Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Malam Itu

 

Ilustrasi gambar dari: https://www.istockphoto.com/id/

Sore tadi tubuh saya benar-benar remuk. Bukan hanya karena kuliah yang menuntut konsentrasi penuh, tetapi juga karena obrolan panjang dengan Mbak Syifa di kelas lantai lima setelah kuliah usai. Kami bercakap sampai senja menetes pelan di balik gedung fakultas. Setelah itu saya pulang dengan langkah berat, kantuk seperti menumpuk di pelupuk.

Setiba di kos, saya hanya sempat meletakkan tas, membuka sepatu, menyalakan AC lalu menjatuhkan badan ke kasur. Begitu kepala menempel di bantal, dunia terasa menjauh. Saya terlelap, begitu lelap hingga rasanya jiwa ini ditarik turun ke dasar lautan.

Lalu sesuatu membangunkan saya dari tidur.

Kring… kring… kring…

Suara telepon berdering.

Saya menggeliat, meraba ponsel di sisi bantal. Aneh. Layar kosong, tidak ada panggilan tak terjawab. Tidak ada riwayat panggilan. Padahal jelas sekali bunyinya. Saya menarik napas, mencoba menenangkan diri. Mungkin hanya mimpi.

Saya kembali membenamkan wajah di bantal. Kantuk datang lagi, menutup mata perlahan.

Namun tak lama, kring… kring… kring… ponsel itu berdering lagi.

Saya terlonjak, jantung berdegup kencang. Kali ini lebih keras, lebih nyata. Saya meraih layar, tetap sama: kosong, tidak ada panggilan masuk. Hanya bayangan wajah pucat saya sendiri yang memantul di permukaan layar ponsel.

Saya melirik jam digital di layar. Jarum waktu menunjuk 11 malam. Perut terasa kosong, ternyata saya belum makan malam. Ke warung pun rasanya malas. Lagi pula, warung terdekat sudah tutup jam 10 malam. Saya hanya menenggak air dari botol, lalu merebahkan tubuh kembali.

Gelap menyelimuti. Kantuk datang lebih pekat.

Namun belum lama mata terpejam,

"tok, tok, tok"

Suara keras menghantam pintu kamar.

Saya sadar sempurna. Merinding. Ingatan saya melayang ke cerita mas penjaga pos di depan kompleks malam minggu kemarin. Katanya, ia pernah melihat sesuatu yang membuat bulu kuduk berdiri. Sebuah kepala tanpa badan terguling sendiri di jalan, menggelinding di tengah malam. Gelindingan kepala itu, katanya, selalu menuju ke arah kos kami bagian belakang, tempat kamar saya berada.

Saya menelan ludah. Dada sesak, telinga terasa panas.

Saya duduk di tepi kasur, menajamkan telinga. Suara burung malam melengking panjang, terdengar begitu dekat di atap. Dari lantai bawah, kucing kampung meraung keras, bersahutan, seakan melihat sesuatu yang tidak bisa saya lihat.

Hikhihihikkkkkkkk …

Tiba-tiba terdengar suara cekikikan nenek-nenek. Pelan, namun jelas.

Saya meringkuk, mencoba menyelipkan tubuh di pojok kamar, terjepit antara tembok dan lemari. Saya ingin menghilang, sekecil mungkin, seolah dinding bisa menelan saya bulat-bulat. Ponsel segera saya matikan, takut bunyinya justru memancing perhatian makhluk yang berkeliaran malam itu.

Lalu,

byurr… byurr… byurr…

Dari kamar mandi terdengar suara air. Sepertinya ada yang mandi.

Saya terpaku. Bagaimana bisa? Sejak sore tadi saya tidak membuka keran. Kos ini pun sepi, sebagian penghuni tak tampak batang hidungnya ketika saya pulang tadi. Seharusnya hanya saya seorang di lantai atas.

Air terus mengalir, bercampur suara cipratan, seolah seseorang tengah menyiram tubuhnya. Jantung saya berdentam tak karuan.

Kemudian, dari dalam kamar mandi, terdengar suara perempuan. Lembut, tapi dingin menusuk.
“Mas Djho… tolong ambilkan handuk…”

Saya membeku. Suara itu memanggil nama saya. Dua kali. Nada suaranya mendayu, seakan datang dari seseorang yang sangat mengenal saya. Tapi siapa?

Saya ingin menjawab, tapi mulut terkunci. Ingin lari keluar, tapi kaki seperti terpaku di lantai.

Air masih mengucur. Suara itu mengulang.

“Mas Djho… handuknya…”

Kali ini lebih dekat. Lebih jelas.

Saya menahan kencing. Tubuh gemetar hebat. Kedua tangan menggenggam erat, berdoa dalam diam. Bapa Kami, Salam Maria, dan Aku Percaya bercampur tak tahu lagi rumusannya yang benar.

