RANGGA DAN KETURUNANNYA

Sebelum ke Kupang untuk menuntun ilmu, saya mencoba duduk bercerita dengan Kakek saya “Nene More.” Beliau memberikan saya nasehat dan sebuah kisah (Bisa dikatakan Legenda). RANGGA dan KETURUNANNYA. Dikisahkan sebuah kebun bernama Mbotu Tuwe yang setiap malamnya selalu diserang oleh babi hutan sehingga menghancurkan semua tanaman perkebunan tersebut. Ada seorang utusan Raja yang bernama MBIRA NOI pergi untuk meminta bantuan Rangga membasmi babi hutan tersebut. Rangga datang dengan dua ekor anjingnya yang bernama dorea sewaku dan wake tau. Di kebun tersebut rangga mulai membuat tenda untuk melindunginya perhatian babi (Regho wawi). Anjingnya diikat dekat dengan tenda tempat persembunyiannya. Tengah malam ia mendengar suara berisik dari babi hutan yang memakan ubi kayu. Dengan gesit Rangga melepaskan ikatan tali pada leher anjing-anjing itu. Ia berburu babi tersebut sampai subuh. Seekor babi hutan ukuran besar harus menyerah dengan sebuah panah menembus dadanya. Keesokan paginya, ia menghadap Raja (RIA RAJA) untuk memberitahukan perihal babi hutan tersebut. Raja kemudian membagi hasil buruan tersebut “Delu, kau ta Une ki, Jao ta kuku ki” Raja bertitah. Anak panahnya diberikan pada Raja sebagai bentuk penghormatannya. Rangga kemudian berangkat menuju Kampung Kepi. Dia menitipkan daging babi tersebut pada DENA ZEWA. Dia kemudian melanjutkan perjalanannya ke Nanga Mere. Dalam perjalanannya ia harus beristirahat beberapa kali karena letih semalaman tidak tidur. Perjalanan panjang tersebut membawa dia untuk menyebrangi sebuah sungai. Ia kaget melihat seekor anak babi berenang dengan lincahnya. Dikejarnya anak babi tersebut. Dengan susah payah akhirnya bisa ditangkap juga. Anak babi tersebut dibungkus dalam kain sarungnya (Dawu). Ia terus berjalan menuju Kampung Mbotu Tuwe, ujung Kampung Ndora Mezi. Ia menitipkan anak babi tersebut pada seorang Nenek di pondok (soku). Menjelang petang ia turun ke Kampung Besar untuk bermain dengan teman-temannya sesama pemuda. Di tengah malam babi tersebut meratap (peze). “jao ine jani iwa si ngere wawi ata ka tai, zako ata sabho mba’o” (saya ‘Ine Jani’ bukan babi yang hina, anjing yang sia-sia). Ayam berkokok dengan ributnya. Bertalu-talu seolah berpantun. Rangga terbangun dari tidurnya. Ia menggerakan kedua tangannya. Meliukkan pinggangnya ke kiri dan kanan. Teman di sebelahnya belum terbangun. Ia duduk membayangi hidup yang tak menentu. Menjelang matahari terbit, ia kembali ke pondok bersama Nenek Tua. Nenek kemudian bertanya “Kau simpan sesuatu di pondok belakang. Ada yang meratap semalam.??” Rangga cuma menggeleng. Di malam kedua terjadi hal yang sama. Rangga malah memarahi Nenek tersebut. Katanya mungkin Nenek itu sudah pikun, sehingga ia mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Di hari yang ketiga, sepertia biasa Rangga turun ke Kampung Besar (Nua Mere) bersama teman-temannya pada senja. Ia tidak bermalam di rumah temannya, ia kembali ke pondok. Di tengah malam ia mendengar nyanyian (woi). Baru beberapa kalimat, ia menampakan dirinya ke sumber suara (zengga). Seorang gadis cantik duduk manis di depannya. Ia terpesona dengan kecantikannya. Gadis itu dijadikan sabagai istrinya. Akan tetapi gadis tersebut tidak pernah bicara. Bisu (Ngongo). Berbagai cara dilakukan untuk bisa membuat istrinya dapat berbicara lagi. Dukun dan orang pintar di daerah itu dan sekitarnya telah didatangi, tapi hasilnya sama saja. Tetap bisu. Rangga tidak kehabisan akal. Pada sore yang sepi, ia memanggil dua orang pemuda untuk mengikat seekor kerbau di hutan dekat kampung (Nggoze Nua). Keesokan paginya ia dan beberapa orang pemuda berpamitan dari kampung untuk berburu Kerbau liar di hutan. Menjelang subuh, seorang utusan datang membawa berita, kalau Rangga diserang oleh Kerbau Liar dengan luka parah disekujur Tubuhnya. Orang sekampung geger. Hiruk pikuk orang tua muda, besar kecil, laki perempuan memenuhi rumah Rangga. Di kejauhan terlihat empat orang pemuda mengusung tubuh Rangga yang tak berdaya. Semua orang melihat dengan kesedihan mendalam. Tangis dan air mata menyeruak dari berbagai bentuk muka. Istri Rangga yang tadinya tenan juga ikutan menangis. Ia menangis dengan kata-kata sedih menyayat hati (Rita Nangi). Semua orang di sekitarnya menjadi terkejut mendengar istrinya Rangga bisa berkata-kata. Para pemuda yang mengusung Rangga tiba di rumah. Sekujur tubuh Rangga berlumuran darah. Rangga melompat dari tandu tersebut dan memeluk istrinya. Orang disekitar bertambah heran. Ternyata sebenarnya Rangga tidak pergi berburu kerbau liar dan tak pernah diserang kerbau. Kejadian tadi cuma akal-akalan Rangga untuk membuat Istrinya bisa berbicara. Darah disekujur tubuhnya hanyalah darah kerbau yang mereka sembelih. Mereka kemudian hidup sejahtera, dengan dikarunia tujuh anak. 1. Anak pertama : Zozo (karena kesulitan pengucapan, orang menyebutnya Rhorho) 2. Kedua, Kebi 3. Ketiga, Ruku 4. Keempat, Roru 5. Kelima, Ria 6. Keenam, Rewa 7. Dan ketujuh, Jegha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, setelah membacanya.
Terima kasih