Percakapan Imajinatif nan Absurd dengan Mathemesi di Sebuah Pertemuan Dunia Maya.



Telah lama saya tidak lagi melihat, mengingat, bahkan berkomunikasi dengannya. Entah kenapa malam ini, saya begitu melankolis. Kembali mengingatnya. Tentang kenangan. Tentang rasa. Tentang penolakan. Tentang sakit. Tentang hati dan yang patah. Lalu saya mulai mengandaikan. Membikin imajinasi absurd tentang percakapan dengannya.

“Kamu di mana? Saya jemput e?”

“hahahaha jemputan? Ini sdh pukul 00.27 WITA. Kita harus istirahat. Gbu”.

“Tunggu dulu ka”

“Sekarang 00.28. Saya kasih waktu 1 menit untuk ketik kenapa jangan dulu tidur dan harus tunggu?”

“Saya mau ngobrol. Itu saja. Titik.”

“Ini sudah pukul 00.30. Besok pagi saja kalau mau ngobrol 😀

“Kalo besok pagi saya menghadap yang Maha Kuasa?”

“Pesimis sekali... Hahaha... Ok sekarang 00.31, 29 menit ke depan ngobrol”.

“Tq. Asl?”

“Khayangan. Taman Eden tapi dari kecil tinggal di Khayangan”.

“Age-sex-location. Standart chattingan MiRC”

“23 – Khayangan – Female”

“Hobby?”

“Balas chatting tengah malam”

“Punya pacar exfrater?”

“Frater.. Tapi sudah mantan... Hahaaa”

“Kalo saya ajak pacaran? 😛

“Semudah itu ajak pacaran?”

“Iya. Pacaran itu mudah. Mempertahankan yang sulit”

“Pengalaman kow? Hahahaha”

“Jawab dulu pertanyaan saya!”

“Saya lebih suka menikmati kesendirian 😀

“Terus exfrater?”

“Yang di foto profil saya kemarin? Hahahaha... Ya ampun betapa beruntungnya punya kaka ex ef er yang tidak mirip biar bisa menutupi status adiknya yang jomblo..”

“Hmmm... boleh tau minat kuliahnya kemarin?”

“Saya tidak kuliah. Saya hanya orang kampung yang hanya tamatan SMA kaka”

“Serius?”

“Ini pertanyaan serius untuk pernyataan yg mana?”

“Yang tentang kuliah itu”

“Serius...”

“Yakin, tidak sedang berusaha membohongi lawan bicara? Eh, maksudnya lawan chatting”

“Hahahahahaha... Matematika”

“Semua bilangan kalo dibagikan nol hasilnya berapa?”

“Tak terdefinisi”

“kalo dikalikan nol?”

“0”

“Punya minat di tulis menulis?”

“Ah tdk.. Hanya baca saja.. Saya hanya punya minat di fisika bahkan saya tidak menyukai matematika”

“berarti kamu orangnya suka orang dari fisiknya? 😛

“Ah tidak...”

“Oh ya. Mau pacaran?”

“nanti kalo saya sudah bisa jatuh cinta (lagi) 😀
00.55 artinya 5 menit lagi tidur”

“cinta bukan untuk jatuh tapi untuk dirasakan dan diselami
Mau ajak saya tidur?”

“nanti kalo saya sudah rasa cinta 😀
4 menit lagi”

“oh miss time keeper”
“seberapa beratnya untuk merasakan cinta lagi?”

“matematika selalu dekat dengan angka2. Saya terbiasa untuk selalu liat waktu sejak masih SMA.
Hahahaha... 1000 ton lebih”

“waktu memang tidak bisa diulang tetapi kesempatan untuk ngobrol dengan saya dan dengan suasana hati yang pas tidak bisa diulang”

“berarti cinta itu beban kalo kamu menakarnya dengan ukuran”

“asyeekkk. Nanti kalo kesempatan dan suasana hati sudah pas baru ngobrol lagi.
30 Second”

“minta no hp ato wa dll”

“01.00. Selamat pagi. Selamat tidur. Gbu
082234345678”

“selamat pagi. Selamat tidur.
Opss.. saya simpan dgn nama apa?”


