PEZA

Seks merupakan salah satu kenikmatan hidup yang paling kontroversial. Seks mempunyai makna yang luas berdimensi biologis, psikologis, dan sosiokultural. Seks selalu menarik untuk diwacanakan dan dipraktekkan, tapi selalu menimbulkan kontradiksi di masyarakat. Sementara itu kasus-kasus akibat seks bebas terus muncul.
Di kampungku, membicarakan mengenai seks adalah sesuatu yang tabu. Anak kecil yang sedikit saja mencoba untuk membicarakannya pasti akan berakibat buruk, bukan karena hal magic yang ada tetapi akan dimarahi ataupun lebih exteme lagi dipukul entah menggunakan tangan kosong atau alat bantu seperti kayu gamal. Jangankan berbicara tentang seks, maki pun harus menanggung resiko seperti yang telah disebutkan tadi. Padahal bila dilihat secara ilmu biologi, maki bisa sama dengan menyebutkan nama organ tubuh, misalkan kita menyebut tangan berarti sama saja kita menyebut alat kelamin yang notabene merupan bagian dari organ tubuh. Permasalahannya sekarang justru orang dewasa ataupun orang tua kita sendiri yang melakukan perbuatan maki sedangkan perbuatan maki tersebut sangat haram bagi anak mereka. Sungguh di sini sudah terbentuk suatu pola pikir bahwa anak-anak tidak boleh sedangkan orang tua bisa.
Fenomena yang sering timbul adalah peza. Peza adalah sebuah aturan adat yang mengharuskan seseorang yang melanggarnya membayar atau ganti rugi terhadap perbuatan yang telah dilakukannya. Perbuatan yang dimaksudkan di sini ialah perbuatan selingkuh ataupun affair dengan orang lain yang bukan merupakan pasangan resminya (secara Agama maupun adat). Biasanya peristiwa ini diketahui apabila ada orang lain yang melihat kejadian perselingkuhan ataupun telah terbukti secara rasional (hamil). Lagi-lagi persoalan yang muncul adalah kenapa hanya lelaki yang membayar denda (peza) sedangkan perempuan tidak, padahal bila dilihat masak-masak justru keduanya yang telah bersalah (ada aksi karena ada reaksi ataupun sebaliknya).
Suatu hari ketika sedang bincang-bincang ringan dengan beberapa orang tua di kampung saya sedikit menyenggol masalah ini. Seorang bapak mulai bercerita na biasa terjadi karena mbana ae. Biasa kalo kita ghena ndeka ae, kita ou. Kalo ndezu ata fai biasa ki ata ou nde mulai nai pu’u kaju. Kalo tei sa’Imu mesa kai mbana zengga zimba. Ngena rizi naku kai wiki kote kae ato zawo ko’o ata fai na. ata fai ndie taku bhaze oa, terpaksa ka. “ mai si bhe..” maka terjadilah suatu hal yang bisa pembaca semaua bayangkan sendiri. Hal ini memang bukanlah motif tunggal dari kejadian yang cukup dikucilkan di masyarakat. Motif lainnya bisa jadi karena JAMAL (JAnda MALaysia). Karena merasa kesepian ditinggal suami ke malaysia, maka terjadilah sesuatu. Dan masih banyak motif lain yang saya tidak tahu, atau tidak hendak saya tulis….
Dan masalah-masalah tadi telah membingungkan saya. Dari cerita pinggiran di kost bersama teman-teman dari berbagai pelosok flobamora telah mengusik saya. Seorang teman telah manganggap adat yang biasa dilakuakn di daerah saya yang sedang saya ceritan kepadanya terlalu berlebihan “ memangnya kamu di sana piara gajah?” tanya seorang teman dari Belu yang metan midar (hitam manis). “bukan juga. Kami cuma mau menunjukan harga diri kami. Kalau seandainya tidak ada belis begitu berarti banyak saudari atau anak perempuan dari klan kami yang dipermainkan oleh orang lain.”
Kadangkala kita mau menegakan aturan untuk orang lain supaya berjalan sesuai denagn norma yang telah ada, tapi kenyataannya justru berbanding terbalik. Justru kita jatuh pada kesalahan yang dengan lantang kita pejuangkan supaya tidak ada yang melanggarnya. Sedikit makna yang bisa diri saya sendiri petik di sini bahwa kita harus tetap pada pendirian kita untuk tidak melanggar setiap aturan yang kita buat. Jangan menjilat ludah sendiri. Sebuah kalimat yang terakhir kali saya dengar dari Mama Kozt saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, setelah membacanya.
Terima kasih