuda mengusung tubuh Rangga yang tak berdaya. Semua orang melihat dengan kesedihan mendalam. Tangis dan air mata menyeruak dari berbagai bentuk muka. Istri Rangga yang tadinya tenan juga ikutan menangis. Ia menangis dengan kata-kata sedih menyayat hati (Rita Nangi). Semua orang di sekitarnya menjadi terkejut mendengar istrinya Rangga bisa berkata-kata. Para pemuda yang mengusung Rangga tiba di rumah. Sekujur tubuh Rangga berlumuran darah. Rangga melompat dari tandu tersebut dan memeluk istrinya. Orang disekitar bertambah heran. Ternyata sebenarnya Rangga tidak pergi berburu kerbau liar dan tak pernah diserang kerbau. Kejadian tadi cuma akal-akalan Rangga untuk membuat Istrinya bisa berbicara. Darah disekujur tubuhnya hanyalah darah kerbau yang mereka sembelih.
Mereka kemudian hidup sejahtera, dengan dikarunia tujuh anak. Anak pertama : Zozo (karena kesulitan pengucapan, orang menyebutnya Rhorho); Kedua, Kebi; Ketiga, Ruku; Keempat, Roru; Kelima, Ria; Keenam, Rewa dan Ketujuh, Jegha.
*****
Kakeku menyelesaikan dongeng yang katanya legenda itu kepada saya dan adik saya di siang itu. Ingin rasanya untuk bertanya banyak pada kakek tapi beliau terlanjur mengaku mengantuk dan berniat untuk istirahat siang. Ada sedikit rasa kecewa yang hinggap di hati saya. Adik saya sampai mengelu merasa belum puas.
“ Tidak apa-apa, besok siang kita datang lagi” aku merayu adik kecilku yang baru kelas dua Sekolah Dasar tersebut. Kakek mengamini perkataan saya.
“ Iya besok siang saja baru kalian datang lagi” katanya sambil menghadiahi kami sesisir pisang berangan masak.
“ Terima kasih Nene2” saya menerimanya dengan girang.
“ iya, besok datang lagi. Bawa dengan weta3 kamu itu. Supaya dia juga tahu sejarah” Kakek berpesan. Kami berpamit lalu meninggalkan rumah kakek.

Naikolan, Maret 2012

Catatan:
Delu, kau ta Une ki, Jao ta kuku ki1(Bhs Ende): Abang dapat dagingnya, saya dapat tulangnya.
Nene2(Bhs Ende): Panggilan untuk Kakek maupun Nenek
weta3(Bhs Ende): Panggilan untuk saudari perempuan.

* Penulis adalah Mahasiswa Peminatan Gizi Kesehatan Masyarakat-FKM Undana. Menyukai puisi dan cerpen. Sekarang bermukim di Naikolan.

catatan: dimuat di harian Timor Ekspress, Minggu, 15 Juli 2012

cerita ini saya adaptasi dari legenda masyarakat Rajawawo, Kabupaten Ende
           


2 komentar:

Silahkan berkomentar, setelah membacanya.
Terima kasih