UCHY YANG PUITIS

Burung-burung liar mulai berkicau seributnya. Mengabari fenomena alam yang perlahan membuncah dengan sinar burat mentari. Peluh belum habis bercucur dari tubuh yang bertelanjang dada. Suara tetangga menyiratkan kami seakan tinggal di hutan penuh dengan hiruk-pikuk binatang. Bisa dikatakan pasar dengan tiga bilik jualan. Maklum, kos temanku ini hanya memiliki tiga kamar dengan dua kamarnya dihuni oleh makhluk paling ribut sedunia.

Film yang ditonton telah sampai pada titik peleraian. Cuma manusia yang terlalu berlebihan terhadap seekor anjing. Prasangkaku pada teman selesai sudah. Dengan berapi ia menceritakan hal yang paling dibanggakannya. Ia hebat menggaet hati wanita (padahal menurutku itu sisi gelap yang tak pernah ia sadari) dengan sms saja.
“kau harus belajar banyak di saya kawan” sombongnya. Aku Cuma tersenyum, biarkan ia tersenyum dengan kemenangan tanpa perlawanan. Senja yang terkikis, perlahan hilang oleh legamnya selimut malam. Temanku terus menarikan jarinya di antara tuts-tuts handphone. Aku melirik ketika suara cekikan bersumber dari hpku. Ada pesan masuk.
…Malam berkata : “izinkan aku meminjam mataharimu”… uchy cewek manis teman kuliahku mengirimkan pesan sarat makna dengan puitis. Aku kaget karena selama ini tak menyadari dan menyangka bahwa dia bisa sepuitis ini. Yang aku sadari bahwa cuma aku seorang dan temanku Riven yang sering membuat puisi.

“dan aku berkata :” jangan lupa kembalikan esok pagi, agar aku bisa melihat senyum di wajah manis orang yang baca sms ini… mat kobe uchy…” Aku tak mau kalah dengan puisi sebaitnya.

Hahahaaa…mat kobe juga… Ia membalas dengan cepat ketika aku hendak menggoreng tempe. “ saya juga dapat, kau kira cuma kau sajakah yang dapat???” Riven tak mau kalah, sambil meminta sumbangan kata-kata dariku untuk membalas. “Buat jangan sama, supaya dia tahu kalau lu sonde ada di be pung kost” lanjutnya.
…dan malampun mengembalikan mataharimu…

Kembali di pagi dengan sms. Aku kaget, rupanya ia memiliki bakat terpendam. Aku kembali dengan puisi lebay, tapi tak ada balasan lagi darinya. Mungkin kesibukan telah menyita perhatiannya untuk sekedar membalas smsku.

Di ketenangan pagi berikutnya kembali tercipta puisi indah, pengganti ucapan selamat pagi. Kreatif sekali, daripada Riven yang sekedar copy-paste kata-kata indah atau cerita lucu dari seseorang lalu di forward untuk semua orang. Untuk mengelabui kami dia bahkan sengaja mengganti nama dalam cerita lucunya. Sialnya biasanya aku yang selalu dihadiahi naas karena selalu namaku yang menjadi pengganti dari kegiatan plagiatnya. “ Jangan begitu ngero, malu dengan ade-ade, apalagi cerita konyolmu kau kirim untuk semua nomor yang ada di lu pung hp” kataku suatu senja ketika pulang makan nasi goreng yang ditraktir Jun.
…dan pagipun menawarkan kehidupan padamu…

Sebuah pesan singkat kembali tampil di layar handphone. Aku tersenyum, memikirkan puisi apa yang hendak kubalas. Sedikit bermain dengan hayalanku. Jempolku mulai bergoyang di atas tombol hitam nokia 1200 ku.
“aku tak mau dengan kehidupan yang ditawarkannya, karena waktu tak pernah mengerti kehidupan apa yang aku inginkan..” senyum puas setelah me-reply pesan singkatnya.
…manusia yang mengatur kehidupannya, manusia bukan waktu, bukan pula lainnya. Apabila waktu tak memahamimu, itu karena kau pun tak pernah belajar memaknai dan menghargainya…

Balasan yang telak. Seakan palu godam menghantam telak di belakang kepala. Aku tak tahu harus berkata apalagi. “ dia pung kata-kata ni talalu babatu. Ana son tau mau balas apa lai ni ma..” gumamku dalam hati.
sore berikutnya disertai rintik-rintik senja pesan masuk lagi.
…dan hujan pun tak mau kalah, ikut menjemput senja…

