Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Namanya Tarik Rambut



Di flores, orang tidak hanya mencintai Tuhan dengan cara paling ikhlas tapi juga memgkianatinya dengan cara cukup santun. Misalnya, ketika mencuri kelapa, orang terlebih dahulu membuat tanda salib mohon perlindungan agar tidak ada musibah selama memanjat kelapa, juga celengak celinguk mencari orang. Mungkin ada tuannya di salah satu sudut kebun.

Cerita tentang mencoba membohongi Tuhan tidak hanya sampai di situ. Ada cara lain yg cukup mainstream sekarang ini. Apalagi menjelang natal. Perayaan memperingati kehadiran Yesus ke dunia ini bukan saja perkara mempersiapkan batin. Ada perkara lain yang dilakukan seperti persiapan kue natal dan segala pernak-pernik natal. Yang disebutkan ini, saya rasa sudah banyak dilakukan oleh umat kristen di seluruh dunia. Hal lain yang hanya ditemukan pada orang flores dan tidak ditemukan pada orang lain ialah berhubungan dengan rambut.

Orang menganggap rambut adalah mahkota. Untuk itu segala macam cara dilakukan untuk rambut, dari cara tradisional menggunakan santan kelapa sampai pada cara modern dengan shampo atau creambath. Hak tentang perlakuan istimewa terhadap rambut dilakukan oleh mereka yang merasa diri tidak dikarunia rambut indah oleh Tuhan. Bagi sebagian besar perempuan flores yang berambut ikal atau keriting mereka harus rela berbagi rejeki dengan pengelola salon kecantikan. Rebonding.

Perihal rambut ini, saya membuat beberapa simpulan yang mungkin sedikit berlebihan menurut kalian, tapi tak apalah. Saya menganggap perlakuan merekalah yang berlebihan. hehehehee...
Yang pertama, tentang kurangnya rasa hormat dan terima kasih kepada Sang Pencipta yg telah menghadirkan kita dengan tampilan yang sekarang.

Yang kedua, tentang kepercayaan diri. Orang yang demikin cendereng tidak percaya terhadap apa yang telah ia miliki. Tipe pribadi yang tak pernah puas dengan keterbatasan lahiriah dan berusaha untuk mengingkarinya.

Yang ketiga, tentang pemahaman yang keliru. Kecendurangan melihat bahwa yang putih atau yang berambut lurus adalah yang cantik, sedangkan selain itu ialah mereka yang kurang cantik.

Di flores, jenis rambut pun bertambah, padahal tidak ada padanan katanya dalam kamus besar bahasa indonesia. Misalnya, ketika kita bertanya perihal ciri-ciri seseorang, salah satunya disebut ciri rambut. berambut LURUS, KERITING, IKAL dan jenis terakhir di sini BERAMBUT TARIK.

Sekian catatan ngasal  dari saya. jangan tersinggung ya!

SELAMAT MELAKUKAN RITUAL TARIK RAMBUT MENJELANG NATAL DI SALON-SALON TERDEKAT ANDA.

Dari Kampung Kepi yang selalu berganti scene,
gerimis, mendung, cerah dan cerah berawan

NB: catatan ini pernah dibuat di facebook beberapa tahun lalu.

Gambar ilustarsi diambil dari SINI


Rinduku di Grup Facebook Rajawawo Nua Mere dan Gaduhnya Oleh Postingan dari Wakil Rakyat.

Ilustrasi dari: benankmerah.co

Rindu. Ya, itu kata yang tepat. Pasalnya, saya memang rindu dengan Grup Facebook Rajawawo Nua Mere. Sudah lama saya bergabung dengan grup ini. Sejak tahun 2009.  Sejak anggotanya masih sedikit kala itu. Puluhan bahkan sampai seratus atau dua ratus. Sekarang malah sudah empat ribu empat ratus enam orang.

