Tampilkan postingan dengan label catatan pinggir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan pinggir. Tampilkan semua postingan

Mitos atau Fakta: Anak Tikus Menyembuhkan Asma dan Sesak Napas?

Anak tikus. Gambar diambil dari: https://www.merdeka.com/


Di beberapa daerah, terutama dalam praktik pengobatan tradisional, ada kepercayaan bahwa anak tikus, terutama tikus ladang (Rattus exulans) dapat digunakan sebagai obat untuk asma dan sesak napas. Biasanya, anak tikus dikonsumsi secara langsung, baik dalam keadaan hidup, dikeringkan, atau dicampur dengan ramuan herbal tertentu. Namun, apakah klaim ini memiliki dasar ilmiah, ataukah hanya sekadar mitos yang berkembang di masyarakat?

Dalam dunia medis, Asma adalah salah satu masalah paru-paru yang membuat pengidapnya kesulitan bernapas akibat peradangan dan penyempitan pada saluran pernapasan. Tak hanya kesulitan bernapas, asma juga menyebabkan gejala lain seperti mengi, batuk-batuk, dan nyeri dada. Saluran pernapasan pada pengidap asma lebih sensitif dibandingkan dengan orang lain tanpa asma. Ketika paru-paru teriritasi akibat zat pemicu (asap rokok, debu, bulu binatang, dan sebagainya) maka otot-otot saluran pernapasan pada pengidapnya menjadi kaku dan menyempit.

Secara ilmiah, tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa anak tikus mengandung zat aktif yang dapat secara spesifik mengobati atau menyembuhkan asma. Pengobatan modern untuk asma biasanya melibatkan obat bronkodilator (seperti salbutamol) untuk melebarkan saluran napas dan kortikosteroid untuk mengurangi peradangan.

Beberapa orang yang percaya pada khasiat anak tikus mungkin beranggapan bahwa karena tikus adalah hewan yang mampu bertahan di lingkungan ekstrem, tubuhnya mengandung enzim atau zat tertentu yang bermanfaat bagi manusia. Namun, klaim ini tidak didukung oleh penelitian ilmiah yang sahih.

Selain tidak terbukti secara medis, konsumsi anak tikus justru dapat membawa risiko kesehatan yang cukup serius:

            Risiko Infeksi

Tikus adalah hewan yang dikenal sebagai pembawa berbagai patogen berbahaya, seperti bakteri Salmonella, virus Hantavirus, dan parasit. Mengonsumsi anak tikus mentah atau tidak diolah dengan baik dapat meningkatkan risiko infeksi dan penyakit zoonosis (penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia).


Kontaminasi Racun atau Logam Berat

Tikus sering hidup di tempat yang kotor dan dapat terpapar logam berat seperti timbal dan merkuri. Jika anak tikus berasal dari lingkungan yang terkontaminasi, zat-zat berbahaya ini bisa masuk ke dalam tubuh manusia dan menyebabkan dampak kesehatan jangka panjang.


Reaksi Alergi atau Keracunan

Tidak semua tubuh manusia bisa menerima konsumsi daging tikus. Beberapa orang bisa mengalami reaksi alergi atau bahkan keracunan akibat bakteri atau zat yang terkandung dalam tubuh tikus.


Seperti banyak pengobatan tradisional lainnya, mitos tentang anak tikus sebagai obat asma kemungkinan besar berkembang karena pengalaman subjektif seseorang yang merasa sembuh setelah mengonsumsinya. Namun, kesembuhan yang dirasakan bisa jadi bukan karena anak tikus itu sendiri, melainkan karena faktor lain, seperti efek plasebo atau perubahan gaya hidup yang tidak disadari.

Dalam budaya masyarakat tertentu, kepercayaan terhadap pengobatan alami sering kali diwariskan turun-temurun tanpa melalui verifikasi ilmiah. Hal ini diperparah oleh keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan yang lebih modern, sehingga masyarakat mencari alternatif yang lebih mudah dijangkau.

Berdasarkan analisis medis dan ilmiah, klaim bahwa anak tikus dapat menyembuhkan asma dan sesak napas lebih cenderung merupakan mitos daripada fakta. Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung efektivitasnya, dan justru ada banyak risiko kesehatan yang bisa timbul dari konsumsi anak tikus.

Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal menderita asma atau sesak napas, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga medis yang kompeten dan gunakan metode pengobatan yang telah terbukti aman dan efektif. Penggunaan obat-obatan modern, pengelolaan lingkungan yang sehat, serta perubahan gaya hidup jauh lebih disarankan dibandingkan dengan mengandalkan pengobatan yang belum terbukti secara ilmiah.

Jadi, daripada mengambil risiko dengan mengonsumsi anak tikus, lebih baik memilih metode pengobatan yang aman dan berbasis bukti.


Malam Itu

 

Ilustrasi gambar dari: https://www.istockphoto.com/id/

Sore tadi tubuh saya benar-benar remuk. Bukan hanya karena kuliah yang menuntut konsentrasi penuh, tetapi juga karena obrolan panjang dengan Mbak Syifa di kelas lantai lima setelah kuliah usai. Kami bercakap sampai senja menetes pelan di balik gedung fakultas. Setelah itu saya pulang dengan langkah berat, kantuk seperti menumpuk di pelupuk.

Setiba di kos, saya hanya sempat meletakkan tas, membuka sepatu, menyalakan AC lalu menjatuhkan badan ke kasur. Begitu kepala menempel di bantal, dunia terasa menjauh. Saya terlelap, begitu lelap hingga rasanya jiwa ini ditarik turun ke dasar lautan.

Lalu sesuatu membangunkan saya dari tidur.