Sekilas saya teringat Mbak Syifa. Suaranya yang lembut dengan medok sunda, hampir mirip dengan suara yang sekarang memanggil. Tapi tidak mungkin. Tidak mungkin ia berada di kamar mandi kos saya.

Keringat dingin menetes di pelipis.

Suara itu berhenti. Tinggal sisa tetesan air, tik… tik… tik… jatuh ke lantai kamar mandi.

Sunyi. Sunyi yang menekan.

Saya menutup telinga, tapi tetap mendengar suara lain: langkah kecil, menyeret pelan, mendekat dari arah kamar mandi ke pintu kamar.

Srek… srek… srek…

Seperti kain basah diseret.

Saya gemetar hebat. Tidak berani menoleh.

Pintu kamar mandi perlahan terdorong, berdecit pelan.

Krieeet…

Cahaya lampu dari dalam kamar mandi menembus tipis, keluar dari pintu yang tak ditutup rapat. Tapi yang membuat napas saya terhenti bukanlah cahaya itu, melainkan bayangan hitam panjang yang ikut masuk, menempel di lantai tanpa wujud tubuh.

Bayangan itu meluncur perlahan ke dalam kamar, berhenti tepat di depan lemari tempat saya meringkuk.

Saya memejamkan mata erat. Bibir bergetar, doa berdesakan di mulut.

Tiba-tiba, bisikan itu kembali. Dekat sekali di telinga.

“Mas Djho… handuknya…”

Saya terpaksa membuka mata. Dan hampir menjerit.

Di ujung kasur berdiri sosok perempuan berambut panjang, basah kuyup, tetes air jatuh dari helaian rambutnya. Wajahnya menunduk, rambut menutupi muka. Tangannya menggenggam sesuatu.

Bukan handuk. Melainkan kepala manusia.

Kepala itu menatap saya, mata melotot, lidah terjulur, darah menetes dari leher putusnya.

Saya nyaris pingsan. Tubuh seakan terlepas dari jiwa.

Sosok itu melangkah pelan, air menetes mengikuti jejaknya. Semakin dekat. Saya ingin berteriak, tapi suara tak keluar.

Akhirnya saya hanya bisa menutup mata lagi, menggigil, menahan tangis. Saya tidak tahu berapa lama waktu berjalan.

Saat membuka mata, ruangan sudah sunyi. Pintu kamar kembali tertutup rapat. Kamar mandi kering, seakan tak pernah ada yang mandi. Tidak ada sosok perempuan, tidak ada kepala terguling.

Hanya saya, terjebak di pojok, tubuh lemas, seperti selesai diperas habis-habisan.

Saya menghidupkan kembali ponsel saya. Jam ponsel menunjukkan pukul 3 dini hari.

Saya tidak berani tidur lagi.

Dari luar, cahaya mulai merambat lewat gorden yang tak ditutup rapat, tanda fajar akan datang. Saya menunggu cahaya matahari benar-benar terang masuk lewat jendela. Baru setelah itu, dengan langkah gemetar, saya berani keluar kamar.

Lorong kos tampak biasa saja. Namun jejak air masih tersisa di lantai, pintu kamar mandi tertutup rapat dan terkunci dari luar.

Saya tercekat. Tubuh mendadak ringan, seperti terangkat.

Saat mata saya terbuka lebar, cahaya pagi sudah memenuhi kamar. Ponsel di samping bantal menunjukkan pukul 07.15. Saya masih memakai baju yang sama, tas kuliah tergeletak di lantai.

Tidak ada jejak air. Tidak ada bekas pintu digedor. Tidak ada suara perempuan.

Semua hening.

Saya tersadar… Kejadian barusan ternyata hanyalah mimpi.

Waduh. Terlambat ke kampus. Saya bergegas ke kamar mandi.

Ah, lupa handuk.

Ketika itu juga suara perempuan memanggil dari luar.

“Mas Djho… handuknya…”

“Mas Djho… handuknya…”

“Kemarin lupa aku isikan bersama cucian lainnya yang sudah diantar” suara Ibu langganan laundry saya.

“Aku taruh di kursi depan kamarmu ya...”

Saya tersadar. Ternyata masih sore.

“Ah, hampir saja saya ke kampus lagi” gerutu saya keluar dari kamar mandi, lalu kembali tidur lagi.