Mengapa saya katakan rindu? Pasalnya, beberapa bulan yang lalu, setelah menikah, saya menutup akun saya. Saya berpikir bahwa sudah terlalu banyak waktu saya sia-siakan hanya untuk bermain facebook. Namun, terkadang, dalam kesendirian –karena walau sudah menikah, kami tetap LDR– saya merasakan rindu yang amat sangat untuk bertamu di beranda grup. Sekedar melihat celoteh teman-teman, atau membaca berita dari kampung bahkan membaca bagaimana perdebatan tentang masalah air minum di kampung yang tak kunjung usai.

Sekarang, setelah saya membuka lagi facebook saya kemarin, saya melihat sudah ada yang memposting tentang orang-orang rajawawo yang menaclonkan dirinya jadi wakil rakyat. Dan saya masih berpikir supaya TIDAK MEMILIH siapapun yang mencalonkan diri jadi wakil rakyat, entah dari mana saja di Indonesia ini. Saya tidak melihat dari latar belakang mereka, atau dari alasan apapun secara konstitusi. Saya hanya melihat dari sisi logika berpikir saya. (mungkin juga salah).

Wakil rakyat. Dari kalimat wakil rakyat, dalam benak saya, seharusnya mereka itu wakil dari rakyat. Tapi kenapa pada umumnya, mereka yang mencalonkan diri sendiri. Saya tak pernah melihat rakyat membuat petisi, menandatanganinya secara massal hanya karena mereka mau agar wakil rakyatnya, orang yang ini saja.

Oke, mungkin saja, logika berpikir saya yang keliru. Teman-teman bisa berkomentar untuk memperbaikinya. Tapi, saya tidak terima, apabila ada yang berkomentar dari sisi konstitusi dan regulasi yang ada. Sebab, saya tak paham itu. Di sini saya hanya melihat dari sisi logika berpikir saya saja.

Dan, kenapa saya menuliskan ini?
Saya sampai saat ini merasa mempunyai beban moril buat tanah kelahiran saya, rajawawo. Sejak kuliah, ketika sedang sangat penasaran dengan internet dan dunia virtual, saya menemukan sangat sedikit tulisan tentang rajawawo ketika melakukan pencarian di mesin pencari google. Di sini, saya merasa rajawawo itu harus dipopulerkan, makanya saya dengan hobi menulis, menggunakan nama rajawawo untuk blog saya. Lengkapnya https://pangeranrajawawo.blogspot.com/

Setelah selesai kuliah, saya mndengarkan banyak keluh kesah dari masyarakat tana zozo. Mereka sungguh merindukan adanya sosok wakil mereka yang duduk di kursi dewan perwakilan rakyat kabupaten ende, untuk menyuarakan aspirasi mereka. The voice of the voiceless. Namun, hampir tiap kali periode pemilihan, selalu ada lebih dari satu orang yang mencalonkan diri. Dengan jumlah pemilih yang tidak mencapai satu kursi itu, kenapa orang rajawawo seolah berlomba untuk mengejar untuk menjadi anggota dewan?

Dalam keseharian di masyarakat, kita mengenal banyak praktik gotong royong yang berfilosofi lokalitas tana zozo. Sebut saja minu ae petu, bou tembo, waizaki, dll. Tapi anehnya, kenapa praktik seperti itu tidak bisa di pakai untuk ini. Apakah gengsi primodial kita terlalu besar sehingga kta lupa dengan praktik-praktik lokalitas kita yang berlandaskan kekeluargaan?
Sampai di sini saja dulu. Salam Rajawawo Nua Mere.

Smartphone dan Pemiliknya yang Tak Smart

Ilustrasi dari: https://www.pngegg.com/



Ponsel pintar alias smartphone sudah menjadi barang yang wajib dimiliki oleh setiap orang. Smartphone menjadi kebutuhan yang mesti ada bagi setiap orang. Sebagai gaya hidup dan tuntutan kebutuhan komunikasi. Selain fungsi telepon dan juga fungsi pesan singkat, smartphone juga menghadirkan fungsi lain dengan bantuan internet. Bisa digunakan untuk menerima dan mengirim informasi audio maupun visual dalam bentuk tulisan maupun gambar.
 
