Perempuan dalam Kotak Sepatu


Sebuah Sandiwara

Adaptasi Bebas dari Cerpen Jingga Clarita
Oleh: Djho Izmail

Adegan 1
Ruangan besar, pada sebuah restaurant.
Penuh dengan orang-orang yang datang menghadiri pesta pernikahan. Seorang gadis muda berumur duapuluh lima tahun, duduk sendiri. Menyisakan semua kursi kosong sekeliling meja bundar. Padahal sekelilingnya tampak orang berdua-dua, bertiga bahkanlebih. Tidak lama berselang, seorang lelaki masuk. Berwibawa. Bingung mencari tempat duduk. Dengan angkuh ia memilih duduk bersama di depan gadis tadi, mengamati, menatap dengan tatapan memburu, lalu kemudian dengan insting pejantan yang alamiahnya tersenyum sedikit genit. Gadis itu terenyuh bersama waktu yang seolah berhenti mengundang seketika asmara untuk singgah. Setelahnya gadis tadi membalasnya, lelaki itu menyodorkan tangan.
Iwan    : Iwan (tangan disodorkan dalam keadaan duduk dan terus tersenyum sambil menganggukan kepalanya sedikit ke depan dengan sangat sopan )
Jingga  : Jingga (tersenyum dengan sedikit tersipu)
Iwan    : sendiri??
Jingga  : Hmmmm… iya (sambil menganggukan kepala beberapa kali)
Iwan    : Aneh!!
Jingga  : apanya yang aneh?? (sedikit mengerutkan kening)
Iwan    : biasanya cewek secantik Jingga pamali sendiri
Jingga  : memangnya ada di teori??
Iwan    : tidak juga, cuma tidak biasa saja
Jingga  : terus kamu??
Iwan    : (menggaruk-garuk kepala sambil pecah tawanya)
Jingga  : (tertawa kecil, tapi masih malu-malu)
Mereka kemudian terus bercerita.

Adegan 2
Suasana agak remang di sebuah ruang tamu.
Seorang gadis duduk di kursi tampak samping
Jingga  : (monolog)
Semalam aku bermimpi yang selalu sama dan berulang-ulang ketika aku lelah. Seorang wanita renta persis seperti suanggi dalam cerita penghantar tidur yang dikisahkan ibu, dengan mata berwarna merah menyala berdiri di hadapanku. Bibirnya yang berlumuran darah, mungkin habis makan daging manusia, mulai tersenyum sinis. Tangannya mencekikku yang terdesak di dalam sebuah kamar sempit tanpa pintu dan jendela. Pengap dan panas. Aku akan melawan sejadi-jadinya, balik menendang dan mencekik. 
            (berbalik ke arah penonton)
Anehnya, sekarang mimpi itu tak pernah ada lagi.
(menunjuk ke arah penonton)
Kalian tahu kenapa??
(hening sejenak)
ah, sejak aku berkenalan dengan lelaki itu. Belakangan ini mimpi buruk itu lenyap tak berbekas.
Semenit kemudian, pintu tiba-tiba diketuk. Tanpa diperintah seorang lelaki masuk. Lalu duduk di samping gadis itu.
Jingga  : Ada apa mencariku malam-malam begini. Apa rindu terlalu kuat mengalahkan egomu?
Iwan    : (merancau kurang jelas karena mabuk)
            Ah, ini bukan sekedar rindu. Ayolah kita menikah besok. Sebelum matahari menunggangi pucuk akasia itu, sebelum angin menggasing deras dipelatan sukmaku, sebelum bapak dan mama lelah menunggu untuk menimang cucu, sebelum mereka memaksaku. Sebelum………
Lelaki itu terus bicara makin lama, makin tidak jelas. Kemudian tertidur di sofa.