Nggena Ro Ndeka Rua



Keta, Petu ne’e Mbanga bhaze sekola. Zera na ebe bhaze muzu. Ndewe ebe zeze peka guru nau pas apel pagi. Sekitar jam sepuluh zatu ata bidan ne’e mantri mai zau puskesmas tau su’a imunisasi ebe. Ebe taku kalo sua. Na eze mogo oba sa uzu ria soO. Makanya, ebe bolos sekolah. Ebe bhaze dheko nggoze, taku guru ozo tei. Eze ozo imu ebe tei, ebe iwa taku. Kalo ozo imu ebe lapo, na Ii paa nggena ro. Ebe ngama, ebe ata kasa mere, pale jago one kelas na.
Ebe fonga bhaze saO, tapi ebe mogha piki. Taku ine ema ebe aze tei ebe bhaze mesa, sedangkan ozo imu ata nua sama ebe za’e bhaze. Makanya, ebe rencana mbana nggae rewo koO guawa ato nio nggedha ndeka ngebo uma ata. Guawa tau ka, nio nggedha tau pa nggezu nee geta wai mbuzu rua ndeka kios koO Ine  Ara.
Nore Ae Toa ebe tei guawa esa loO taka. Ebe mbana zimba. Mbana ngere mbana ebe pa sambu ne’e pu’u jambu air. Ebe kodho ngidho ngadho sai mbeO ki zatu nggere nggae kai. Rasa ngere ata seru mai reu ebe naru rogha. Ebe sengaja nggae nio nggedha. Ebe imu tezu na, dapa nio nggedha sa ziwu zera na. ebe sena mesa. Ebe coba kira wizo wazo, kalo nio sa ziwu dapa geta wai pira. Maklum, ebe ana kela satu maso baru, jadi za’e mbai mbeo koO berhitung.
Keta si widha mbuzu zima, Petu si wai mbuzu zima rua, mbanga si wai mbuzu zima esa. Ebe pa bheo dhu ebe zeze ata rita we’e ndeka pu’u zeze mere. Ebe paru mbeja. Na pasti nitu pai rita. Keta ngestei ne’e ngata samboko. Ngere iwa mbai reu, ebe iwa zeze rita na. ebe bhaze wazo. Ebe e Ii zetu koO jambu air ata ebe tei te’a toro peka na.
Ndeka wena pu’u jambu air, ebe pa rundi ka. Sai ata nai, ne’e sai ata napa retana tau pizi dawu esa ki ata mesu. Ngestei tau timba tato, Mbanga tau tanda salib langsung nai (ndoe, padaha naka tapi sembaya rogha), iwa ka napa. Keta ne’e Petu napa wena tana. Ngere sa ebho Ii, ebe rasa gera mogha ne’e Mbanga. Kai iwa pu’i pati mesu sa esa pu. Kai ka mesa ki. Ka tazo kai pusi ndeka saku sezake ne’e zambu kai. Ebe mai wena mulai gera. Ebe kera niu pai, Mbanga.
Iwa mbeo, zatu ata kera mai zodhe ngebo. “sai reze wawo”.
Zeze seru na, Keta ne’e Petu woku paru. Mbanga taku mogha. Kai wau zima zama, tapi kai keso saza ndeka tara tu’u. Kai mesu bebha pa’a ndeka tana. Zeze bunyi Mbanga mesu, Keta ne’e Petu mai wazo. Ata kera mai wena se’a ka mogha. Ata Baba Api. Jambu air na koO kai mogha. Kai gera tazo ka, tei ana ata mesu toO tazo ka na.
Piki wizo wazo, kai tu wazo ebe na tau nore sekola. Sekola jadi heboh. Pas na bidan ne’e matri mai peka. Langsung periksa muzu Mbanga ata kera nderu mesa. Guru aze ndeka  Petu.
“tu apa miu bhaze muzu?”
“kami taku sua, Ibu”
Keta ne’e Petu nggena kebha begitu zeze Ata Baba Api cerita si’i ebe naka jambu air ki. Sawe na ebe dapa su’a imunisasi campak. Kalo Mbanga dapa su’a ndeka tepa nee zodhe. Ebe dapa kebha ne’e su’a zera na. Ro na.
“makanya, kere wazi ma’e jogha jai wezi. Mesa iwa, miu dapa ro ndeka tepa we’e. Iwa ndeka pipi mogha” ibu bidan ngestei nau nena ebe.
“kami mbea ka, Ibu e”
Mulai na ebe belaja bugu. Ebe jadi tuli ne’e baca mbeO. (*) (Djho_Izmail)