Semenjak munculnya berbagai tawaran media sosial dengan berbagai keunggulannya, seolah informasi hanya terletak pada jari kita. Dan hari ini, informasi yang dikatakan pada jari kita tersebut benar-benar terbukti. Sebuah kejadian yang menyedihkan dialami oleh sesama saudara, anak-anak kita di Sabu, Nusa Tenggara Timur. Ada seseorang yang diduga stres, menyerang sebuah sekolah dan melukai beberapa anak sekolah.
 
Kejadian itu membuat gaduh linimasa di akun media sosial saya, khususnya facebook. Orang dengan berbagai informasi yang simpang siur berusaha menjadi yang terdepan memberikan informasi terkini, walaupun menurut pengamatan saya, ada yang tak berada di lokasi kejadian, namun dengan gaya seolah sedang meliput kejadian itu, memberikan informasi yang juga ia dapat dari orang lain. Adanya informasi berantai ini membuat sebagian orang mulai berpikir dan menyimpulkan sesuai dengan pemahamannnya.
 
Hanya karena membaca status seseorang di facebook dengan smartphonenya, orang mulai berasumsi. Mulai adanya berbagai pendapat tanpa ada solusi yang baik. Orang mengedapankan info sepihak tanpa kroscek untuk kebenaran sebuah berita. Berita yang di dapat seolah menjadi sabda dari pencipta. Menjadi kebenaran mutlak.
 
Di sini, saya menyimpulkan. Dengan maraknya pengguna smartphone, orang atau pengggunanya tak berpikir smart (cedas) orang berlomba berpendapat tanpa solusi. Dunia menjadi pabrik kata-kata. Seandainya ada tempat sampah untuk kata-kata yang tak terpakai atau tak berguna, tentu dunia ini telah dipenuhi sampah itu.
 
Semoga bumi ini menjadi damai, tanpa provokasi dan pemahaman keliru yang tidak disaring terlebih dahulu oleh kita pengguna smartphone. #PrayForSabu.