Kring… kring… kring…

Suara telepon berdering.

Saya menggeliat, meraba ponsel di sisi bantal. Aneh. Layar kosong, tidak ada panggilan tak terjawab. Tidak ada riwayat panggilan. Padahal jelas sekali bunyinya. Saya menarik napas, mencoba menenangkan diri. Mungkin hanya mimpi.

Saya kembali membenamkan wajah di bantal. Kantuk datang lagi, menutup mata perlahan.

Namun tak lama, kring… kring… kring… ponsel itu berdering lagi.

Saya terlonjak, jantung berdegup kencang. Kali ini lebih keras, lebih nyata. Saya meraih layar, tetap sama: kosong, tidak ada panggilan masuk. Hanya bayangan wajah pucat saya sendiri yang memantul di permukaan layar ponsel.

Saya melirik jam digital di layar. Jarum waktu menunjuk 11 malam. Perut terasa kosong, ternyata saya belum makan malam. Ke warung pun rasanya malas. Lagi pula, warung terdekat sudah tutup jam 10 malam. Saya hanya menenggak air dari botol, lalu merebahkan tubuh kembali.

Gelap menyelimuti. Kantuk datang lebih pekat.

Namun belum lama mata terpejam,

"tok, tok, tok"

Suara keras menghantam pintu kamar.

Saya sadar sempurna. Merinding. Ingatan saya melayang ke cerita mas penjaga pos di depan kompleks malam minggu kemarin. Katanya, ia pernah melihat sesuatu yang membuat bulu kuduk berdiri. Sebuah kepala tanpa badan terguling sendiri di jalan, menggelinding di tengah malam. Gelindingan kepala itu, katanya, selalu menuju ke arah kos kami bagian belakang, tempat kamar saya berada.

Saya menelan ludah. Dada sesak, telinga terasa panas.

Saya duduk di tepi kasur, menajamkan telinga. Suara burung malam melengking panjang, terdengar begitu dekat di atap. Dari lantai bawah, kucing kampung meraung keras, bersahutan, seakan melihat sesuatu yang tidak bisa saya lihat.

Hikhihihikkkkkkkk …

Tiba-tiba terdengar suara cekikikan nenek-nenek. Pelan, namun jelas.

Saya meringkuk, mencoba menyelipkan tubuh di pojok kamar, terjepit antara tembok dan lemari. Saya ingin menghilang, sekecil mungkin, seolah dinding bisa menelan saya bulat-bulat. Ponsel segera saya matikan, takut bunyinya justru memancing perhatian makhluk yang berkeliaran malam itu.

Lalu,

byurr… byurr… byurr…

Dari kamar mandi terdengar suara air. Sepertinya ada yang mandi.

Saya terpaku. Bagaimana bisa? Sejak sore tadi saya tidak membuka keran. Kos ini pun sepi, sebagian penghuni tak tampak batang hidungnya ketika saya pulang tadi. Seharusnya hanya saya seorang di lantai atas.

Air terus mengalir, bercampur suara cipratan, seolah seseorang tengah menyiram tubuhnya. Jantung saya berdentam tak karuan.

Kemudian, dari dalam kamar mandi, terdengar suara perempuan. Lembut, tapi dingin menusuk.
“Mas Djho… tolong ambilkan handuk…”

Saya membeku. Suara itu memanggil nama saya. Dua kali. Nada suaranya mendayu, seakan datang dari seseorang yang sangat mengenal saya. Tapi siapa?

Saya ingin menjawab, tapi mulut terkunci. Ingin lari keluar, tapi kaki seperti terpaku di lantai.

Air masih mengucur. Suara itu mengulang.

“Mas Djho… handuknya…”

Kali ini lebih dekat. Lebih jelas.

Saya menahan kencing. Tubuh gemetar hebat. Kedua tangan menggenggam erat, berdoa dalam diam. Bapa Kami, Salam Maria, dan Aku Percaya bercampur tak tahu lagi rumusannya yang benar.

Sekilas saya teringat Mbak Syifa. Suaranya yang lembut dengan medok sunda, hampir mirip dengan suara yang sekarang memanggil. Tapi tidak mungkin. Tidak mungkin ia berada di kamar mandi kos saya.

Keringat dingin menetes di pelipis.

Suara itu berhenti. Tinggal sisa tetesan air, tik… tik… tik… jatuh ke lantai kamar mandi.

Sunyi. Sunyi yang menekan.

Saya menutup telinga, tapi tetap mendengar suara lain: langkah kecil, menyeret pelan, mendekat dari arah kamar mandi ke pintu kamar.

Srek… srek… srek…

Seperti kain basah diseret.

Saya gemetar hebat. Tidak berani menoleh.

Pintu kamar mandi perlahan terdorong, berdecit pelan.

Krieeet…

Cahaya lampu dari dalam kamar mandi menembus tipis, keluar dari pintu yang tak ditutup rapat. Tapi yang membuat napas saya terhenti bukanlah cahaya itu, melainkan bayangan hitam panjang yang ikut masuk, menempel di lantai tanpa wujud tubuh.

Bayangan itu meluncur perlahan ke dalam kamar, berhenti tepat di depan lemari tempat saya meringkuk.

Saya memejamkan mata erat. Bibir bergetar, doa berdesakan di mulut.

Tiba-tiba, bisikan itu kembali. Dekat sekali di telinga.

“Mas Djho… handuknya…”

Saya terpaksa membuka mata. Dan hampir menjerit.

Di ujung kasur berdiri sosok perempuan berambut panjang, basah kuyup, tetes air jatuh dari helaian rambutnya. Wajahnya menunduk, rambut menutupi muka. Tangannya menggenggam sesuatu.

