Surat Tentang Curahan Hati Buata Mathemesi



Dalam malam yang penuh dengan omong kosong, saya mulai lagi menulis surat buat kamu, Mathemesi. Apa
Ilustrasi oleh Ricky Punang
kabarmu hari ini dan pada waktu kita yang berjarak itu? Saya dalam keadaan yang kurang sehat. Saya melihat televis
i di rumah telah menjadi semacam tujuan paling hakiki seseorang tentang pencarian sejati hidup ini.
Tentang televisi itu. Ia telah menjadi semacam sekeping uang logam. Punya dua sisi yang bersebrangan. Sama halnya dengan manusia yang memiliki dua sisi. Gelap dan terang. Pada suatu sisi dia menjadi hiburan dan pada sisi lain dia membikin sakit hati.
Percaya atau tidak – saya berharap, engkau percaya saja, Mathemesi. Saya jujur orangnya. Sama halnya dengan ketulusan cinta saya pada dirimu hingga detik ini.— televisi telah membuat sebuah jurang pemisah antara manusia dengan Sang Pemberi kehidupan, antarsesama dan antara alam dengan manusia. Ketiganya relasi yang komplit, namun telah dipisahkan oleh televisi. Seperti saya yang lupa bahwa ini bulan rosario sehingga sambil tertawa ngakak saya menontot acara politik, atau drama korea DOTS yang sedang hangat dibicarakan. Ada juga saya yang lupa menyiram tanaman yang sudah saya tanam dengan rasa bangga, dan ada lagi tentang perebutan remote tivi. Ini yang paling rumit, Mathemesi. Mesti saya buat paragraf sendiri.
Tentang perebutan remote, telah menjadi semacam perebutan jalur gaza. Mama yang eksis dengan sinetron india berjudul Uttaran. Bapa yang sampai “darah tinggi” dengan televisi yang pemberitaannya monoton tentang pejabat yang korupsi, WNI yang disandera, hukuman mati pengedar narkoba dan yang terbaru sekarang tentang hukuman bagi penjahat seksual. Adik saya yang baru ABG itu tak mau ketinggalan Anak Jalanan yang katanya anak sekolah tapi tiap hari dijalanan dengan motor sport itu.
Mathemesi, tolonglah. Bantu saya yang galau ini. Televisi telah memberikan rumah kami yang sederhana namun nyaman itu berubah layaknya medan pertempuran. Perang urat saraf dan aksi boikot remote tivi. Mama mengancam tak menyiapkan sarapan pagi. Bapak menegaskan tentang uang belanja, adik mogok tak mau sekolah dan saya berteriak lapar karena sudah tamat sekolah dan dapat uang dari bapak tapi tak pernah dapatkan makan dari uang sendiri.
Saya berencana membelikan televisi untuk masing-masing kami, namun tak ada biaya. Buat makan saja masih susah. Terpaksa karena tidak ada yang mau dikerjakan saya kembali menulis surat untukmu. Semoga kamu tak setengah hati menerima lalu membacanya.
Oh ya, saya ingin mengajakmu mengikuti ritual khusus Komunitas SARE untuk ibadah puisi itu. Siapa tahu kamu berbakat untuk baca puisi. Jika kamu masih malu-malu biarlah saya mebacakan puisi yang saya baca dari isi kepala dan perasaan hati saya sendiri untuk dirimu.
Sekian dulu e. jao mau tidur dulu. Siapa tahu mimpi ketemu bidadari yang wajahnya mirip kamu.

See u later


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, setelah membacanya.
Terima kasih