Laga Vietnam vs Indonesia dan Sinetron India



Akhir-akhir ini, sinetron india memenuhi ruang televisi masyarakat Indonesia. Mulai dari anak TK sampai ke Nenek anak TK tersebut tak mau ketinggalan untuk menonton sinetron india. Ada jadwal tersendiri bagi pecintanya. Mulai dari Thapki, Lonceng Cinta, Mohabatein dan seabrek judul lainnya.
Di kantor kami, akan ada cerita pagi tentang sinetron yang mereka nonton semalam. Sebut saja Tin dan Las, bukan nama sebenarnya. Mereka berdua adalah penggemar sejati. Menonton sendiri-sendiri di rumah masing-masing lalu bercerita lagi untuk hal yang sama di kantor keesokan harinya. Untuk mereka berdua sendiri pula. Semacam menghadirkan kenikmatan tersendiri.
Ada lagi, tetangga kami yang Ibu Guru itu. Ia sampai lupa waktunya untuk memasak. Memberikan makan hewan piaraan, mungkin juga lupa mandi, hanya karena tak mau melewatkan sedetikpun cerita yang kadang tak masuk akal dan bikin hati sakit.
Saya pernah menonton beberapa kali bersama Tin dan Las. Sungguh mengharukan mama sayang e. Mereka berdua saking cinta matinya, sampai berteriak-teriak dan mengatai dengan segala macam perkataan. Seandainya televisi punya tangan, pasti dia telah membawa payung untuk melindungi wajahnya dari muncratan air liur.
Itu semua karena  beberapa potongan cerita yang bikin “naik darah”. Cerita tentang sinetron india tersebut terkadang membuat mereka harus berkomentar. Mungkin berharap agar didengar oleh para pelakon untuk mengikuti arahan mereka. Saya mengutip satu dua kalimat.
“Bodoh sekali dia tu. Kenapa tidak keluar dari itu kamar?”
“Ishita enda wenga ne”
Kira-kira begitulah potongan komentar mereka. Bahkan ada yang buang ludah. Saya menduga mereka telah sangat amat dalam mendalami jalan ceritanya sehingga, kata-kata yang keluar benar dari dalam jiwa, seperti Isyana, hehehee.
Tentang pertandingan sepak bola antara Vietnam kontra Indonesia tadi, kejadian untuk para penonton yang ada di depan televisi hampir sama. Dua puluh menit awal babak pertama, sungguh menyajikan sebuah tontonan paling  mendebarkan jantung. Serasa Atom dihantam babak belur oleh Zeus dalam Real Steel. Bikin jantung dag dig dug, mengutip komentar dari komentator di Inews TV yang saya tidak tahu namanya.
Menjelang babak pertama berakhir, Indonesia mulai sedikit menunjukkan tajinya. Namun sayang, taji itu belum kuat benar untuk siap bertarung dengan ayam segon. Vietnam berusaha menciptakkan gol, agar bisa lolos ke final. Lagi-lagi jantung penonton televisi Indonesia dibuat berdebar dan berdebar. Semakin cepat dan cepat.
Setengah babak kedua, gol tercipta untuk Indonesia lewat kesalahan pemain belakang Vietnam dan dibantu Stefano membuat jantung kembali berirama normal. Seolah sinetron india yang telah keluar dari klimaks cerita, menyisakan beberapa adegan untuk akhir yang bahagia. Apa lagi kiper Vietnam harus rela melepaskan sarung tangannya untuk pemain belakang mereka. Vietnam seperti sudah jatuh, tertimpa tangga dan tangganya seberat meme “mantan, maafkan aku yang dulu”.
Namun, namanya sinetron. Selalu saja ada cerita di luar dugaan penonton. Vietnam justru membalas dua gol yang membuat agregat menjadi sama, sehingga menghadirkan perpanjangan waktu, dua kali lima belas menit. Jantung kembali berirama cepat. Buang ludah menjadi pemandangan biasa. Makian terus dilantunkan kepada segenap pemain, pelatih juga wasit.
Mungkin nasib baik, masih berada di pihak Indonesia sehingga gol balasan menjadikan pertandingan menjadi seri dan kemenangan dipetik lewat agregat tipis, tiga berbanding dua. Dan ending dari cerita bola pun berakhir sementara. Sinetron india dan pertanding tersebut menghadirkan cerita tentang penonton yang sama. Sama-sama mendebarkan jantung dan sama pula berkomentar, caci maki dan buang ludah.
Selamat berkomentar bagi pembaca.