“simpan saja pake nama "Ms. Time Keeper"”

Kami menghilang dalam mimpi masing-masing. Saya berharap, mimpi bertemu dengannya. Mungkin, di sebuah senja. Di tepi pantai. Duduk berdua. Saling ngobrol lewat media sosial. Sambil minum kopi. Masih mengobrol tapi lewat gadget di tangan masing-masing. Dan kira-kira begini obrolan absurd di sore itu.

“sore Djho ismail. Apa kabar?”

“puji tuhan baik.
Ismail pake z bukan s”

“oh iya izmail”

“Tq. Lagi apa?”

“Ur wc... Lagi duduk2 saja djho.
Ini nama pnggilannya siapa sih sebenarnya”

“Djho. Sibuk apa?”

“tidak sibuk apa2 djho”

“oh. Berarti patung”

“terus yang balas engko pu chat ni patung?”

“kan bilang tidak sibuk apa2”

“ya ampun jd kalo sy bls chat nya djho saya harus menjelaskan sedetail mgkin bgtu? Biar tdk dibilang patung”

“paling tidak kasitau”

“ok saya lg duduk2 di tepi pantai. Sambil minum kopi. Di sebuah sore yang manja, plus sibuk balas chat
Itu tdk detail to 😛
17.36 saya mau pulang mandi 14 menit lagi”

“Hahahaaa... berarti dari tadi belum mandi?
Di saya punya jam masih 5:37 e
Berarti masih sangat lama”

“Susah ah omong sama ini orang..”

“Susah di mananya? Apanya? Tu bisa to?

“05.37 bermakna ganda 05.37 a.m beda loh sama 05.37 p.m”

“tinggal omong begitu kan beres.
Makanya jam berputar terus karena lagi cari angka 13 😛

“Hahahaha..... Cerdas”

“ketawa jangan terlalu keras e.
Habiskan kopi itu”

“daaa sa mo pulang mandi...”

“saya titip”

“apa?”

“cuci kas bersih b pung hati 😛

“njiirrr. Hahahaha Sa mandi dulu”

“ok. Jam berapa lanjut lagi?”

“saya mandi gesit... 18.05 paling sudah selesai”

Satu jam kemudian.

“Su harum?”

“sudah dari tadi.. Ada WA saya? Saya baru selesai makan”
Percakapan Obrolan Berakhir

Gissela dan Ulang Tahun



Gissela namanya. Keponakan saya. Kami sama-sama tinggal serumah. Sifat kanak-kanaknya membuat ia ingin menguasai semua dari orang tuanya. Seperti remote TV dengan chanel anak-anak, bangku dan yang lainnya. Dia baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke empat pada tanggal lima maret yang lalu. Tepat sepuluh hari setelahnya, saya merayakan ulang tahun. Pada hari ulang tahunnya, ia begitu bersemangat. Mama dan ayahnya menyiapkan acara kecil untuk hari ulang tahunnya. Mengundang beberapa anak tetangga, teman sepermainannya dan juga beberapa teman-teman kantor orang tuanya yang bekerja di Puskesmas Maubasa.
Sore sebelumnya, ia nekat membagikan kartu undangan yang sudah ditulis sebelumnya oleh mamanya. Saya merasa lucu, perihal semangatnya. Ia belum bisa baca, tapi mau mengantarkan undangan. Takutnya salah tujuannya. Hehehee.. tapi ternyata undangannya habis dibagikan. Kurang tahu apakah tepat dengan nama penerima.
Mungkin, pada ulang tahunnya, orang banyak menyanyi lagu selamat ulang tahun, happy birthday dan potong kue, dll. Dia jadi hafal semua lagu-lagu tersebut. Kehebohannya muncul lagi dari kemarin sore. Ketika mamanya membuatkan beberapa kue untuk kami rayakan bersama dalam rangka ulang tahun saya. Ia terus menyanyikan beberapa lagu bernuansa ulang tahun kepada saya. Bahkan beberapa teman jauh, yang mendengar lewat telepon merasa lucu. (pada saat dia menyanyi, saya sedang menerima telepon). Juga mengucapkan selamat ulang tahun berulang-ulang kepada saya. “selamat ualang tahun, Om Djho” sambil mencium tangan saya.
Pagi ini, Gissela masih saja dengan kehebohannya. Setelah mandi, ia menegur saya, yang baginya salah kostum. “Om Djho, tidak boleh pake baju itu” ia melihat saya memakai pakaian kantor. Mungkin baginya ulang tahun itu harus berpakaian yang beda. Saya kurang tahu, pakaian apa yang ia maksudkan. Dari dalam kamar, saya mendengar dia, meminta ayahnya untuk mengenakan dia baju pesta. “Ayah, cari baju pesta sa”.
Bagi Gissela, ulang tahun adalah pesta. Hal ini sedikit bertolak belakang. Saya yang dari lahir tak pernah merayakan hari ulang tahun merasa sedikit ganjil. Maklum hari lahir saya yang ditolong dukun, hanya melaksanakan ritual-ritual peninggalan dari nenek moyang.
Selamat ulang Tahun Gisella. Selamat Ulang Tahun Om Djho. 

