Puisi Part IV

Dumber Gambar: http://www.google.co.id/imgres?num=10&hl=id&sa=G&biw=1024&bih=571&tbm=isch&tbnid=jMW-_3xOALlPzM:&imgrefurl=http://candrabayupp.blogspot.com/2011/11/renungan-untuk-wanita-wanita-masuk.html&docid=yyXDmY2rDbqJrM&imgurl=http://2.bp.blogspot.com/-ysAN7SuSlQk/TskgPJdmWjI/AAAAAAAAAHw/YCgMlYTIZHg/s320/wanita%25252Bmerenung%25252Bdibawah%25252Bpohon.jpg&w=320&h=274&ei=W0EOUOjxKMjqrAf3uoHQAg&zoom=1&iact=rc&dur=275&sig=117516086484508108736&page=2&tbnh=118&tbnw=166&start=8&ndsp=21&ved=1t:429,r:5,s:8,i:114&tx=117&ty=64 
    

 PELANGI

Terlukis indah padah merahnya senja
Bukan karena kesombongan hadirmu
Hanya indah yang menawan parasmu
Mengapa engkau, bagaimana aku??

Katanya kamu jelmaan tujuh bidadari
Yang rela meninggalkan raga demi rakyat jelata
Terbakar pada amarah api senja menyala
Bergumul bersama asap pekat
Terurai antara nisbinya gerimis petang
Terukir indah tiada duanya

Aku bukan diktator penentu rasa
Fasisme tak bergeming padamu
Korupsi, kolusi dan nepotisme
Malu, tahu diri menjebakmu

Terakhir ini tidak indah
Aku lelaki kau pelangi
Memenjarakan jiwa merana
Aku tak mau mengumbar rasa
Entah pada siapa
Hanya pada katup senja yang berang
Bersama deringan bom bunuh diri
Pada laptopku yang kehabisan energi.




NYANYIAN JIWA

Satu persatu helai lelah mulai gugur
Meretas bersama payahnya raga ini
Sorotnya sinar mata mulai meredup
Melemah, letih mendera tak berujar

Ngiangan nyanyian tak kukenal
Mencoba membangunkan raga letih ini
Dengan suara serak memekakan telinga
Mengiang terus seakan tak ada batas penentu
Mungkin sekedar kesadaran dari diri
Bahwa yang lain terusik mengganggu
Atau norma yang telah dipelajari
Cuma sebuah ilustrasi penghibur waktu
Yang telah sirna entah ke mana;
Dibawa waktu yang telah pergi
Mungkin diterbangkan angin sore,
Sejenak bergoyang
Dengan irama alam
Yang tak pernah berubah

Aku teringat amarah sang bunda
Di kala siang tadi
Angin menerbangkan sepotong jemuran
Kering tapi masih lembab
Belum kering benar:
mengapa kau terbangkan
membuatnya terkapar
tidak berdaya
pada tajam kerikil karang
lalu ditimbuni debu
mengotori kembali
sesuatu yang hendak terbebas
dari kotoran yang mendera
sehingga aku mendapat marah:
gumamku perlahan
                                    2008

MUSKANAN BETHAN FLOBAMORAT

Beta muskanan bethan flobamorat
Perempuan berparas malaikat
Datang setiap malam pada mimpi pejabat
Berjuanglah biar semua tak melarat

Beta muskanan bethan flobamorat
Cerita dari pelosok negeri selatan
Hadir dengan moral dan kodrat
Menggema bumi matahari dan bulan

Saudaraku berjuang keras sampai tuntas
Orangku susah payah mendapat beras
Upacara rakyat semua datang memelas
Hidup berkelas berusaha untuk memeras

Ada juga saudara malas bekerja
Menunggu bantuan saja
Lainnya berkuasa mutlak raja
Menindas dengan kekuatan baja

Beta muskanan bethan flobamorat
Menangis bersimpuh di ujung jalan
Berharap hidup lebih demokrat
Hingga semua tak kelaparan

Beta muskanan bethan flobamorat
Bersatulah hai manusia terhormat
                                                2012

MISTERI MENGHANTU

Kumerangkai kata di terik siang
Bolong tak bermakna
Sesekali samar dangdut
Tetangga berkaraoke

Redup mata
Gairah tak mengundang
Lemah jantung berpacu

Aku menjadi misteri
Pada kata peringai sendiri
Kamu sulit dipahami
Antara lakon beribu kata sulit tebak
Kita membungkan misteri

Waktu berlalu
Hari berganti

Aku sibuk sendiri
Mencari engkau rasa
Menerka

Engkau mengukir pusing
Menghilang
Datang tanpa terbaca

Terpesona
Bosan
Rasa beraduk
Kau menghantu
19 Mei 2011

MENERAWANG SENJA

Aku berjalan dalam redup
Memerangi kegelapan
Ada pekat menghampiri
Kuberanjak segera
Kunang-kunang berterbangan
Layaknya semarak kembang api tahun baru

Aku berjalan dalam redup
Mengejar satu cahaya
Bukan rembulan
Bukan kunang-kunang
Tidak jua bintang

Cahaya itu menjauh
Kuberlari menggapai
Tak dapat
Hanya berkas-berkas di atas riakan sungai senja

Lesuh aku terduduk sendiri
Binatang malam menyayat hati
Aku terdiam
Ini bukan mimpi bukan nyata
Jiwaku menerawang senja
                                                 Champen, 5X10

MANISKU

SEMERBAK SENJA MARUN
KUTITIH TANGGA AWAN
MANIS YANG KUKECAP TERGANTIKAN

HARI KEMARIN BERLALU
KAMU PUJAAN NUBARIKU
SEMANIS NEKTAR JIWA INI
ANGANI TIAP TIDURKU
BUAIKAN MIMPI MANIS KITA

KUMEREMANG SENJA
MERENDA DENGAN BENANG CINTA
HAI, ADA APA MANISMU??
HINGGA KUJENUH DENGAN POLESAN CANTIK LAINNYA
GADIS DILUAR SANA ADALAH PALSU ADANYA

KAMU HADIR DENGAN SEJUTA KEINDAHAN TIADA BATAS
INGINKU KAMU TERUS DI SISIKU
JANGAN SEKALI BERPALING DARIKU

KAMU TERINDAH
BIDADARI YANG TERCIPTA UNTUKKU
AKU BENCI SENDIRI
AKU BENCI BERSAMA
TANPA DIRIMU

21 SEPT 2011

            MALAM SELASA
           

Menuntut dengan aktivitas menumpuk
Terpaku pada monitor yang tak bersuara
Dentingan instrument menerobos speaker
Syahdu menggema menyayat nubari

Bergumam di tengah kesendirian
Sunyi menyusup lewat hembusan angin
Malam berkabung tanpa gemintang
Suasana yang paling kubenci

Sunyi disergap gemuruh seng
Atas rinai hujan berubah lebat
Instrument tertutup suara alam

Kubesarkan volume winamp
Tak berdampak atas keributan alam

Aku berpenat lelah
Dihadiahi ngantuk memaksa mata
Tertidur tanpa sadar buat matikan lampu

                                                11 April 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, setelah membacanya.
Terima kasih