Menambahkan Trias Politica-nya Om John Locke



-Sebuah catatan iseng

Pagi yang cerah. Matahari bersinar gemilang. Seperti anak kecil, ia mulai mengintip dari ujung tengu manu. Menunjukkan sinar kuning keemasannya yang begitu menawan hati. Terbangun saya di pagi hari, bersama kokokan ayam dan suara adzan subuh yang begitu menyentuh dan menentramkan hati. Saya bergegas dari tempat tidur.
Sebagai manusia yang hidup di era sekarang, saya akui, saya sudah mulai terbuai tawaran kecanggihan teknologi. Khususnya ponsel pintar atau yang disebut android atau nama lainnya gadget. Saya merasa, bahwa bangun pagi menjadi hampa, apa bila tidak langsung memegang ponsel. Biar kekinian. Padahal itu tidaklah amat penting dan tidak penting amat.
Hal pertama setelah memegang ponsel ialah, membuka beberapa notifikasi akun media sosial saya. Selain komentar tidak penting untuk status tidak penting saya, saya mendapatkan sebuah komentar di Grup Facebook Antah Berantah –untuk tidak menyebut nama sebenarnya-. Seorang anggota grup, dengan begitu antusias dan bersemangat menuliskan sekelumit kisah tentang biaya transportasi sepeda untuk merujuk pasien ke rumah sakit di ibukota kabupaten. Sungguh, sebuah kejadian langka, lantaran di era sekarang ini, banyak anak muda yang antipati terhadap perkembangan dan kemajuan daerahnya. (Walaupun tidak semua. Ini cuma pandangan saya). Saya yakin dia tidak melakukan cross check. Lalu ia dengan kerennya menulis tentang instansi yang diduga pungli, hanya karena membaca status facebook terdahulu.
Kenyataannya, status yang dibuat tersebut tidak benar. Orang yang menulis status berada jauh. Bahkan beribu mil dan berbeda pulau pulau. Seperti kata chairil, cintaku jauh di pulau. Hehee... hanya karena mendapat informasi keliru dari keluarganya. Ia menilai adanya pungutan untuk biaya perjalanan, padahal tidak sama sekali. Hal ini langsung direspon cepat dan masalahnya selesai.
Di luar dugaan. Ada orang yang merasa sungguh perhatian dengan tanah kelahirannya sehingga perlu mengawasi walaupun dia jauh. Sungguh, perbuatan mulia. Ia dengan amat yakin menulis tentang dugaan pungutan liar, padahal dia tengah asyik memungut kata-kata dengan liar untuk menuliskan statusnya, walau status itu perlu dipertanyakan.
Anggota grup tersebut menyadari betul bahwa kinerja aparatur kerajaan mesti diawasi dan dikontrol oleh masyarakat. Biar jauh di tanah seberang, hati tetap di tanah kelahiran tentunya. Kita harus berkomentar dengan sesuatu yang kita rasakan ada ketimpangan. Selanjutnya entah itu terbukti atau tidak urusan kemudian. Yang penting kita berkomentar sebagai fungsi kontrol. menganalogikan burung, harus tetap berkicau walaupun, bisa saja suara mereka didengar sambil lalu saja.
Saya jadi teringat akan pelajaran tata negara ketika SMA. Tentang bagaimana negara itu diatur pembagian tugasnya agar masing-masing aspek dalam pemerintahan memiliki porsi tugas dan kewenangan yang sama rata. Namanya, Trias Politica. Pada tahun 1690, Om John Locke mencetus ide dasarnya dalam buku Magnum opus –Karya Agung-. Karya agung tersebut kemudian disempurnakan Om Montesquieu di tahun 1748 dalam Spirits of The Laws.
Pembagian kekuasaan tersebut dibagi dalam tiga (Trias) aspek besar dalam pemerintahan. Ada Eksekutif yang bertanggungjawab dalam menjalankan roda pemerintahan. Kemudian Legislatif sebagai fungsi kontrol dan Yudikatif yang mengurusi hukum (Law). Hemat saya, di era modern ini. Di mana sudah begitu berkembangnya teknologi, Om John Locke harusnya bangkit kembali untuk lebih jeli melihat persoalan. Ia harus menamhkan elemen lain untuk karya agungnya.
Harus ada aspek lain, yang selama ini dikesampingkan. Ada aspek masyarakat (People) dan aspek media (Medium). Kedua aspek ini harusnya ditambahkan agar masing-masing elemen yang membentuk sebuah negara merasa tidak dianaktirikan.
