BKKBN dan Kondom

Sore yang cerah. saya duduk di pinngir pantai, sambil menikmati debur ombak dan melihat anak-anak yang asyik berenang maupun memancing di genangan air di sela-sela karang. Di samping saya duduk, ada sebuah bak penampung sampah yang dibangun setahun yang lalu.
Saya tertarik melihat sebuah plastik kecil yang digunakan membungkus sesuatu. Plastik berwarna merah muda itu ternyata pembungkus kondom. Saya memperhatikan lebih lama. Ada tertera tulisan berwarna hitam dengan huruf kapital. BKKBN.
Mengingat tulisan BKKBN tersebut, saya jadi kembali mengingat masa Sekolah Dasar saya dulu. Kadang guru menyuruh kami untuk menghafal banyak singkatan maupun akronim beserta kepanjangannya. Saya jadi ingat, jika dulu guru pernah memberi tugas untuk mencari kepanjangan BKKBN.
Namun, dasar otak micin. Saya terlanjur lupa dengan kepanjangan BKKBN tersebut. Ah, seandainya ada salah satu anak yang berenang tersebut datang dan bertanya tentang ini, saya harus jawab apa? saking penasaran dengan ini, saya mencoba mengirim pesan kepada teman saya yang saya anggap sebagai kamus berjalan. Dari seberang sana, ia membalas,”bro, su tua tir tau kepanjangan BKKBN? ke laut saja. BKKBN itu kepanjangannya Bocor Kondom Keluar Bayi Nakal”
Saya tidak serta merta percaya. Saya mencoba terus mencari jawabannya. Sampai saya teringat bahwa, kurang lebih  dua minggu yang lalu, tepatnya, Hari Kamis, 19 Oktober 2017, Saya mengikuti sebuah kegiatan yang digagas oleh Komunitas Sastra Rakyat Ende yang dikenal dengan Komunitas SARE bekerja sama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Ende, menggelar pertemuan untuk Pegiat Sosial Media. Harapannya, pegiat sosial media, mampu mentrasfer pengetahuannya yang didapat saat itu tentang masalah HIV/ AIDS dan berbagai macam Stigma maupun Diskriminasi yang terjadi di masyarakat terhadap Orang Dengan HIV/ AIDS (ODHA)
Di masyarakat saat ini, masih banyak orang yang merasa diri paling bersih. Berusaha mengucilkan sesama yang sakit. Padahal, jika ditelaah lebih jauh, ODHA memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk menularkan penyakit yang ia derita ke kita, dibandingkan sesama kita yang menderita penyakit seperti influenza atau juga tubercolosis.
Masih banyak perlakuan yang tidak wajar dilakukan masyarakat, bahkan dalam pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan sekalipun. ada beberapa petugas yang berusaha memproteksi diri secara berlebihan hanya karena mengetahui seorang pasien atau pasien yang sedang dirawatnya mengidap HIV/ AIDS.
Kembali lagi ke persoalan kondom tadi. masih banyak orang yang melakukan “jajan” di luar tanpa menggunakan kondom, sehingga wajar saja ketika kembali rumah, ia “menyumbang” apa yang didapat kepada istrinya, jadi otomatis memberikan kontribusi angka yang lumayan besar untuk pengidap HIV/ AIDS di Kabupaten Ende salah satunya ialah Ibu Rumah Tangga (IRT).
Saya mengandaiakan, duania ini betul-betul memiliki orang yang saling peduli terhadap sesama. Siapapun dia. Dan dalam keadaan apapun dia.
#Ngumpul_ngumpul_Pegiat_Medsos
#Stop_Stigma_Diskriminasi_ODHA
#Komunitas_Sare
#KPA_Kabupaten_Ende

BKKBN dan Kondom

Sore yang cerah. saya duduk di pinngir pantai, sambil menikmati debur ombak dan melihat anak-anak yang asyik berenang maupun memancing di genangan air di sela-sela karang. Di samping saya duduk, ada sebuah bak penampung sampah yang dibangun setahun yang lalu.
Saya tertarik melihat sebuah plastik kecil yang digunakan membungkus sesuatu. Plastik berwarna merah muda itu ternyata pembungkus kondom. Saya memperhatikan lebih lama. Ada tertera tulisan berwarna hitam dengan huruf kapital. BKKBN.
Mengingat tulisan BKKBN tersebut, saya jadi kembali mengingat masa Sekolah Dasar saya dulu. Kadang guru menyuruh kami untuk menghafal banyak singkatan maupun akronim beserta kepanjangannya. Saya jadi ingat, jika dulu guru pernah memberi tugas untuk mencari kepanjangan BKKBN.
Namun, dasar otak micin. Saya terlanjur lupa dengan kepanjangan BKKBN tersebut. Ah, seandainya ada salah satu anak yang berenang tersebut datang dan bertanya tentang ini, saya harus jawab apa? saking penasaran dengan ini, saya mencoba mengirim pesan kepada teman saya yang saya anggap sebagai kamus berjalan. Dari seberang sana, ia membalas,”bro, su tua tir tau kepanjangan BKKBN? ke laut saja. BKKBN itu kepanjangannya Bocor Kondom Keluar Bayi Nakal”
Saya tidak serta merta percaya. Saya mencoba terus mencari jawabannya. Sampai saya teringat bahwa, kurang lebih  dua minggu yang lalu, tepatnya, Hari Kamis, 19 Oktober 2017, Saya mengikuti sebuah kegiatan yang digagas oleh Komunitas Sastra Rakyat Ende yang dikenal dengan Komunitas SARE bekerja sama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Ende, menggelar pertemuan untuk Pegiat Sosial Media. Harapannya, pegiat sosial media, mampu mentrasfer pengetahuannya yang didapat saat itu tentang masalah HIV/ AIDS dan berbagai macam Stigma maupun Diskriminasi yang terjadi di masyarakat terhadap Orang Dengan HIV/ AIDS (ODHA)
Di masyarakat saat ini, masih banyak orang yang merasa diri paling bersih. Berusaha mengucilkan sesama yang sakit. Padahal, jika ditelaah lebih jauh, ODHA memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk menularkan penyakit yang ia derita ke kita, dibandingkan sesama kita yang menderita penyakit seperti influenza atau juga tubercolosis.
Masih banyak perlakuan yang tidak wajar dilakukan masyarakat, bahkan dalam pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan sekalipun. ada beberapa petugas yang berusaha memproteksi diri secara berlebihan hanya karena mengetahui seorang pasien atau pasien yang sedang dirawatnya mengidap HIV/ AIDS.
Kembali lagi ke persoalan kondom tadi. masih banyak orang yang melakukan “jajan” di luar tanpa menggunakan kondom, sehingga wajar saja ketika kembali rumah, ia “menyumbang” apa yang didapat kepada istrinya, jadi otomatis memberikan kontribusi angka yang lumayan besar untuk pengidap HIV/ AIDS di Kabupaten Ende salah satunya ialah Ibu Rumah Tangga (IRT).
Saya mengandaiakan, duania ini betul-betul memiliki orang yang saling peduli terhadap sesama. Siapapun dia. Dan dalam keadaan apapun dia.
#Ngumpul_ngumpul_Pegiat_Medsos
#Stop_Stigma_Diskriminasi_ODHA
#Komunitas_Sare
#KPA_Kabupaten_Ende

