Enid Blyton yang Bercerita di Kepalaku.



Cerita waktu kecil saya tidaklah istimewa. Saya hanyalah anak kampung yang Cuma mengenal semua
tentang kampung. Mulai dari mengambil air di mata air yang jaraknya kira-kira 3 kilometer dari rumah sampai mencari jambu, ara dan buah-buahan yang tumbuh liar di hutan lainnya. Permainan pun sangat sederhana seperti kelereng dll. Tidak ada gadget keren atau pun playstation.
Saya sebenarnya anak rumahan, itu karena bapak saya yang cukup konservatif dan keras. Saya diharuskan pulang rumah sebelum jam setengah enam. Jika tidak tahu sendiri akibatnya. Dimarahi dan yang paling ekstrim di pukul dengan kayu. Tak ada buku-buku untuk kami di rumah. Bapak tak ada uang untuk membelinya. Lagi pula, di kota kayaknya jarang ada toko buku selain menjual buku pelajaran dan buku tulis. Padahal saya bisa dibilang cukup bersemangat untuk membaca, sampai kadang saya penasaran dengan stensilannya (Novel Freddy S) kakak-kakak pemuda putus sekolah tetangga saya. Saya kadang nekat mengambil di bawah bantal mereka.
Sampai ketika saya melanjutkan sekolah di SMP tak ada buku yang saya baca selain buku pelajaran yang membosankan dan kadang buku cerita yang diterbitkan oleg dinas pendidikan dan kebudayaan. Tapi cerita dari buku itu membosankan dan tidak imajinatif. Selalu tentang kebaikan. Anak kecil yang berusaha dan menjadi sukses. Padahal peruntungan seseorang berbeda.
Di SMP saya harus bersyukur. Karena sekolah itu ada perpustakaan yang bagi saya itu perpustakaan terbesar di sekolah seluruh NTT. Banyak koleksi buku cerita yang bagus-bagus. Dalam pengetahuan saya yang minim, buku terbitan gramedialah yang paling bagus. Di sana kami disarankan untuk selalu membaca buku. Dan buku-buku yang pas dan dinyatakan cocok oleh pengelola perpustakaan adalah buku-buku cerita petualangan anak karya Enid Blyton. Ada LIMA SEKAWAN dan SAPTA SIAGA (The Secret Seven). Itulah buku yang saya baca waktu SMP.
Buku itulah yang kami baca waktu SMP. Dan ada semacam persaingan waktu itu. Siapa yang terlebih dahulu menyelesaikan semua serinya. Dengan buku-buku ini juga yang membuat wawasan dan imajinasi saya berkembang. Samapi saya pada waktu itu bercita-cita menjadi agen rahasia. Bagai saya itu keren. Bisa mengungkapkan persekongkolan kejahatan demi menjaga kedamaian dunia.
Cerita tentang penulisnya juga membuat kami bertengkar. Waktu itu karena setiap bukunya jarang menampilkan biodatanya kami menjadi saling menyanggah tentang jenis kelaminnya. Teman lain berpikir di laki-laki, termasuk saya, karena kami hanya menilai dari namanya dan ada juga yang berpikir jika dia perempuan. Tapi sekarang kebenarannya sudah terungkap. Apa jenis kelamin Enid Blyton.
Terima kasih Enid Blyton.
Silakan klik di sini untuk mengetahui lebih lengkap profil Enid Blyton.

Sumber gambar: http://www.biographyonline.net/writers/enid-blyton.html

2 komentar:

  1. kaka jo suka enid blyton ju? sama kaka :D b ju fansnya enid blyton, dulu masih SD ikuti beberapa cerita 5 sekawan :D

    BalasHapus
  2. Iya... Ketong sampe ketinggalan satu serinya, karena hilang dari perpus sekolah "MEMBURU KERETA API HANTU".

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, setelah membacanya.
Terima kasih