Masyarakat yang notabene sebagai elemen paling dasar dan paling banyak harusnya diperhitungkan. Akibat kurang diperhitungkannya masyarakat itu, maka ada yang namanya “omong dibelakang”. Bagaimana tidak, ketiadaan ruang untuk masyarakat memberikan aspirasi atau kontribusi yang membuat hal demikian. Hal ini bisa jadi menghambat proses pembangunan. Informasi yang “omong belakang” tadi, bisa jadi cukup penting, namun karena keterbatasan ruang  untuk menyampaikannya itu, membuat ia menjadi begitu tak bernilai.
Sebenarnya, ada perwakilan masyarakat yang bernama legislatif tersebut. Namun, terkadang mereka terlalu banyak mendengar suara masyarakat sehingga terkadang mereka lupa menyampaikan lagi. Bisa juga karena keterbatasan mulut dan telinga. Mulut yang cuma satu, tak cukup mengungkapkan banyak persoalan yang disampaikan. Telinga yang cuma dua, juga tak cukup mendengar dari banyaknya mulut yang bersuara.
Akibat hal ini muncullah sebuah elemen lain yang mempengaruhi dan mendukung masyarakat untuk menyampaikannya ujudnya secara langsung. Walau kadang, apa yang disampaikan itu juga dikategorikan sebagai “omong belakang”. Elemen bernama media. Media yang berkembang dari bentuk paling tradisional, berubah menjadi bentuk yang modern dengan tawaran yang lebih efektif dan efisien. Media sosial namanya. Media ini boleh disuarakan oleh siapa saja, hanya bermodalkan ponsel ataupun komputer dan sambungan data sebagai jalan masuknya. Salah satunya ialah facebook.
Patutlah, kita berterima kasih untuk Om Mark yang membuat facebook, sehingga aspirasi kita bisa disampaikan, walau bisa jadi tidak didengar (Jangan salah paham dulu, facebook kan untuk di baca, bukan didengar. Kecuali kita membuatnya dalam bentuk audio).
Inilah yang mungkin juga harus ditambahkan. Aspek Media. Media menjadi sebuah saluran yang cukup mendekatkan. Media menjadi corong bagi masyarakat (people) untuk menyampaikan pendapatnya. Dan media sosial (Social media) menjadi cara paling efektif, efisien dan merakyat, sehingga sampai akar rumput pun media sosial bisa dijangkau.
Adanya media sosial, membuat segala macam informasi tersampaikan. Namun, sebagai masyarakat, kita tentunya diajak untuk lebih memahami isi dan isu dari beragam informasi yang disampaikan tersebut. Tidak semua yang dibaca, terbaca. Dengan kata lain, tidak semua yang ditulis dipahami atau pun bermakna sama. Bisa jadi, dia memiliki ambiguitas.
Dalam kasus di atas, orang telah salah menerima informasi sehingga mereka juga salah untuk menyampaikan informasi yang sama kepada khalayak ramai. Ironis memang, namun apa mau dikata. Disaat sekarang ini, orang berlomba untuk mengungkapkan. Biar bisa dikatakan kreatif, padahal belum tentu dia terlihat keren. Bisa saja dia menjiplak dari orang lain. Lebih fatal lagi, jika hasil jiplakannya itu ternyata salah. Istilah sederhananya yakni, sudah nyontek, salah pula.
Akhir kata, seharusnya Om John memperhitungkan itu, biar tidak ada demo dan tidak ada perdebatan tiada akhir dan tidak ada yang dadanya panas dalam menghadapi sekelumit persoalan. Kita boleh bekerja namun, akan menjadi sia-sia apabila dalam proses pekerjaan kita menyinggung atau menyakiti hati sesama. Kita boleh mengawasi dan mengontrol, namun alangkah bijaknya apabila kita terlebih dahulu menasihatinya di bawah empat mata, sebelum menyampaikannya secara terbuka. Bila baju saudara kita robek, mungkin kita menegurnya di rumah. Sebelum ia melangkah lebih jauh ke tempat pesta.
Catatan:
Ini tulisan saya buat sekenanya tanpa alasan. Tak ada maksud untuk apapun dan siapapun. Ya, semacam fiktif belaka di FTV.
Salam Wora Rewo.

Tulisan Terbaru

Mitos atau Fakta: Anak Tikus Menyembuhkan Asma dan Sesak Napas?

Anak tikus. Gambar diambil dari: https://www.merdeka.com/ Di beberapa daerah, terutama dalam praktik pengobatan tradisional, ada kepercaya...