Menikahi Anjing dalam Kanuku Leon



Sebuah Flashback Refleksi atas Pengalaman

Wonga menangis. Saya lebih tertarik membaca Kanuku Leon, dibandingkan harus menemaninya mengobrol. Tepatnya mendengar curahan hati. Ia lagi galau sekarang. Beberapa temannya menjauh hanya karena ia berpacaran dengan lelaki hitam yang tak ganteng. Bagi mereka itu pembawa musibah, karena semua temannya memiliki kekasih yang ganteng, putih, berambut lurus dan berada.
Ia memberontak, karena memang kebanyakan perempuan itu keras kepala. Tak mau mendengar apa yang orang sampaikan sebelum benar-benar membuktikan. Ini karena pengaruhi mereka cenderung mengedepankan emosi daripada logika. Dan kini ia ngambek dengan saya. Katanya saya apatis. Cuek dengan setiap keadaan dirinya. Lelaki penghayal yang takut dengan keadaan. Muka belakang.
“Wonga, diam! Jangan mengganggu proses kreatifku” kataku sedikit membentak, pada perempuan fiktif di kepalaku.
Ia yang dari tadi berkata manja dan merayu di samping kiriku berubah cemberut.
“Saya tahu. Kamu lelaki tukang gombal. Pemberi harapan palsu. Pasti karena kamu sudah menemukan perempuan lain, kan? Perempuan Senja taik kucing itu.”
Ia mengomel dan pergi sambil membanting pintu kamarku. Aku sedikit kaget dengan bunyi pintu. Lalu kembali lanjut membaca Kanuku Leon.

***

Saya belum selesai membaca semua cerita dalam Kanuku Leon. Ada dua cerita yang sejauh ini saya suka. Sifon dan Menikahi Anjing. Kali ini saya hendak melakukan perjalan ingatan masa lalu dan refleksi diri terhadap cerita menikahi anjing. Tulisan ini menjadi semacam tamparan keras buat kita orang timur (Indonesia bagian timur, NTT khususnya) di mana sering terjadi perubahan nilai rasa dalam perbincangan sehari-hari. Makian dari meminjam nama binatang sampai pada yang paling ekstrim seperti Pu**mai selalu terdengar di keseharian hidup kita. Dan saya berpikir ini sebuah kesalahan yang terus dilakukan. Bisa jadi semacam tradisi kesalahan. Atau juga Dogma dalam keseharian. Untuk kasus ini kadang orang menyamakan panggilan sayang dengan kalimat yang saya maksudkan sebelumnya.
Berangkat dari itu, beberapa cerita saya selalu (paling tidak) menyoroti hal ini. Misalnya, seorang yang memanggil orang lain anjing. Secara logika, ia telah berbicara dengan anjing. Dan yang bisa berkomunikasi dengan baik, lancar dan dapat secara gamblang dipahami oleh anjing hanyalah bangsa mereka, anjing. Seperti dalam tulisan di cerpen menikahi anjing. Ia ternyata telah menikah dengan seorang perempuan yang selama ini ia panggil anjing. Kesimpulannya ia telah menikah dengan anjing. Bisa dibayangkan jika seseorang manusia menikah dengan anjing apa jadinya. Mungkin saja dia mengidap bestialitas/zoophilia suatu kebiasaan untuk tertarik dan suka berhubungan seks dengan binatang.
Dalam keseharian sering kita temukan hal semacam itu. Pernah di kampung saya. Om - saudara lelaki mama saya – memanggil anaknya dengan sebutan ­kamba yang artinya kerbau. Sejak saya SD saya sering mendengar demikian. Ketika saya sudah berkuliah, saya merasa mereka sudah bisa menerima pendapat saya dengan baik. Suatu saat saya pernah omong dengan beliau. Jangan panggil anak kamba lagi. Coba, seandai Om panggil demikian dan tiba-tiba Roni (nama anaknya) datang dengan bentuk seekor kerbau. Bagaimana rasanya. (dalam hati saya ingin menyampaikan hal yang lebih ekstrim, kalau anaknya kamba, bapaknya pasti juga kamba, tapi tidak saya katakan ini, karena penghormatan saya kepada beliau). Hal lain saya sampaikan lagi. Kenapa NTT menjadi provinsi paling buntut untuk persentase kelulusan para muridnya? Ini karena kita menganggap anak-anak kita, kerbau, babi, anjing dan berbagai jenis binatang yang kita pelihara. Sehingga tak heran jika otak mereka seperti demikian.
Di negeri ini, jarang adanya penghargaan terhadap anak atau istri oleh suami. Suami cenderung superior. Hanya menganggap dirinya paling hebat dengan mengesampingkan yang lain. Dialah yang menafkahi keluarga, bekerja keras dan lain sebagainya. Jika istri atau anak berbuat sesuatu yang membanggakan atau menguntungkan keluarga, hanya ditanggapi datar. Tidak ada pujian yang membaut mereka senang dan termotivasi, tapi jika membuat hal yang merugikan atau mencoreng nama baik, maka tak segan-segannya dihukum, dipukul dan panggil dengan sebutan binatang dan makian yang paling tidak manusiawi.
Kira-kira itulah realitas hidup masyarakat kita. Dan cerita tentang menikahi anjing ini saya yakin bisa mengajarkan sedikit kepedulian dan intropeksi diri terhadap apa yang telah dilakukan selama ini. Paling tidak membuat orang sadar ternyata tak semua yang didengar oleh kebanyakan orang di masyarakat itu baik. Ternyata menempatkan binatang sejajar dengan anggota keluarga kita itu tdak baik. Bahkan bis aberimbas lagi ke diri kita. Menepuk air di dulang, keciprat ke muka sendiri.
Binatang adalah binatang. Manusia adalah manusia. Semua telah diciptakan berbeda, jangan disamakan.