Bukan handuk. Melainkan kepala manusia.

Kepala itu menatap saya, mata melotot, lidah terjulur, darah menetes dari leher putusnya.

Saya nyaris pingsan. Tubuh seakan terlepas dari jiwa.

Sosok itu melangkah pelan, air menetes mengikuti jejaknya. Semakin dekat. Saya ingin berteriak, tapi suara tak keluar.

Akhirnya saya hanya bisa menutup mata lagi, menggigil, menahan tangis. Saya tidak tahu berapa lama waktu berjalan.

Saat membuka mata, ruangan sudah sunyi. Pintu kamar kembali tertutup rapat. Kamar mandi kering, seakan tak pernah ada yang mandi. Tidak ada sosok perempuan, tidak ada kepala terguling.

Hanya saya, terjebak di pojok, tubuh lemas, seperti selesai diperas habis-habisan.

Saya menghidupkan kembali ponsel saya. Jam ponsel menunjukkan pukul 3 dini hari.

Saya tidak berani tidur lagi.

Dari luar, cahaya mulai merambat lewat gorden yang tak ditutup rapat, tanda fajar akan datang. Saya menunggu cahaya matahari benar-benar terang masuk lewat jendela. Baru setelah itu, dengan langkah gemetar, saya berani keluar kamar.

Lorong kos tampak biasa saja. Namun jejak air masih tersisa di lantai, pintu kamar mandi tertutup rapat dan terkunci dari luar.

Saya tercekat. Tubuh mendadak ringan, seperti terangkat.

Saat mata saya terbuka lebar, cahaya pagi sudah memenuhi kamar. Ponsel di samping bantal menunjukkan pukul 07.15. Saya masih memakai baju yang sama, tas kuliah tergeletak di lantai.

Tidak ada jejak air. Tidak ada bekas pintu digedor. Tidak ada suara perempuan.

Semua hening.

Saya tersadar… Kejadian barusan ternyata hanyalah mimpi.

Waduh. Terlambat ke kampus. Saya bergegas ke kamar mandi.

Ah, lupa handuk.

Ketika itu juga suara perempuan memanggil dari luar.

“Mas Djho… handuknya…”

“Mas Djho… handuknya…”

“Kemarin lupa aku isikan bersama cucian lainnya yang sudah diantar” suara Ibu langganan laundry saya.

“Aku taruh di kursi depan kamarmu ya...”

Saya tersadar. Ternyata masih sore.

“Ah, hampir saja saya ke kampus lagi” gerutu saya keluar dari kamar mandi, lalu kembali tidur lagi.


Catatan #4: Buat Buah Hatiku

Diilustrasi dengan AI dari Foto Asli

Lagu “Home” dan Perjalanan Bapa Pulang

Halo anakku, sekarang sudah bertiga, dua gadis dan Si Bungsu lelaki. Sore ini Bapa menulis lagi untukmu, Si Sulung, setelah bertahun-tahun Bapa seperti kehilangan gairah dan ide buat menulis, di kamar kecil Bapa di Maubasa, yang sunyi seperti saku yang kehilangan surat. Ini adalah kenangan yang Bapa simpan dalam dada, tapi kini ingin Bapa tuangkan di sini, agar kelak kamu tahu: sebelum kamu lahir, dunia sudah memintamu bersabar. Bapa menulisnya setelah mendengar sebuah lagu yang sangat memorable.

Tahun 2018, Bapa menikahi Mamamu. Hari itu bukan pesta besar, bukan juga perayaan mewah seperti yang sering dilihat di film-film. Tapi justru dalam kesederhanaan itu, Bapa merasa bahwa semesta menyaksikan kami: dua orang yang bersatu karena cinta yang dipelihara dalam diam, dalam doa, dan dalam janji untuk saling menjaga, tak peduli seberapa jauh kehidupan akan menyeret kami nantinya.

Dan benar saja, tak lama setelah ucap janji dan doa restu di depan Altar, Bapa harus mengantar kembali Mamamu ke Kupang. Tugas negara, begitulah kira-kira. Tapi di balik penugasan itu, Bapa tahu telah meninggalkan sesuatu yang tak bisa diganti oleh gaji atau kehormatan: kehadiran Bapa di sisi Mamamu, yang saat itu mulai belajar menjadi seorang istri. Lalu tak lama, menjadi seorang calon mama.

Mamamu tetap di Kupang, di rumah kecil yang baru kami sewa. Rumah itu sudah beberapa bulan kami tempati bersama. Bahkan sabun dan handuk kami pun masih seperti tamu yang belum sempat benar-benar dibereskan. Tapi ia bertahan. Dengan perut yang perlahan membulat, ia menjalani hari-hari yang berat sendirian.

Kupang dan Ende, sejauh apa sih sebenarnya? Jika naik pesawat, hanya satu jam lebih sedikit. Tapi percayalah, rindu tak pernah punya ukuran waktu. Satu jam bisa terasa seperti satu musim kemarau, dan satu malam bisa seperti seumur hidup. Terlebih bagi Mamamu, yang harus tidur tanpa Bapa menggenggam tangannya, dan makan siang tanpa Bapa membantunya menuang air.

Ada malam-malam di mana Bapa hanya bisa mendengar isaknya dari balik ponsel. Sinyal di Maubasa tak selalu ramah. Kadang wajahnya beku di layar, kadang suaranya terputus-putus, seperti doa yang terganggu angin. Tapi satu kalimat selalu sampai dengan utuh:
“Kapan datang?”