Maubasa, 16 Maret 2017

Smartphone dan Pemegangnya yang Tak Smart



Ponsel pintar alias smartphone sudah menjadi barang yang wajib dimiliki oleh setiap orang. Smartphone menjadi kebutuhan yang mesti ada bagi setiap orang. Sebagai gaya hidup dan tuntutan kebutuhan komunikasi. Selain fungsi telepon dan juga fungsi pesan singkat, smartphone juga menghadirkan fungsi lain dengan bantuan internet. Bisa digunakan untuk menerima dan mengirim informasi audio maupun visual dalam bentuk tulisan maupun gambar.
Semenjak munculnya berbagai tawaran media sosial dengan berbagai keunggulannya, seolah informasi hanya terletak pada jari kita. Dan hari ini, informasi yang dikatakan pada jari kita tersebut benar-benar terbukti. Sebuah kejadian yang menyedihkan dialami oleh sesama saudara, anak-anak kita di Sabu, Nusa Tenggara Timur. Ada seseorang yang diduga stres, menyerang sebuah sekolah dan melukai beberapa anak sekolah.
Kejadian itu membuat gaduh linimasa di akun media sosial saya, khususnya facebook. Orang dengan berbagai informasi yang simpang siur berusaha menjadi yang terdepan memberikan informasi terkini, walaupun menurut pengamatan saya, ada yang tak berada di lokasi kejadian, namun dengan gaya seolah sedang meliput kejadian itu, memberikan informasi yang juga ia dapat dari orang lain. Adanya informasi berantai ini membuat sebagian orang mulai berpikir dan menyimpulkan sesuai dengan pemahamannnya.
Hanya karena membaca status seseorang di facebook dengan smartphonenya, orang mulai berasumsi. Mulai adanya berbagai pendapat tanpa ada solusi yang baik. Orang mengedapankan info sepihak tanpa kroscek untuk kebenaran sebuah berita. Berita yang di dapat seolah menjadi sabda dari pencipta. Menjadi kebenaran mutlak.
Di sini, saya menyimpulkan. Dengan maraknya pengguna smartphone, orang atau pengggunanya tak berpikir smart (cedas) orang berlomba berpendapat tanpa solusi. Dunia menjadi pabrik kata-kata. Seandainya ada tempat sampah untuk kata-kata yang tak terpakai atau tak berguna, tentu dunia ini telah dipenuhi sampah itu.
Semoga bumi ini menjadi damai, tanpa provokasi dan pemahaman keliru yang tidak disaring terlebih dahulu oleh kita pengguna smartphone. #PrayForSabu.