5 Merek Dagang yang Mewakili Nama Barang Sejenisnya.

Bahasa menunjukan bangsa. Ini merupakan adegium kalsik yang memang benar adanya. Bahasa menunjukan identitas personal seseorang. Mulai dari kesantunan bahkan sampai pada asal, adat istiadat dan suku bangsanya. Bahasa pula yang mempersatukan kita sebagai media komunikasi yang efisien. Bayangkan seandainya kita tak saling mengerti bahasa diantara lawan bicara kita. Bisa saja ada terjadi berbagai masalah.
Mengenai bahasa, juga dipengaruhi oleh latar belakang budaya dan tren setempat. Seperti di daerah Nusa Tenggara Timur dengan dialek  yang berbeda dengan daerah lain, juga mempunya beberapa nama atau sebutan yang populer pada awal perkenalannya di masyarakat dan kian menjadi nama untuk segala macam merek dagang yang lain.
Berikut ini ada beberapa nama merek dagang yang menjadi nama atau bahasa lokal untuk mewakili setiap benda tersebut walau berbeda merek dagang.
1. Honda
Hampir sebagain besar daerah di Kabupaten ende menyebut semua sepeda motor dengan sebutan Honda. Hal ini dipicu dari awal kemunculan sepeda motor Honda astrea yang lagi tren di akhir tahun 80-an. Sepeda motor tersebut hanya bisa dibeli oleh Pegawai Negeri Sipil dan beberapa guru sekolah dasar yang mengajar di kampung-kampung.
Kecenderungan menyebut honda tersebut kemudian menyebar pada munculnya kendaraan bermotor tersebut dengan merek dagang yang berbeda. Lidah mereka seolah telah terbiasa dengan menyebut Honda sehingga walaupun muncul merek lain selalu menyebutnya dengan honda.
Padahal di awal tahun 2000-an mulai muncul berbagai merek lain seperti yamaha, suzuki, kawasaki dan merek lainnya dari China. Namun, seiring dengan perkembangan pengetahuan masyarakat, orang mulai menyadari dan menyebutnya motor. Tapi, di masyarakat pedesaan masih banyak menyebut dengan panggilan honda.

2. Aqua
Minuman kemasan ini memang sangat tenar di daerah NTT. Orang menyebutnya dengan nama aqua. Walaupun ada beberapa kasus orang yang ingin membelinya mengira bahwa minuman kemasan ini mempunyai rasa lain. Seperti manis atau mint. Terkadang ada yang membuangnya begitu merasakan ternyata minuman ini tidak berasa. Hal ini dipicu karena kurangnya informasi sejak kemunculan awalnya.
Sekarang ini, banyak minuman air mineral yang beredar di pasaran. Baik yang berkemasan botol atau pun gelas. Namun, orang selalu menyebutnya dengan nama aqua untuk semua merek air mineral kemasan tersebut.

3. Rinso
Detergen apa pun yang dijual dipasaran selalu disebut rinso. Misalkan mama meminta bantuan kita untuk membeli detergen tersebut di pasar atau warung dekat rumah, selalu menyebutnya rinso. “ anak, kau tolong pergi beli rinso di kios depan dulu” padahal bisa saja yang dimaksud itu, Daia, So klin atau pun detergen merek lainnya.

4. Swallow
Swallow yang dimaksud adalah merek salah satu sandal jepit. Karena, mungkin merek ini yang paling pertama muncul di pasaran masyarakat kami, sehingga namanya menjadi tren dan mewakili semua nama sendal jepit dengan merek lainnya.

5. Spuit
Spuit yang dimaksud di sini adalah sebutan untuk segala macam cat semprot. Entah dari mana asal namanya, spuit itu dinamakan pada semua bentuk dan merek cat semprot atau pilox tersebut.