Bapa selalu menjawab dengan senyum yang dipaksakan: “Sebentar lagi.” Padahal Bapa tahu, sebentar lagi bisa berarti minggu depan, atau bahkan bulan depan. Namun Bapa belajar, bahwa kadang kebohongan kecil dibutuhkan untuk menjaga hati orang yang Bapa cintai tetap utuh. Dan Mamamu, ia terlalu kuat untuk diruntuhkan oleh kejujuran yang terburu-buru.

Bapa akhirnya pulang juga. Sekali waktu, saat cuti datang seperti hadiah yang tak disangka-sangka. Atau kadang izin tak tertulis, untungnya waktu itu pimpinan Bapa sangat pengertian. Bapa beli tiket pesawat ke Kupang, menyusun koper seperti anak-anak menyusun mainan, sambil membayangkan wajah Mamamu saat membuka pintu. Dan saat Bapa tiba, ia menyambut dengan senyum dan peluk yang membuat semua lelah lenyap begitu saja.

Perutnya sudah besar saat itu. Kamu, buah hatiku, sudah mulai menendang-nendang dunia dari dalam. Bapa letakkan telinga di perut Mamamu, dan Bapa dengar denyut yang kecil, cepat, tapi tegas, seperti suara dari dunia lain yang sedang menyapa. Bapa mencium perut itu, dan berbisik:

“Tunggu ya, Nak. Bapa akan kembali lagi.”

Tapi waktu, seperti biasa, terlalu cepat berlari. Cuti tak pernah cukup lama untuk menebus semua hari yang tertinggal. Bapa harus kembali lagi ke Ende. Penerbangan pagi dari El Tari menjemput Bapa dengan sepi yang berat. Mamamu mengantar sampai ke ruang keberangkatan, menggenggam tangan Bapa tanpa berkata banyak. Tapi Bapa tahu, air matanya menyimpan ribuan kata yang tak sempat terucap.

Di pesawat Garuda, Bapa duduk di kursi 12A. Setelah mendarat di Bandara H. Hasan Aroeboesman, pilot memutar lagu:

“Home” — Michael Bublé.

Dan di sanalah Bapa patah. Lagu itu menyayat seperti pisau dari langit. Liriknya tentang seseorang yang ingin pulang, tapi terus terlempar jauh dari rumahnya.

“Another summer day has come and gone away In Paris and Rome, but I wanna go home...”

Bapa tutup mata. Tapi justru di balik kelopak mata itulah Bapa melihat segalanya lebih jelas: wajah Mamamu, senyumnya yang menahan rindu, tangan kecilnya di atas perut, dan kamu, yang belum lahir, tapi sudah membuat Bapa merasa menjadi ayah sepenuhnya.

Anakku, jika suatu hari kamu membaca ini dan bertanya,

“Di mana Bapa saat saya tumbuh dalam perut Mama?”

Maka bacalah pelan-pelan: Bapa ada di langit, terbang dengan doa yang belum selesai, membawa cinta yang tak pernah tinggal di satu kota. Bapa ada di Ende, tapi hatinya selalu di Kupang. Bapa menulis namamu di tiap sudut kamar, menyebutmu dalam tiap doa,
dan membayangkan bagaimana rasanya memelukmu untuk pertama kali. Jarak memang kejam. Tapi jarak juga mengajarkan kami, bahwa cinta bukan soal siapa yang hadir setiap hari, melainkan siapa yang tetap tinggal di hati meski tak bisa disentuh.

Mamamu, anakku, adalah perempuan terkuat yang pernah Bapa kenal. Ia mengandungmu dengan kesabaran yang tak bisa Bapa ukur. Ia menahan tangisnya setiap Bapa pamit. Ia memeluk perutnya sendiri saat malam terlalu sunyi. Ia tidur dengan satu bantal tambahan, seolah itu adalah Bapa yang sedang menjaganya dari jauh.

Dan kamu, adalah alasan kami bertahan. Kamu adalah lagu “Home” itu sendiri. Tempat kami ingin pulang, meski terbang sejauh apa pun, kami tetap akan kembali padamu. Sekarang kamu sudah tumbuh. Sudah mulai belajar membaca ini, menulis dan lumayan lincah dalam berhitung. Dan saat kamu tahu kisah ini, Bapa hanya ingin satu hal: agar kamu selalu ingat bahwa hidup memang tak selalu memberi kita kemudahan, tapi ia selalu memberi alasan untuk berjuang.

Dan cinta, buah hatiku, bukan hanya pelukan dan kehadiran fisik. Cinta adalah keberanian untuk terus kembali, meski harus berulang kali berpisah. Di langit Kupang dan Ende,
di udara yang kami hirup di kota berbeda, di doa yang kami bisikkan dalam bahasa yang sama, kamu tumbuh. Dan kami menunggumu, dengan sabar yang penuh luka tapi juga penuh harap.

Dari Maubasa, Bapa menulis ini dengan cinta yang tak pernah benar-benar pergi. Karena rumah, Anakku, bukan sekadar atap dan dinding. Rumah adalah tempat di mana hatimu menetap. Dan hati Bapa, sejak lama, telah menetap padamu dan Mamamu.


Eri, Buku, dan Para Korea



Pagi itu, di kelas structure-nya Mr. Nababan, seseorang memanggil saya dari belakang, sementara cahaya matahari telah benar menyoroti ruang 307 lantai 3 Pusat Bahasa UNS. Seorang pemuda bernama Eri datang membawa dua hal: senyum yang seperti setengah mengejek, dan sebuah buku yang dengan cover dominan putih. Lelaki itu—keturunan Jawa yang tumbuh besar di Medan—memiliki gaya bicara yang cepat, kadang melompat-lompat seperti radio rusak, tapi justru itulah yang membuatnya sukar dilupakan.

Eri memulai dengan celetukan khasnya, "Kau ini terlalu serius hidup, perlu disuntik Nietzsche!" Lalu, dari balik tasnya yang kusut, ia mengeluarkan buku yang mengubah arah pagi itu: Syahwat Keabadian, kumpulan puisi Friedrich Nietzsche yang diterjemahkan oleh Berthold Damshäuser dan Agus R. Sarjono, diterbitkan oleh Diva Press.

"Bacalah," katanya, "ini bukan sekadar puisi. Ini silet dalam bunga. Nietzsche menulis bukan untuk menyenangkan—tapi untuk mengguncang dari dalam." Ada cahaya aneh di matanya, seperti seseorang yang baru saja melihat reruntuhan dirinya dan menertawakannya.

Saya menerimanya, membolak-balik beberapa lembar kemudian meletakkan pada kursi di samping kiri, karena saya belum mau melewatkan kelas dengan ratusan soal latihan structure yang saban hari kian mengendap dalam grup telegram.

Sebelum hari itu, aku hanya mengenal Eri sebagai pemuda usil yang doyan bercanda, layaknya seorang stand up comedian, dia kerap melontarkan candaan khas di dalam kelas, terkadang ia bicara soal politik dan nasib. Ia secara tak sadar pernah menuduhku sebagai "orang yang tersesat di lorong kesepian". Tapi kadang juga, ia berubah menjadi semacam pengkhotbah jalanan, membicarakan soal Komandan Bambang Pacul dengan penuh semangat. Rupanya ia baru saja menamatkan buku "Mentalitet Korea: Jalan Ksatria Komandan Bambang Pacul" karya Puthut EA, yang diterbitkan oleh Mojok.

“Ini bukan soal Korea Selatan, bung,” katanya. “Ini tentang mereka yang dari bawah, yang tak dianggap, tapi menggertak dunia dengan strategi dan keteguhan.” Baginya, Bambang Pacul bukan hanya tokoh. Ia simbol perlawanan kelas, dan buku itu—sebuah risalah tak resmi tentang bagaimana bertahan hidup dengan kepala tegak di tengah dunia yang congkak.

Eri bisa tertawa keras untuk hal remeh, seperti celoteh warung kopi, tapi bisa muram seketika ketika membicarakan makna hidup. Kadang emosional, kadang jenaka. Saya membayangkan jika suatu ketika, Ia melempar sandal ke televisi saat mendengar pidato politisi yang ia benci, lalu mengutip Nietzsche sesaat setelahnya: “Jika kamu menatap terlalu lama ke dalam jurang, maka jurang itu akan menatap balik ke dalam dirimu.”

Itulah Eri—pemuda yang menolak hidup dengan setengah sadar. Ia percaya buku bukan hanya bacaan, melainkan senjata sunyi. Ketika ia memberikan Syahwat Keabadian, ia seakan menyerahkan sebuah peta menuju ketidaktenteraman yang produktif. Nietzsche, katanya, adalah semacam cermin yang memantulkan wajah manusia dalam bentuk paling telanjang dan brutal.

Hari itu, Eri tak hanya memberiku buku. Ia memberiku serpihan dari dirinya sendiri—dari luka, tawa, dan pikirannya yang berkelok-kelok. Sejak saat itu, setiap kali aku membaca puisi Nietzsche, aku membayangkan suara Eri yang setengah meledek, setengah menyayangi dunia yang ditertawakannya.





ENIGMA THOYIBAH

Gambar diambil dari sini


Di kelas, Thoyibah seperti bayangan yang hanya sekadar ada. Ia duduk di bangku pojok dekat jendela, lebih banyak menunduk, tenggelam dalam catatan atau sekadar melamun. Tak banyak yang tahu isi pikirannya. Ia tak cerewet, tak suka berbincang panjang lebar, tapi di balik keheningannya, ada keisengan kecil yang hanya segelintir orang sadari.

Kadang, di grup WhatsApp kelas, tiba-tiba muncul foto seseorang yang tengah serius mendengarkan pelajaran, diambil dari sudut yang diam-diam. Ada yang tengah menguap, ada yang menatap kosong ke depan, bahkan ada yang setengah tidur dengan mata setengah tertutup. Tidak ada banyak yang menyadari hal itu, tapi saya dengan penuh kesadaran cukup bingung dengan ulah Thoyibah tersebut.

Namun, tak ada yang pernah benar-benar marah padanya. Mungkin karena ia melakukannya dengan begitu halus, atau mungkin karena ia tetap menjadi gadis yang tak banyak bicara, seolah kehadirannya sendiri tak berpengaruh dalam dinamika kelas.

Masa lalunya bukan rahasia bagi saya yang kadang berbincang dengannya. Orang tuanya meninggal sejak ia kecil. Sejak itu, ia lebih banyak diam. Sepeninggal mereka, ia tinggal bersama pamannya di sebuah desa, Bayan namanya. Ia tumbuh dengan luka yang tak pernah benar-benar diceritakan, tapi juga dengan ketangguhan yang perlahan membentuknya.

Selepas kuliah di Universitas Mataram, ia memilih kembali ke desanya. Bukan untuk melarikan diri dari dunia, tapi justru untuk mengabdikan dirinya di sana. Ia aktif sebagai kader posyandu, mendata anak-anak balita, menimbang berat badan mereka, mengingatkan para ibu tentang jadwal imunisasi. Ia juga menjadi bagian dari program pemberdayaan masyarakat, mendampingi para perempuan desa dalam pelatihan ekonomi kreatif. Ia tak banyak berbicara, tapi tangannya bekerja. Diamnya bukan kebekuan, tapi kedalaman.

Namun, ada sisi lain dari Thoyibah yang tak banyak orang tahu. Di balik sikap pendiamnya, ia memiliki dunia lain—dunia kata-kata. Ia menulis di blog pribadinya. Tulisan-tulisannya sederhana, mengalir seperti arus sungai di musim penghujan, menyentuh hati siapa saja yang membacanya.

Ia mulai menulis sejak SMK. Katanya, ada seseorang yang pernah berkata padanya, "Menulis adalah cara terbaik untuk bersuara tanpa harus berbicara." Kata-kata itu melekat di benaknya. Awalnya, ia hanya menulis liputan kegiatan di sekolah, kemudian berkembang menjadi kisah-kisah kecil tentang kehidupan di desanya. Dari sana, ia menemukan tempatnya.

Banyak yang penasaran, siapa sebenarnya Thoyibah? Mengapa ia memilih diam, tetapi bersuara lewat tulisan? Mungkin hanya dirinya yang tahu jawabannya. Atau mungkin, ia adalah enigma—sebuah teka-teki yang tak perlu dipecahkan, hanya cukup untuk dipahami dengan hati.


Mie Instan dari Ibu Dosen


Mie Instan dari Ibu Dosen

 

Sabtu itu, udara pagi di kampus terasa lebih adem dari biasanya. Mahasiswa berjalan santai menuju kelas, beberapa masih setengah mengantuk. Saya melangkah masuk ke ruang listening dengan harapan bisa melewati perkuliahan tanpa banyak kesulitan.

Ada beberapa orang telah berada di sana. Setengah delapan pagi, di depan kelas, Miss Beta sudah berdiri dengan senyumnya yang khas. Saya semalam sempat melihat story Instagram beliau—ada setumpuk kertas di meja. Sepertinya beliau sedang menyiapkan materi untuk hari ini, pikir saya.

Di dalam kelas Listening.  Dingin karena AC membikin saya duduk di bangku tengah, kali ini mencoba fokus pada suara native speaker yang diputar melalui speaker di depan ruangan. Kata-kata mereka mengalir cepat, nyaris tak memberi ruang bagi otak saya untuk mencernanya. Saya menghela napas, merasa kepala ini semakin berat.

Di depan kelas, Ibu Dosen terus menjelaskan dengan suara lembutnya. Ia memang bukan tipe pengajar yang galak, tapi juga bukan yang mudah didekati. Saya selalu merasa beliau punya aura misterius—mungkin karena sorot matanya yang intens tapi penuh perhatian.

Saat kelas hampir selesai, beliau tiba-tiba berhenti berbicara dan mengarahkan pandangannya ke arah Dedi.

“Miss Beta ke mana?” ada yang bertanya.

Seng tahu.” yang lain menimpali.

Kami terkejut. Tidak menyangka dari luar ruangan, Miss Beta kembali ke dalam kelas bersama Dedi yang menjinjing sebuah kresek besar berwarna putih.

“Hari ini saya ingin berbagi sedikit rezeki,” katanya.

“Bulan puasa ini pasti berat buat kalian, apalagi kalau sedang sibuk tugas dan tidak sempat sahur. Jadi, saya ingin memberi kalian sedikit hadiah.”

Kami semua terdiam sesaat, lalu kelas riuh dengan gumaman syukur dan tawa kecil. Satu per satu, kami maju ke depan untuk menerima mie instan dari beliau. Saat saya mengambil milik saya, saya melihat ada selembar kertas kecil berwarna kuning tertempel di depan plastiknya. Saya membacanya pelan dalam hati;

“Maaf lahir dan batin.”

Saya tersenyum. Sederhana, tapi hangat. Seperti sepotong perhatian di tengah kesibukan kuliah dan tugas yang  sedikit dan dibilang menumpuk (Biar ada Drama2nya. Heheheheee).

Malam sebelumnya, saya berpikir bahwa Ibu Beta mungkin sedang sibuk menyiapkan materi perkuliahan. Ternyata, beliau juga sedang menyiapkan sesuatu yang lebih dari itu—sebuah bentuk kepedulian kecil yang menghangatkan hati kami semua.

“Terima kasih, Bu,” hanya itu yang bisa saya ucapkan.

Mie instan itu mungkin hanya sebungkus kecil, tapi di mata saya saat itu, ia adalah kehangatan, perhatian, dan kepedulian dalam bentuk yang paling sederhana. Dan itu lebih dari cukup.




Perjalanan Senja: Dari Jebres ke Yogyakarta, Mengantar Teman Pulang ke Kei

 


Senja jatuh pelan di ufuk barat ketika saya melangkah ke Tower UNS, menunggu Mey dan Maya. Ya, dua orang ini yang kadang spontan ikut ketika saya mengajak mereka. Entah, ke Alun-alun atau menonton film dan beberapa tempat lainnya di Solo. Kali ini mereka hendak ikut ke Jogja, karena kami bermufakat untuk mengantar teman kami, Angel, kembali ke Kei, Maluku untuk beberapa saat. Ayahandanya meninggal dan dia harus mengantar Beliau ke tempat peristirahatan terakhir.

Kereta Rel Listrik (KRL) tujuan Yogyakarta sudah terjadwal berangkat dalam beberapa menit. Membuat saya sedikit cemas takut terlambat. Udara sore itu sejuk, angin tipis-tipis menyelinap di antara bangunan tua stasiun yang masih mempertahankan arsitektur lokalnya. Tiba di Stasiun, kami mencari beberapa teman lagi sembari menunggu Angel yang kabarnya lewat WA Grup, masih dalam perjalanan. Perjalanan ke timur masih panjang baginya—dari Yogyakarta, ia akan melanjutkan ke Makassar, lalu terbang ke Ambon sebelum akhirnya tiba di tanah kelahirannya. Tapi untuk saat ini, tugas saya sederhana: mengantarnya hingga Stasiun Yogyakarta.

Saat KRL datang, pintunya terbuka otomatis, dan kami bergegas masuk. Gerbong sore itu terlampau penuh. Mayoritas penumpang adalah pekerja yang pulang dari Solo ke Klaten atau Yogyakarta, beberapa mahasiswa dengan ransel di punggung, dan sepasang turis asing yang tampak asyik mengobrol dengan seorang pria lokal.

Kereta mulai bergerak. Melalui jendela besar yang bersih, pemandangan Solo mulai berganti—rumah-rumah penduduk, lapangan, hingga hamparan sawah yang luas di perbatasan kota. Langit senja menciptakan semburat jingga keemasan, memantul di rel yang seakan memandu perjalanan ini.

Di perjalanan, kami mengobrol santai. Teman saya bercerita tentang sepatu yang baru dibelinya, tentang komunitas literasinya dan tentang semangatnya membangun komunitas untuk pendidikan luar sekolah. Sementara beberapa jarak dari mata saya, Angel berdiri tegar, mungkin memikirkan laut yang biru sejernih kaca, pasir sehalus tepung, dan kehidupan di pulaunya yang jauh dari hadapannya sekarang.

Stasiun demi stasiun terlewati: Solo Balapan, Purwosari, Gawok, Delanggu, Ceper, Klaten, Srowot, Maguwo. Setiap pemberhentian menghadirkan wajah-wajah baru yang masuk dan keluar, masing-masing membawa kisahnya sendiri. Di Klaten, seorang ibu naik dengan anak kecil yang langsung duduk di kursi prioritas. Si bocah menempelkan wajahnya ke jendela, matanya berbinar melihat rel yang berkelok di kejauhan.

Ketika kereta mendekati Stasiun Maguwo, langit semakin gelap, dan lampu-lampu jalan mulai menyala. Tak lama, pengumuman dari pengeras suara mengabarkan bahwa KRL segera tiba di tujuan akhir: Yogyakarta.

Stasiun Tugu menyambut dengan hiruk-pikuknya. Penumpang turun, sebagian bergegas ke peron untuk mengejar kereta lanjutan. Di kejauhan, aroma gudeg dan angkringan menyeruak dari luar stasiun, menggoda perut yang mulai lapar.

Kami berjalan keluar, menyeret langkah di lantai peron yang dingin. Di sini, perjalanan saya berakhir, tetapi bagi teman saya, perjalanan ke Kei baru akan dimulai. Kami berjabat tangan, lalu berpisah di antara riuh rendah stasiun yang tak pernah benar-benar tidur.

Senja telah berubah menjadi malam. Dan perjalanan, seperti hidup, selalu tentang perpisahan dan pertemuan. Dalam perjalanan tadi, saya mulai berimajinasi, melihat beberapa wajah dan dengan iseng menempatkan mereka dalam sebuah puisi.

 

KRL Solo Jogja Suatu Sore

 

Di dalam gerbong nan tua yang letih

orang-orang menggantungkan rindu di jendela

langit berlari membikin kota mengecil

sementara detik-detik jatuh di antara rel

 

Seorang perempuan mengimpit tas

matanya kabut mengejar waktu

di rumah jauh di ujung samudera

seseorang telah pergi ke haribaan-Nya

dan ia tak sempat mengucap selamat tinggal

 

Di sudut lain seorang perempuan

menyeka sisa pelukan dari pipinya

di stasiun yang lalu cinta telah turun

meninggalkannya sendirian dengan hujan

 

Laki-laki tua memegang kantung kosong

sebutir nasib buruk: ayamnya hilang!

Ia mengutuk kereta yang terlalu cepat

atau mungkin takdir yang terlalu rakus

Sementara di bangku paling depan

seorang pemuda tersenyum kecil

di saku doanya ada email mengendap

dan janji hari pertama bekerja

 

Ada yang bersandar dengan luka

tertusuk janji yang tak sempat sembuh

ada yang berbisik pulang dengan bahagia

karena rumah adalah nyanyian yang tetap menunggu

 

Gerbong melaju

menghimpun kisah-kisah rapuh

menyerahkan semuanya pada malam

yang diam-diam mencatat perjalanan


Sera Diri – Salah satu Tahap Perkawinan Tana Zozo.

Ilustrasi dari internet

 

“saya cintau dengan kau e…”

“hmmm… gombal”

“Tidak e. Serius”

“kalo serius buktinya mana?”

“bukti apa? Belah saya punya dada?”

“kalo serius dating lamar to”

“oke. Siapa takut”

***

Dalam budaya rajawawo (Tana zozo), khususnya dalam tradisi perkawinan ada yang namanya sera diri. Agak susah untuk mengartikan sera diri dalam Bahasa Indonesia, tapi sebenarnya sera diri bermaksud untuk menunjukan keseriusan seorang pemuda kepada seorang pemudi yang dicintainya.

Sera diri merupakan tahap awal dalam proses panjang adat perkawinan. Tahap ini dilaksanakan biasanya pada kedua muda mudi atau pasangan yang telah menjalin hubungan pacaran beberapa saat dan mereka telah bersepakat untuk melanjutkan hubungan ke tahap yang lebih jauh. Dalam istilah setempat sera diri dilakukan karena mereka berdua mau sama mau (ana dhei dhato). Mereka berdua berniat menikah atas kemauan sendiri.

Pada tahap ini, prosesi yang dilakukan diawali setelah ada kesepakatan waktu untuk si pemudi datang ke rumah pujaan hatinya. Di rumah si pemudi, keluarga besarnya (keluarga zika zapu) sudah berkumpul. Ketika si pemuda datang, mereka saling menyapa dan berbasa-basi.

Di sini saya mendramatisir sedikit suasana yang terjadi di sana, ada dua perasaan yang muncul tersamar di sana. Perasaan gugup dari si pemuda karena berpuluh pasang mata selalu tertuju padanya. Tatapan singa yang tak dapat makanan berhari-hari, seolah ingin melumat mangsa di depannya, padahal sebenarnya, itu cuma ilusi sang pemuda yang baru datang itu. Sementara ada perasaan lain yang muncul dari lubuk hati si ayah pemudi itu. Perasaan awal kehilangan agak gadisnya. Perasaan tak terima karena sebentar lagi anak gadisnya akan meninggalkannya untuk tinggal bersama lelaki lain yang dicintainya selain ayahnya.

Lanjut ke sera diri tadi, sera diri belum bisa dinyatakan sebagai tahapan peminangan. Namun ada beberapa hantaran yang turut dibawa. Ada ayam satu atau dua ekor, kopi dan gula, rokok serta sirih pinang dan tak lupa moke. Hantaran ini tidak terhitung dalam mas kawin (Ngawu bhanda), ini hanya merupakan bentuk hospitalitas kita ketika datang bertamu. Karena sebagai tamu baru rasanya tak elok bila kita datang berkunjung ke rumah orang dengan tangan hampa.

Setelah makan malam bersama, saat dada seperti gemuruh genderang perang dimulai. Salah satu dari bapak-bapak yang menatap tajam tadi membuka pembicaraan. Bertanya maksud dan tujuan si pemuda datang ke rumah mereka. Entah kenapa, pertanyaan itu telah diwanti-wanti dari rumah agar menjawabnya setelah tiga kali bertanya -dalam budaya rajawawo atau budaya NTT pada umumnya, selalu menggunakan angka ganjil dalam perhitungannya, entah ritual atau yang lainnya yang berurusan dengan budaya setempat-.  Biasanya setelah bertanya, suasana akan hening sejenak kemudian disambung dengan basa-basi lain, sampai tiga hari baru dijawab.

Jawaban tadi akan ditelusuri lagi dengan memanggil anak gadis mereka. Di sini si pemudi tersebut ditanya perihal lelaki tersebut apakah benar kemauan mereka berdua atau tidak dan rencana mereka selanjutnya ke tahapan berikut. Setelah mendengar semua pengakuan dari dua orang tadi, mereka lalu berpesan ke si pemuda agar memberitahu orang tuanya untuk lanjut ke tahap peminangan (mbe’o sa’o).

Beberapa kasus di zaman dahulu, terkadang tahap ini dilakukan langsung dengan melarang lelaki pulang ke rumah orang tuanya (dube) sehingga lelaki itu dinyatakan sebagai rongo tama kopo, yang arti harafiah-nya kambing masuk kebun orang sehingga harus ditahan atau dikurung sebelum pemiliknya datang untuk melakukan negosiasi selanjutnya.

Jika masuk ke tahap rongo tama kopo, maka beberapa hari berikut, orang utusan akan dating ke rumah si pemuda untuk memberitahu bahwa abnak lelaki mereka telah ada di rumah perempuan itu dan mereka harus dating untuk melakukan kesepakatan adat. Tapi, tahap ini sudah ditiadakan sejak masuknya agama katolik di wilayah tersebut, karena dinilai tahap itu sebagai praktik kumpul kebo sedangkan dalam gereja dituntut untuk menikahi pasangan yang belum hidup Bersama secara biologis.

Kembali ke tahap sera diri, setelah diberikan beberapa pesan si lelaki akan kembali ke rumahnya, di rumah, dia akan menyampaikan beberapa pesan yang telah dititipkan, lalu di keluarga besar (keluarga zika zapu) lelaki mereka akan berkumpul dan bersepakat untuk rencana mbe’o sa’o yakni peminangan. Mereka bersepakat waktu dan mahar atau belis apa yang mau dibawa.

Sekian cacatan ringan hasil riset kecil-kecilan saya, apa bila masyarakat rajawawo yang mebaca ini, saya memohon masukan atau kritikkan untuk menyempurnakan tulisan ini agar bisa berguna bagi generasi selanjutnya sebagai pengetahuan dan mungkin praktiknya.

***

“kau datang ini perlu apa?” tanya bapak-bapak yang berkumis tebal ke lelaki yang sedari tadi memegang rokok yang lupa ia nyalakan.

Tangannya sedikit gemetar, baru ia mau menyalakan rokok, seorang bapak berjaket kuning menimpali. Ia bercerita tentang berburu (wa’u zako)  di hutan Kezi Kasa beberapa hari yang lalu. Katanya babi hutan sekarang sudah jarang terlihat. Virus yang menyerang babi itu juga merambah sampai di hutan.

Si Bapak berkumis tadi bertanya lagi untuk ketiga kalinya. Dengan nada terbata sang pemuda menjawab.

“saya datang untuk “berteman” selamanya dengan bapa punga anak perempuan di sini”

“kami punya anak perempuan banyak. Yang mana”

“yang nama Mathemesi itu”

“panggil dia di dapur. Mama panggil dulu”

Tulisan Terbaru

Mitos atau Fakta: Anak Tikus Menyembuhkan Asma dan Sesak Napas?

Anak tikus. Gambar diambil dari: https://www.merdeka.com/ Di beberapa daerah, terutama dalam praktik pengobatan tradisional, ada kepercaya...