***

Wonga datang lagi. Menunjukan sebingkai senja kepadaku. Ini kiriman dari Perempuan Senja itu. Katanya kemudian berlalu. Saya melihat gambar itu. Memegang dan mengamati utnuk beberapa saat, lalu tertidur, dengan gambar yang mendekap di dada.

Fragmen Senja yang Tak Selesai


Foto dr Seorang Senja

Senja kemarin nampak beku di kotaku. Tak ada tepatnya. Mendung lebih perkasa menyembunyikannya dari balik awan yang paling kelam. Hanya ada sore dengan rintik hujan yang menyembarak. Seperti jatuhnya percik kembang api tahun baru. Bedanya, percik ini hanya berwarna bening. Lain dengan kembang api yang menghadirkan beribu spektrum warna. Ini tentang latar senja kemarin di kotaku.
Entah dari mana, seseorang tahu bahwa senja tak ada di ujung cakrawala kotaku. Ia yang berada di dunia antah berantah kemudian mengirimkan sebingkis pesan gambar ke ponselku. Sebingkai senja dari tempatnya. Begitulah kira-kira judul pesannya.
Ia tak tahu bahwa ponselku belum sempurna menerima gambar. Apa pun itu. Bahkan hanya seulas gambar senyum saja, ponselku menukarnya dengan dua titik dan sebuah tanda kurung. Tak apalah dengan ponselku. Ia milikku yang kutukar dengan keringat lelahku selama kuliah.
Tentang pesan gambar itu, aku dengan penasaran mencari ponsel yang telah dirancang tepat untuk bisa menerimanya. Menukar kartu sim-ku dengan orang yang berbaik hati mau meminjamkanku ponselnya untuk beberapa menit. Sebenarnya dalam kepala aku berangan. Mungkin saja orang itu hendak mengirimkanku sebuah gambar tentang lowongan kerja, mungkin juga tentang pertemuannya pada apa yang dirasakannya sangat aku perlukan. Ternyata dugaanku salah. Ini sebuah gambar senja.
Apakah orang itu tak pernah tahu bahwa sebenarnya aku merasa biasa saja dengan warna senja. Tak ada yang istimewanya bagiku. Senja itu hanyalah semacam sakratul mautnya hari. Hari menarik nafas satu-satu sebelum seluruhnya berubah hitam memekatkan. Hanya itu. Tak ada keindahan dalam sakratul maut bukan. Atau jangan-jangan, ada yang membayangkan bahwa ketika sakratul itu, seseorang dengan jujurnya mulai mengatakan bahwa ada rahasia yang ia sembunyikan selama ini. Harta karun yang ia kuburkan dalam tanah. Orang itu mengatakan semua kekayaan yang lama ia timbun. Wea, kamba, jara ne’e sue wesa.
Ah, tak ada. Itu hanyalah dongeng. Seorang dalam keadaan separah itu tak akan bisa dengan tenangnya bercerita semuanya. Lalu si pendengar cerita mulai senang. Seminggu setelah upacara penguburannya ia ke tempat yang diceritakan mendiang. Menemukan betapa harta itu menumpuk dan ia membawa semua ke rumahnya lalu menjadi orang yang kaya. Itu tak mungkin. Itu hanya cerita klise yang ada di dongeng penghantar tidur.
Bisa jadi pemikiran seorang terhadap senja itu begitu. Aku tak peduli. Yang aku peduli hanyalah kenapa ia tak peduli padaku dengan mengirimi sebingkis senja ke ponselku. Apakah ia tak tahu. Setelah kirimannya itu, aku bersusah payah harus mencari ponsel lain yang lebih baik dari milikku, hanya untuk menyelesaikan penasaran tentang apa yang sebenarnya telah bersemayam dalam kotak masuk ini. Sungguh ia tak tega. Lagi pula sekali lagi. Aku tak suka senja.
Aku masih mengomel dalam hati dengan kejahilan orang itu. Yang senagaja membuatku penasaran dengan kirimannya yang ternyata hanya sebingkai senja yang tak aku sukai. Omelan itu tiba-tiba seperti dihentikan dengan paksa. Pesan lain lagi masuk. “ini aku, Perempuan Senja.”
Aku terperangah. Ah! Itu dia. Perempuan yang saban hari aku tunggui kedatangannya di Pante Ria. Di mana kamu sekarang?

