Nomen Est Omen

Maret 14, 2013 0 Comments A+ a-


Rajawawo

Pada dasarnya kebiasaan akan menjadikannya tradisi. Demikian juga dengan penyebutan atau penamaan pada setiap orang atau benda di daerah sebelah barat kabupaten ende, yang berjarak sekitar 40 km dari ibukota ende. nama yang berkaitan atau ditemukan awalakan dengan sendirinya mewakili atau untuk menamai sesuatu yang belum bernama.
sejarah awal nama rajawawo bisa dijelaskan melalui mitos ataupun legenda yang berkembang dalam keseharian masyarakat rajawawo, yang dituturkan secara turun temurun, sesuai dengan budaya tutur setempat. Karena budaya tutur, maka kebenarannya kadang belum bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Apalagi tidak adanya bukti yang merujuk pada penuturan tersebut. Biar bagaimanapun jika kita terus menunggu pendekatan ilmiah sesuai dengan bukti, maka hal ini tidak akan terwujud. Alangkah baiknya kita menelusuri pendekatan tersebut.
Menurut para penutur yang diwariskan secara terus menerus turun temurun. Konon katanya wilayah keseluruhan rajawawo pada awal mulanya adalah lautan. Entah apa yang terjadi atau mungkin fenomena alam air laut perlahan surut dan tak pernah pasang lagi. Dari situ munculah suatu hamparan tanah (tana ndu nde watu eku mbeju). Yang paling pertama adalah suatu daerah yang lebih tinggi. Di daerah tersebut ditemukan berbagai macam kepi (Kerang raksasa). Lambat laun masyarakat mulai berdatangan ke daerah tersebut. Karena daerah tersebutlah yang terlebih dahulu menjadi daratan. Dengan munculnya banyak kepi, maka daerah tersebut dinamakan Kepi. Kepi kemudian dikenal sebagai kampung awal. Muasal dari semua kampung di sekitar rajawawo bahkan nangapanda (Nua pu’u).
Rajawawo sendiri muncul kemudian. Berawal dari keinginan orang untuk mencari tempat lain. Di daratan tersebut ditemukan sebuah layar perahu (zadja) yang terdampar. Akhirnya masyarakat menyebut kampung tersebut dengan nama nua zadja wawo yang secara harafiah diterjemahkan sebagai kampung (nua) layar (zadja) di ketinggian (wawo). Dalam perjalannya terjadi perubahan pelafalan yang ditafsirkan karena mulai adanya kecenderungan orang sekitarnya yang sulit menyebutkan ‘Z’ dan menggantikannya menjadi ‘R’ sehingga samapai sekarang kita mengenalnya dengan sebutan rajawawo. Nama rajawawo sendiri berkembang sampai saat ini untuk mewakili semua kampung yang ada di sekitarnya.

Tulisan Terbaru

Sera Diri – Salah satu Tahap Perkawinan Tana Zozo.

Ilustrasi dari internet   “saya cintau dengan kau e…” “hmmm… gombal” “Tidak e. Serius” “kalo serius buktinya mana?” “bukti apa? Be...