Tampilkan postingan dengan label adat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label adat. Tampilkan semua postingan

5 Merek Dagang yang Mewakili Nama Barang Sejenisnya.

Bahasa menunjukan bangsa. Ini merupakan adegium kalsik yang memang benar adanya. Bahasa menunjukan identitas personal seseorang. Mulai dari kesantunan bahkan sampai pada asal, adat istiadat dan suku bangsanya. Bahasa pula yang mempersatukan kita sebagai media komunikasi yang efisien. Bayangkan seandainya kita tak saling mengerti bahasa diantara lawan bicara kita. Bisa saja ada terjadi berbagai masalah.

Mengenai bahasa, juga dipengaruhi oleh latar belakang budaya dan tren setempat. Seperti di daerah Nusa Tenggara Timur dengan dialek  yang berbeda dengan daerah lain, juga mempunya beberapa nama atau sebutan yang populer pada awal perkenalannya di masyarakat dan kian menjadi nama untuk segala macam merek dagang yang lain.

Berikut ini ada beberapa nama merek dagang yang menjadi nama atau bahasa lokal untuk mewakili setiap benda tersebut walau berbeda merek dagang.

1. Honda
Hampir sebagain besar daerah di Kabupaten ende menyebut semua sepeda motor dengan sebutan Honda. Hal ini dipicu dari awal kemunculan sepeda motor Honda astrea yang lagi tren di akhir tahun 80-an. Sepeda motor tersebut hanya bisa dibeli oleh Pegawai Negeri Sipil dan beberapa guru sekolah dasar yang mengajar di kampung-kampung. 

Kecenderungan menyebut honda tersebut kemudian menyebar pada munculnya kendaraan bermotor tersebut dengan merek dagang yang berbeda. Lidah mereka seolah telah terbiasa dengan menyebut Honda sehingga walaupun muncul merek lain selalu menyebutnya dengan honda.
Padahal di awal tahun 2000-an mulai muncul berbagai merek lain seperti yamaha, suzuki, kawasaki dan merek lainnya dari China. Namun, seiring dengan perkembangan pengetahuan masyarakat, orang mulai menyadari dan menyebutnya motor. Tapi, di masyarakat pedesaan masih banyak menyebut dengan panggilan honda.


2. Aqua
Minuman kemasan ini memang sangat tenar di daerah NTT. Orang menyebutnya dengan nama aqua. Walaupun ada beberapa kasus orang yang ingin membelinya mengira bahwa minuman kemasan ini mempunyai rasa lain. Seperti manis atau mint. Terkadang ada yang membuangnya begitu merasakan ternyata minuman ini tidak berasa. Hal ini dipicu karena kurangnya informasi sejak kemunculan awalnya.


Sekarang ini, banyak minuman air mineral yang beredar di pasaran. Baik yang berkemasan botol atau pun gelas. Namun, orang selalu menyebutnya dengan nama aqua untuk semua merek air mineral kemasan tersebut.


3. Rinso
Detergen apa pun yang dijual dipasaran selalu disebut rinso. Misalkan mama meminta bantuan kita untuk membeli detergen tersebut di pasar atau warung dekat rumah, selalu menyebutnya rinso. “anak, kau tolong pergi beli rinso di kios depan dulu” padahal bisa saja yang dimaksud itu, Daia, So klin atau pun detergen merek lainnya.


4. Swallow
Swallow yang dimaksud adalah merek salah satu sandal jepit. Karena, mungkin merek ini yang paling pertama muncul di pasaran masyarakat kami, sehingga namanya menjadi tren dan mewakili semua nama sendal jepit dengan merek lainnya.


5. Spuit
Spuit yang dimaksud di sini adalah sebutan untuk segala macam cat semprot. Entah dari mana asal namanya, spuit itu dinamakan pada semua bentuk dan merek cat semprot atau pilox tersebut.