(woloare, 26/11/13)

Lelaki yang Berseteru dengan Perempuan-perempuan



: Sebuah Cerita

Ilustrasi: http://www.kompasiana.com/www.fitriyenti.multyply.com
Lihatlah. Manusia melakukan apa ketika saling berhadapan? Berinteraksi. Saling menyapa. Komat-kamit mulut antara yang satu dengan yang lainnya. Mereka berbicara. Ungkap kata-kata.  Dan kata-kata itu punya kuat kuasa.
Kata bisa mengusir pergi tikus yang hendak mencuri sedikit hidangan di dapur. Kata terlalu perkasa dan kejam, lebih tajam dari pedang bermata dua. Dengan berkata-kata kita bisa men-judge orang lain. Kata bisa membunuh dan bisa membuat orang lain tersanjung. Memuji, menghina, merayu, memaki dan banyak lagi cara untuk berkata-kata. Pada cinta juga.
Jatuh cinta dan rayuan adalah hal yang sulit dipisahkan. Rayuan itu sama dengan gombal. Kita tahu sejarah penciptaan manusia menurut kitab suci. Eva merayu Adam untuk memakan buah terlarang dan mata mereka menjadi terang. Mereka jatuh cinta dan menghadirkan manusia baru yang penuh cinta dan tidak memiliki cinta. Kata itu menjadi simbol. Bahasa adalah filsafat yang cair, seperti yang dituliskan Ignas Kleden.
Benar kata orang-orang bahwa bahasa adalah tanda. Lebih daripada itu, bahasa sebenarnya adalah kuasa. Bahasa diciptakan oleh manusia dan kemudian bahasa menciptakan manusia. Bahasa punya kuat kuasa. Aku sekarang sedang merasakannya. Kata-kata yang kusukai itu telah membuat hidupku menjadi begini. Aku jadi bernafsu untuk mengatakannya pada setiap kaum hawa yang menurutku cantik.
“Jika kemarin kamu adalah Pencuri, maka usahakan hari ini kamu menjadi perawat. Biar hatiku yang kamu curi terawat dengan baik dan tak jatuh ke tangan Pencuri yang lain.” Kataku pada Maya di suatu senja.
Epenkah???” ia dengan culasnya.
“Menurut kamu??”
“Tidak penting. Gombal.”
“Hey… koruptor.”
“Kog. Kamu bilang aku koruptor?
“Iya. Corruptio maxima bona est” sombongku
“Aku korupsi apa?”
“Waktuku untuk terus memikirkan kamu” aku sambil tersenyum.
Ia speechless. Lenganku di cubit berulang-ulang lalu tersenyum. Bergelayut manja di lengan kiriku. Kerumunan orang-orang disekitar kami tak ia hiraukan. Aku sedikit malu dan kikuk dengan sikapnya, tapi kuladeni saja dengan tenang. Buat apa peduli dengan orang lain. Mereka dan aku punya kehidupan sendiri-sendiri. Dan cinta telah membuat aku memilih, bahwa hidup ini hanya persinggahan sementara, jadi lakukan selagi kita mampu dengan penuh aroma cinta dan wewangian kasih yang menaburi di setiap jalan kehidupan.
*****
Aku adalah lelaki yang ingin hidup tenang dengan alam keromantisan. Berbaring empuk lewat kata-kata indah yang memporakporandakan hati. Aku adalah lakon gambaran Sang Pencipta yang siap menerkam manusia kedua dengan rayuan. Karena bagiku, cinta itu paling dekat dengan rayuan dan rayuan sangatlah dekat dengan nafsu. Semuanya antara pria dan wanita. Teringat kembali kata teman ku, wanita sering kali bermain dengan seks untuk mendapatkan cinta sedangkan, lelaki sering kali bermain dengan cinta untuk mendapatkan seks.
Semuanya tak begitu mulus sesuai dengan apa yang diharapkan, tetapi apalah gunanya hidup kalau tidak berusaha. Apapun yang terjadi aku harus hadapi sebelum mangsaku benar-benar tercakar oleh kuku kegilaanku. Aku seolah bentuk masa kini dari Cassanova, mungkin juga jelmaannya.
Aku tidak paham mengapa sampai aku bisa begini. Ini bentuk pelampiasanku terhadap masa laluku. Setahun yang lalu aku harus menangis. Kecewa. Seorang lelaki katanya pantang menangis, tetapi hal ini tidak berlaku bagiku. Perasaanku terlanjur hancur berantakan. Pecah berkeping-keping. Emmy cewek yang menjadi pacarku, dia lah yang telah menghancurkan harapanku akan cinta yang serba indah. Dia melenakan aku dengan kata-kata indah yang menjanjikan lalu membuatku bagaikan pepohonan yang tumbang tak beraturan dihempas tornado.