Aku mencoba dengan puisi tak berimaku “mungkin mentari bosan dengan sinar kuning keemasanya di ufuk barat, mungkin juga ia mau menghadiahkan pelangi senja, atau ia tak mau yang biasa, seperti biasanya. Ah.. entahlah…”
Itulah rahasia keindahan alam. Balasan yang tidak aku bayangkan, tapi tak apa, ia telah mendukung argumentasi puitisku.
…dan jadilah seperti pagi yang selalu menjadi awal dan selalu setia menampungmu dari buangan sang malam…

Puisi dan syair kembali terwujud di pagi syadu. Aku yang malang telah mati kreativitasku. Kucoba berbait dengan menemukan kata-kata dari kertas bungkusan lombok yang baru aku beli di Paris (pasar inpres. Red wkwkwkwwkk..)” tidak mungkin kita dibuang, karena pagi dan malam bagaikan matahari menjemput pagi dan bulan menjemput malam.”

Jika malam tak mau membuang manusia, maka malam adalah yang penuh ego. Namun malam selalu mencintai makhluknya, karena cintanya itulah maka ia senantiasa melepaskan manusia untuk merasakan pagi…
Balasannya. Dan pada senja, malam dan pagi selanjutnya. Aku terhenyak, tak mau membalas lagi. Dalam benakku masih disita oleh berbagai pikiran. Takut kehabisan pulsa juga.

Rona senja dengan rinai hujan kembali lagi. Sore yang basah membuat aku malas beranjak dari tempat tidur. Pada senja ini ku telah berjanji. Aku kaget, lalu cepat berhambur ke kamar mandi. Ritual mandi hanya kulakukan dua menit. Kembali dengan ponsel berdering.
…dan senja hadirkan tetes-tetes hujan tuk puaskan dahaga bumi dari teriknya surya…
Aku lalu meletakan kembali hp di atas kasur. Puisi indah dari memori otakku seakan hilang tak berbekas. Kumendongkak langit-langit kamar dengan tempelan-tempelan koran bekas. Tak kutemukan wajah puisi. Kunyalakan laptop, mungkin ada di wallpapernya, sia-sia juga.

Aktivitasku pada malam membuat raga letih. Tidur dalam pelukan malam dengan mimpi akan proposal penelitian yang belum kunjung diusulkan. Mimpi pahit akan masa depan mahasiswa yang jauh dari orang tua. Mimpi ini pula yang akhirnya membangunkanku bersama deringan handphone dengan cekikannya.
…dan seiring fajar menerangi bumi, yakinlah kau selalu di hatiku…
Kumelirik jam. Terlambat. Aku bergegas, pagi ini ada mata kuliah yang harus aku program bersama adik semester. Kumasukan tugas dan buku yang telah aku persiapkan tadi malam. Tergopoh pada jalanan menurun sedikit berlubang.

Hari berganti bersama hujan, angin dan cerah mentari. Aku terenyut pada setiap detik kehidupan yang telah didesain oleh Dua Nggae. Kokokan ayam pada pagi seakan menjadi weker otomatis, yang selalu berbunyi. Aku terjaga tanpa mimpi. Predikatku sebagai mahasiswa membuat aku harus bangun pagi. Pagi dengan misterinya membawaku kembali dengan pesan singkat.
…dan cintaku menyapamu saat pagi menunjukan dirinya…
Aku sedikit berbangga dengan diriku setelah membaca sms. Aku merasa bahwa aku tidak sendirian dan penuh cinta. Ternyata cinta telah menyadarkan aku akan arti sebuah kehidupan dan arti dari sepenggal sms. Selama ini aku kadang berpikir rugi dengan sekedar mengucapkan selamat pagi pada teman. Hari-hariku kembali dengan sms di pagi. Bahkan senja ta tak mau kalah turut menyumbangkan bingkisan kecil sms. Malam seakan malu dan menghadiahkanku sms juga. Kulalui hari dengan sms-sms yang selalu berawal dengan kata dan…….
…dan kumulai lagi merasakan dirimu saat udara pagi membisikan keindahan…
…dan malampun mulai merengutmu dari dunia nyata…
…dan kutitipkan rinduku lewat hembusan angin malam…
…dan kuyakin Allah masih mencintaimu saat ini, esok dan selamanya…
…dan akupun tersadar dari pelukan sang mimpi, saat kutahu ada kau yang menemaniku di dunia nyata,…


Rumah kamar, 14-03-‘11
11:11<--->15:49

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar