Puisi-Puisi Djho Izmail Part II


TAPAK BERJEJERAN

Tak tahu harus mulai dari mana
Bukan rasa yang membara nyala
Sekedar guyonan dengan kawan
Akan lelaki dengan wajahnya

Mungkin potret memberi semangat
Nuansa baru pada gerimis siang
Manisnya kau akan terlena
Polos kelihatan adanya dia

Sok kenal sok dekat
Teman beropini merta pada siang
Mungkin, aku tak pernah merasa
Manis kawan, lain mengumbar

Saat senja meremang petang
Malam mengubur perjalanan hari
Aku bersuka bersama kawan
Sampai temaram memanggil malam

Janji akan bertemu di malam penutupan
Aku terkendala telpon dari saudara tua
Teman menunggu tak sabar menanti
Tergesa seakan mengejar sang malam

Di atas kursi plastik aku terdiam
Menatap tak tahu apa dilihat
Seulas senyum dibalik remang
Wajah kukenal tanpa kubalas

Ingin aku mendekat sekedar menyapa
Niat terurung melihat kejadian ada
Semua turun membuatku tersipu malu
Satu persatu seakan ronda bergilir

Kembali dengan layu di hati
Mekar yang tak berani pemberani
Takut kumbang menghadir ejek
Mungkin  berbuah rasa yang percuma

Kembali ke pantai aku berdendang
Menghindar atau ingin aku kejar

                                    Rukar, 311210

TAK BERSAHABAT

Kuingin menikmati indahnya
Kumau menatap lekuk tubunya
Ku ingin meresapi aroma berhembus
Kumau mendengar nyanyian derunya

Ia berbalik marah padaku
Menderu sebisanya
Menghempas tubuhnya di atas pasir
Ia mengejarku
Sangat marah padaku

Ku berlari sekencangku,semauku
Ku berteriak sebisaku,semauku

Terpanah
Di belakangku telah hancur
Lebur, luluh lantah
Di buatnya

Mengapa kau marah padaku??
Tanya dirimu sendiri!!”:hardiknya
220408

SUDAH BOSAN HIDUP

Aku sudah bosan hidup
Karena topeng  kemunafikan
Telah menutupi wajah
Setiap makhluk planet ini

Aku sudah bosan hidup
Lantaran usaha yang kulakukan
Demi masa depanku
Mungkin juga demi sesamaku
Dianggap tipuan konyol
Yang paling menyakitkan hati
Orang yang paling dekat denganku

Aku sudah bosan hidup
Sebab aku merasa
Diriku yang paling sial
Tidak berguna bagi yang lain

Aku sudah bosan hidup
Akibat mata yang menatap tajam padaku
Karena mulut yang menghardikku
Karena senyum sinis mengejekku
Lantaran cinta palsu menyayangiku

Aku sudah bosan hidup
Karena hidup bosan padaku
Dengan rintangan menerpaku
Bukannya kutak mau berusaha
Kuakui aku ini makhluk social
Tak bisa hidup tanpa orang lain
Namun yang lain hanya mengumpatku
Bahkan sumpah serapah
Lantaran sedikit harapan
Kuutarakan pada mereka
                                    2008

SENYUM NISBI

Seribu senyum mengguyur bumi
Dalam diam dia tersenyum
Senyum dengan diam tanpa kata
Pelampiasan akan sunyi yang mendekap
Pada pagi yang bergerimis cahya

Senyum yang menertawakan kebodohan rasa
Sulit diduga bahwa rasa yang durhaka
Akan teman yang meminta persaingan
Biru buku dan penatnya buraman jiwa

Aku tak mengerti padanya rasa
Persaingan ini juga tak terasa
Hanya senyum kembali merasa
Senyum yang diampun merasa

Aku terhimpit paradigma palsu
Keyakinan berlebih tak berbukti
Beranikan buat senyum tanpa diam
Utarakan biar senyum manis tertawa
                                                2010


SENDIRI

Mengutuk pada hati beku
Jiwa hanya bisa merenung
Cemara yang rindang kemarin
Berderai, tanpa mimpi pasti
Buatnya hijau di akhir semi ini

Jiwa ini hanya merenung
Saat semua mengutuk pergi
Cinta manis di bibir saja
Percuma merasa, sekedar kata

Hari ini kembali berulang
Makna berlalu lewat
Tanpa arti penghibur hati
Cuma jalang bertekuk sendiri

Ah..
Cemara-cemara berderai
Rindang tak nampak lagi
Cuma bisu dalam sendiri
Cinta minggat tanpa cerita

Aku mengulum senyum
Pahitnya menyayat hati pedih
Senyum ke arahku tak pasti
Aku melolong di lorong
Pedih tak hilang
                        15sept2010

SEMINGGU DI RUMAH KAMAR
           
Saat mentari dengan kepagi-pagiannya
Kala tetesan embun dengan ketergesaan
Waktu kicauan burung liar di paginya

Kokokan jago menyertai semuanya
Tegukan air memenuhi kerongkongan
Tetes penyegar di awal hari
Duduk dan terpekur sendiri

Seminggu sudah di rumah kamar
Kadang kawan kadang tetangga
Datang menghampiri senja
Bercerita melihat lalu pulang

Aku tak pernah menyesali takdir
Orang yang membuatku begini tidak
Ini pengalaman paling berharga
Pertama dalam usia aku ada

Seminggu sudah di rumah kamar
Ini pengalaman paling berharga
Duduk dan terpekur sediri
Waktu kicau burung liar di paginya

Tak ada yang istimewa di rumah kamar
Aku hilir mudik dengan kesendirian
Hal yang paling aku benci
Cuma sekali tawaran mie sedapp
Malam tadi di saat menonton film

Mentari perlahan meninggi
Aku Cuma menanti waktu kuliah
Sendiri tanpa ada yang menemani
Sesekali terdengar suara di luar sana
Tak kuhiraukan demi kesendirian

Entah sampai kapan berakhir
Aku Cuma mempunyai mimpi
Mungkin dua tahun lagi
                        Rumah kamar, 16XI10

SEBUAH NAMA

Garis buram mengukir suatu masa
Enyahkan mimpi yang tidak pasti
Turut hadir bidadari manis nan cantik
Riuhkan subuh menjelang terbit mentari
Uluran tangan kian membanjiri
Dunia menilik renda mentari
Indah semarak menarik hati
Sirna muram durja permusuhan jagat
Mengembara pada tetes kehidupan
Beralir aroma bingarkan suasana
Alunan klasik alam menemani
Riang darah hitam manis
Arakan cerita waktu ke masa
Buat dunia tak menyesal adanya
Alam yang indah mengecap senyum
Namanya ukiran cinta dan persahabatan
Iringi hari senyum selalu ada
                                    2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, setelah membacanya.
Terima kasih