Adalah sepenggal cerita kala itu. Siang yang bergerimis. Celotehan burung liar di dahan-dahan sepanjang lorong yang kulalui tak ada lagi seperti hari-hari ketika aku melewatinya. Aku terburu menuju rumahnya. Beberapa hari berlalu tak ada kabar darinya. Rasa penasaran dan gelisah menghantui setiap aktivitasku. Ia begitu indah untuk kulupakan begitu saja. Sampailah juga aku di rumahnya.
Rumah dengan desain atap dua air itu tampak lengang. Bunga-bunga terkulai lemas setelah habis dihisap madunya. Ayunan gemulainya ke kiri dan kanan ditiup angin sepoi. Gantungan dari bambu di depan teras berdetak-detak digoyang angin. Suasana siang yang sayup dan sejuk. Dua ekor kupu-kupu masih bertengger di puncak bunga. Mungkin mereka keasyikan dan lupa kalau hari sudah siang untuk segera kembali ke sarangnya.
Sudah beberapa kali aku mengetuk pintu dan memanggil penghuninya, tetapi tak nampak batang hidungnya. Aku mengetuk sekali lagi dengan perasaan putus asa. Dalam hatiku berpasrah ini yang terakhir, apabila tak ada tanda-tanda aku akan kembali.
Hatiku yang pupus, beranjak pergi. Kakiku menuruni tiga anak tangga yang ada di teras rumahnya. “bruukhh..” aku terkejut oleh sesuatu yang jatuh di samping kiri rumahnya. Perasaan ingin tahu ku yang tinggi memebuat aku berlari ke sumber suara.
Aku terkejut dengan pemandangan yang baru saja kulihat. Emmy tampak bermesraan dengan lelaki yang tak kukenal. Mereka menjauh begitu melihatku hadir. Emmy menatapku dengan wajah merah padam, bagaikan tomat masak yang siap dipetik. Mulutku tergagap tanpa tahu harus mengatakan apa. Aku menjadi seperti oarang gila. Berteriak tak tahu arah. Lalu lari menghindar dan menghilang, meninggalkan Emmy yang menghampiri hendak mengatakan sesuatu.
*****
Sekarang aku kehadiran roh penghibur. Dia yang membuat aku dengan pikiran gilaku. Bagiku sekarang di dunia ini tak ada perempuan yang benar-benar dipercaya. Mereka adalah kaum kemunafikan yang siap merayu makhluk adam dengan pesona dan kemunafikan cinta mereka. Melawan perintah Sang Empunya Kehidupan. Memakan buah terlarang. Perempuan lupa berterima kasih atas kehidupan indah yang telah diterima secara cuma-cuma. Terburu oleh hawa nafsu.
Mulut terlalu manis untuk mengajak serta. Berbuat seolah lemah, sebenarnya tegar agar cepat dipercaya. Berharap perhatian, tanpa memberi perhatian dengan porsi yang setimpal. Dengan keindahan yang bercampur kamuflase. Pilihan antara bahagia dan derita yang ia tawarkan. Madu dan racun bersamaan, pada kedua telapak tangannya.
Untuk itu, sekarang aku memilih mereka sebagai korban balas dendamku. Pada semua perempuan di dunia ini, karena bagiku perempuan yang juga adalah manusia mereka memiliki satu kelemahan yang tak mereka sadari. Perempuan masih memanfaatkan kelemahan dirinya agar mendapat perlakuan istimewa. Sekali pun perempuan berteriak menuntut kesetaraan gender, tapi dengan sadar ia masih bertahan pada sisi  manusia kelas dua dengan kelemahan dirinya dan penugasan khusus dirinya, selain apa yang menjadi kodrat perempuan.
Sekarang tinggal bagaimana aku mencari cara untuk mencapai maksudku. Anthropos physei politikon zoon. Manusia hidup dengan penuh intrik politik untuk mencapai maksudnya. Dengan filosofi inilah aku melebarkan sayap dengan nafsu balas dendamku. Advocatus memihak padaku. Menggelorakan dendam yang membara.
Bulan lalu, Bunga menangis tak henti memohon aku untuk tak memutuskan cintanya. Ia tak rela aku melepaskannya begitu saja setelah apa yang kubuat terhadapnya. Semua miliknya menjadi milikku juga, begitu diawal kami pacaran.  Ia tak mau aku menghempaskannya begitu saja. Baginya akulah yang terakhir dan tak ada lelaki lain lagi dalam kehidupannya. “Lelaki ganteng di luar sana adalah monyet” katanya suatu hari ketika aku membuat hatinya terpesona oleh cinta palsu dengan gombalan yang kudesain.
Aku masih ingat suatu malam di taman kota, pertama kali aku membuatnya jatuh kepangkuanku.
“ Aduh bulan indah sekali..??”
“ Ya, Iya lah..”
“ Koq, ada dua..??”
“ Mana??”
“ Tu..” kataku sambil menunjuk ke langit.
“ Satunya??” tanyanya polos
“ Tu.. ” kataku sambil menujuk dirinya yang ada di sebelah kiriku.
Ia memeluk diriku dengan erat. Tak mau menyisakan untuk angin yang menerobos di tengah kami. Aku tersenyum penuh kemenangan dalam hati. Sinis yang hendak ngakak mengetahui dia tak menyadari sama sekali kemunafikan dan tipu muslihatku. Padahal dari lubuk hatiku, jauh dari kebenaran. Ia sekarang hidup dengan kehancuran cinta.
Donna, Virna, Enny dan Berta mereka adalah korban yang telah aku tenggelamkan impian mereka akan cinta yang begitu istimewa di dunia. Mereka terburu oleh cinta yang begitu menarik ingin. Mereka terlalu percaya dengan kalimat first love is never die. Bagi mereka aku adalah cinta pertama dan berharap menjadi terakhir. Bagiku mereka adalah anak ayam yang mempunyai keinginan besar untuk terbang seperti rajawali. Suatu mimpi aneh. Genaplah peribahasa katak hendak menjadi lembu.
Mereka menyadari semua muslihatku. Mereka menuntutku dengan semua apa yang telah kulakukan terhadap mereka. Pemerkosaan. Sia-sia aku lebih licik dari pada ular. Semuanya karena kata-kata. Bahasa bisa memutarbalikan. Salahnya mereka, kenapa mereka mau. Mereka berpikir terlalu picik, hanya karena kataku, aku akan bertanggungjawab apabila terjadi hal yang tidak diinginkan. Mereka juga terlalu bodoh karena percaya kataku bahwa inilah cara ampuh pembuktian cinta. Mereka tidak bisa mengadiliku karena ini atas dasar suka sama suka.
Aku begitu mantap dengan perbendaharaan kataku. Kumpulan rayuan gombalku menyesak di batok kepalaku. Semaunya kubuat perempuan terpatung hanya dengan sekali skak mat. Semua di dunia ini hanya karena kemauan untuk dilakukan. Dunia dibuat oleh kata-kata. Bersabdalah Tuhan maka dunia dijadikan. Tidak ada embel-embel, kita harus berterimakasih pada duka cita yang telah mengajarkan akan rasa kasihan. Kita harus berterimakasih pada rasa sakit yang mengajarkan kita keberanian. Dan kepada misteri yang masih tetap menjadi misteri, karena semaunya hanya kemunafikan semata. Yang ada hanya kata yang menjelma menjadi bahasa.
Akan ada kata mazel tov untuk awal melakukannya. Membiarkan dendam akan kebohongan kaum hawa yang menawarkan cinta instan dengan godaan mereka yang melumpuhkan. Sekarang godaan mereka justru menjadi bumerang bagi mereka sendiri.
Perempuan yang bersamaku saat ini. Maya. Ia tak lama lagi. Tinggal menghitung detik tersisa sebelum ia kucampakan, karena aku sudah berhasil. Kurengut kepunyaannya yang kata orang adalah mahkota bagi semua perempuan. Cinta itu berawal dari mata turun ke hati. Ia bukan menetap di hati, karena cinta itu berada di bawah pusar.
Pesan singkat dari Maya, nongol begitu cepat di kotak masukku. Aku tak percaya dengan isinya. Sekali lagi kuteliti, mungkin sekedar kata-kata tak bermaksud. “ Kak… aku sudah terlambat dua bulan. Kakak di mana?? Kita bisa bertemu sekarang ditempat biasa.” Seolah ada guntur yang menyambar di tengah terik. Aku tak percaya dengan ekspresi mulut ternganga. Tidak mungkin.
Dua bulan yang lalu ia mengaku dua minggu lagi baru kedatangan tamu bulanannya. Kenyataan sekarang dia hamil. Ini tak bisa dibiarkan. Aku harus mencari cara agar semuanya tidak menjadi masalah. Aku berang. Hanya satu jalan sekarang. Aborsi…                                            

Catatan:
Epenkah  : emang pentingkah
Corruptio maxima bona est (bhs Latin): Korupsi biasanya dibuat oleh orang-orang yang terlihat baik
Anthropos physei politikon zoon (bhs Yunani ) : Pada kodratnya, manusia adalah makluk yang berpolitik.
Judge (bhs Inggris) : menghakimi
Advocatus (bhs Latin) : Roh Penghibur
Speechless (bhs Inggris) : Terdiam, terkelu
First love is never die (bhs Inggris) : cinta pertama takan pernah mati
Mazel tov (bhs Ibrani) : semoga sukses

                                                                                               Naikolan, Januari 2012

Tulisan Terbaru

Mitos atau Fakta: Anak Tikus Menyembuhkan Asma dan Sesak Napas?

Anak tikus. Gambar diambil dari: https://www.merdeka.com/ Di beberapa daerah, terutama dalam praktik pengobatan tradisional, ada kepercaya...