Ende Kehilangan Identitas



Judul ini saya beri, atas kegelisahan saya yang melihat bahwa ende dan masyarakatnya telah kehilangan identitasnya. Identitas melalui simbol-simbol, budaya, bahasa dan sosial lainnya mulai pudar (Untuk tidak dibilang punah). Hal ini dipengaruhi oleh berbagai aspek. Saya menulis ini murni dari sudut pandang saya pribadi, sehingga tidak menutup kemungkinan adanya salah tafsir maupun kesalahpahaman, namun semuanya ini hanya sebagai bukti bahwa saya mencintai ende. Tempat tumpah darah saya dan tempat identitas saya sebagai orang ende tumbuh dan mengakar.
Sebagai anak ende dari pegunungan, saya melihat ende jauh lebih luas. Tentang budaya yang begitu kental, bahasa yang satu namun beraneka ragam dialek dan yang paling penting namun belum disadari betul ialah tentang adanya pengkotak-kotakkan. Beberapa wilayah bahkan kampung, mulai mengagungkan keunggulan mereka. Lihat saja dengan pelabelan ata ma’u (orang pantai) atau ata ndu’a (orang gunung) dan sebagainya.
Pelabelan itu bahkan membuat suatu wilayah bisa saja terjerumus dalam gengsi yang membuat adanya perubahan, sehingga nampaklah perubahan besar dimana kebudayaan dari luar mampu mempengaruhi tanpa difilter dengan baik. Semuanya itu yang menjadikan ende dan masyarakatnya kehilangan identitas asalinya.
Aksara Lota dan Sara Ende.
Sebagian besar dari kita saya akui memang tak mengenal aksara lota. Aksara yang dibawa dari Kerajaan Gowa pada abad ke enam belas dan mengalami perubahan bentuk di ende ini, menjadi barang asing di negeri sendiri. Tak ada yang mengenalnya secara utuh, bahkan mendengarnya pun tak pernah. Saya pernah bertanya pada beberapa anak muda ende dan tak seorang pun mengetahuinya. Pernah saya bertanya pada seorang dosen bahasa dan sastra yang mengajar di sebuah perguruan tinggi di ende, ia dengan senyum menggelengkan kepala.
Artinya kita benar-benar sulit mengenal kebudayaan sendiri. Sikap malas tahu dan menganggap budaya sendiri sebagai sebuah hal yang kolot dan tak mengikuti perkembangan zaman menjadi alasannya. Orang lebih melihat kebudayaan luar sebagai hal yang baik dan harus diminati. Kebudayaan luar menjadi kiblat sedangkan adat istiadat sendiri dianggap kuno dan barang antik.
Hal ini diperparah dengan sikap acuh tak acuh dari pemerintah dan berbagai stakeholder yang mengaku sebagai garda terdepan dalam mempromosikan dan mengembangkan kearifan lokal kita. Tak pernah ada mata pelajaran tentang aksara lota ini di pelajaran muatan lokal atau seni budaya. Kita bahkan harus menghafal berbagai kejadian masa lampu dari luar wilayah bahkan luar negeri tentang perang dunia dan sebagainya sedangkan sejarah dan budaya daerah kita sendiri dikesampingkan.
Selain tentang aksara lota ada juga sara ende atau bahasa ende. Indentitas bahasa ini mulai perlahan hilang digempur gengsi. Kuatnya pengaruh sosio politik bahasa indonesia yang mempengaruhi seluruh komponen pembicaraan kita sehingga bahasa ende hanya bisa ditemukan di kampung-kampung dan acara adat wilayah setempat.
Seorang teman bercerita tentang kejadian masa kecilnya. Ia berujar mengikuti anak tetangga tentang saya dalam bahasa ende (Ja’o), mulutnya bahkan dipukul oleh orang tuanya. Ini sebuah pertanda seolah bahasa daerah adalah hal yang haram bagi anak kecil. Mereka hanya boleh menggunakan bahasa indonesia yang dinilai memiliki nilai sosial lebih tinggi. Bahasa daerah atau sara ende dianggap lebih rendah tingkat sosialnya dibandingkan dengan bahasa indonesia.
Di sekolah-sekolah, beberapa murid yang berasal dari beberapa wilayah mencoba untuk menggunakan sara ende dalam percakapan kesehariannya di sekolah. Hal itu justru membawa kemalangan bagi mereka. Mereka dianggap kolot dan antisosial (mesakena). Tidak mengikuti gaya pergaulan maintream masa kini dan berbagai cercaan lainnya.
Kasus lain juga menimpa teman yang kedua orang tuanya berasal dari sebuah suku di ende yang memiliki bahasa ibu sara ende. Anak mereka bahkan tak diperkenalkan menggunakan sara ende dalam percakapan keseharian di rumah. Hal ini berimbas pada percakapan mereka di dunia kerja. Mereka lebih sulit memahami masyarakat yang menggunakan sara ende.
Nilai Sakral dalam Budaya
Selain membahas tentang bahasa dan huruf, saya mencoba melihat tentang menghilangnya nilai sakral dalam budaya setempat. Fenomena alam atau gejala alam memang secara ilmu pengetahuan dipengaruhi oleh iklim dan aktifitas manusia, namun tak dipungkiri, sejak zaman dahulu nenek moyang kita memiliki ritual-ritual khusus yang sangat sakral sehingga mampu membuat sebuah keajaiban. Misalnya, tentang pawang hujan dan berbagai mantra lainnya.
Kemajuan teknologi dan moderenitas telah mengubah pola pikir dan sikap lugu masyarakat kita. Sebuah tatanan kehidupan di kampung yang telah diatur sedemikian rupa menjadi tidak dianggap hanya demi oto nuka nua (kendaraan masuk kampung). Tubu musu ora nata yang menjadi simbol keagungan dan sebagai simbol kekuatan (lokus of power) dianggap kuburan tua yang harus dipugar bahkan dipindahkan tanpa ritual yang sebanding. Titik penggerak itu tak berarti apa-apa. Padahal secara temurun kita mengetahui bahwa hal-hal ini yang mampu memberikan kekuatan mistis tersendiri.
Lihat saja, kampung menjadi kemarau panjang walau telah dilakukan ritual memanggil hujan oleh seluruh masyarakat kampung. Darah binatang dan mantra yang mampu menghadirkan daya magisnya telah hilang karena kita tak lagi secara utuh menghargai sebagai sebuah simbol kekuatan yang mempersatukan dan kekuatan yang mampu menggerakan dan menghadirkan.
Akhirnya, saya mengakui bahwa ende teah kehilangan identitas dari berbagai hal. Kedua hal di atas menjadi cintoh nyata yang saya angkat di sini. Masih banyak hal yang perlu diangkat untuk menghadirkan kembali kearifan lokal kita. Saya hanya berkomentar karena titik yang menggerakan ada pada pribadi kita masing-masing.
Salam sa ate, demi ende tana sare.

Tulisan Terbaru

Mitos atau Fakta: Anak Tikus Menyembuhkan Asma dan Sesak Napas?

Anak tikus. Gambar diambil dari: https://www.merdeka.com/ Di beberapa daerah, terutama dalam praktik pengobatan tradisional, ada kepercaya...