Adegan 3
Sebuah kantor dengan bentuk ruangan kotak yang mungkin berukuran delapan kali delapan meter, cukup luas untuk ditempati bersama dua rekan kerja, seorang wanita paruh baya dengan uban yang mengintip dikepala bagian depan, duduk di meja persis di depan pintu masuk, dan seorang laki-laki dengan meja membelakangi jendela, menghadap pintu masuk. Sisa ruangan yang nyaris kosong dilengkapi oleh beberapa lemari berisi arsip kuno. Meja lainnya terletak persis di sebelah wanita paruh baya tadi. Strategis, di dekat pintu masuk, sehingga seorang gadis yang duduk di situ hanya menoleh ke samping kiri untuk mengamati rekan-rekan kerja lain yang sibuk lalu lalang sambil sesekali berhenti untuk menyapa.
Wanita paruh baya      : suamiku semalaman bersin dan batuk-batuk. Habis, sudah seminggu ini dia tidak pernah tidur malam. Tahu sendiri lelaki.
Jingga                          : (berusaha meladeni)
suami ibu kemana??
Wanita paruh baya      : nonton bola. tahu kan sekarang piala dunia atau apa??
Jingga                          : euro bu…
Wanita paruh baya      : oh, iya. Euro.. hhmmm.. padahal saya sudah sembunyikan remote, tapi masih saja.
Jingga                          : namanya juga hobi bu. Tak bisa dicegah kalau sudah ada maunya.
Seorang gadis berusia kurang lebih dua atau tiga tahun lebih tua dari gadis yang duduk di kantor masuk menghadap seorang laki-laki yang duduk membelakangi jendela. Ia tersenyum ke arah gadis itu. Tak lama berselang ia keluar lagi setelah sedikit berbisik dengan lelaki itu.
Wanita paruh baya      : (mengganti topik pembicaraan. Berkata dengan berbisik-bisik.)
Lihat, kenapa dia selalu mengikuti gayamu?? caranya berpakaian dan menata rambut selalu mirip.
(diam beberapa saat)
Kalau sekarang rambutmu dimerahkan pasti besok atau lusa ia akan mengikutinya.
Gadis itu diam. Rautnya menggambarkan seperti orang yang sedang pusing. Lelaki di belakang mereka batuk-batuk. Membuat gadis tadi tambah mengerutkan kening sambil menarik nafas panjang. Gadis itu memilih menghilang dari ruangan. LAMPU PADAM.

Adegan 4
Ruang tamu.
Seorang gadis masuk
Suara dari dapur      : Dia sudah pulang dari tadi. Katanya ada yang datang di rumahnya.
(Hening beberapa saat)
                                    Hari ini makan di rumah?”
Gadis itu hanya mengangguk menjawab suara dari dapur. Ia terduduk untuk beberapa saat di kursi ruang tamu. Nampak lelaki yang semalam, datang dan masuk lagi. keadaannya lebih segar dari semalam.
Iwan    : Aku tidak masuk kantor hari ini. Pusing.
Besok bapa dan mama datang dari kampung. Aku harap kamu mau untuk ketemu dan sedikit berbincang dengan mereka. Mereka ingin bertemu, mungkin sudah ingin mengenal calon anak mantunya yang cantik ini. (senyum di akhir pembicaraan)
Jingga  : Calon anak mantu?
Iwan    : Aku ingin kamu mengenal bapa dan mama. Mungkin dengan begitu niat mereka untuk segera menikahkan anaknya ini bisa terwujud (tertawa kecil)
Jingga  : Kapan?
Iwan    : Bulan depan.
Kalau sudah menikah nanti, kamu bisa berhenti bekerja. Menjadi ibu rumah tangga, memasak makanan dan melahirkan anak-anak buatku (tertawa semakin lebar)
Jingga  : Pikiranmu seperti laki-laki abad 18!
Iwan    : lebih klasik to???
Jingga  : konservatif.
Iwan    : Memang itu cita-citaku. Memupuk kekolotan untuk hal ini.

Adegan 5
Sebuah ruang tamu di rumah Jingga
Lelaki yang bernama Iwan itu masuk. Memberikan sebuah bungkusan kotak berwarna merah marun.
Jingga  : Apa ini?
Iwan    : Buka saja! (tersenyum)
Jingga  : Terima kasih…terima kasih. Ini sepatu yang aku idamkan selama ini. Beli di mana?
Iwan    : Hmmm… dimana ya?? (berusaha membuat penasaran Jingga)
Jingga  : di toko langganan aku kan??
Iwan    : Iya (mengangguk dengan senyum)
Hening setelahnya untuk beberapa menit. Sementara Jingga sudah kembali dengan segelas teh. Iwan memecah kesunyian.
Iwan    : (merancau kurang jelas karena gugup)
            Ayolah kita menikah. Sebelum matahari menunggangi pucuk akasia itu, sebelum angin menggasing deras dipelatan sukmaku, sebelum bapak dan mama lelah menunggu untuk menimang cucu, sebelum mereka memaksaku. Sebelum………
Jingga  : Aku belum siap
Iwan    : Ayolah.
Jingga  : Aku benar-benar belum siap.
Iwan     : AyolahAku telah memikirkan semuanya ini sampai-sampai tidak masuk kantor hari ini. Pusing.
 Besok bapa dan mama datang dari kampung. Aku harap kamu mau untuk ketemu dan sedikit berbincang dengan mereka. Mereka ingin bertemu, mungkin sudah ingin mengenal calon anak mantunya yang cantik ini. (senyum di akhir pembicaraan)
Jingga  : Calon anak mantu?
Iwan    : Aku ingin kamu mengenal bapa dan mama. Mungkin dengan begitu niat mereka untuk segera menikahkan anaknya ini bisa terwujud (tertawa kecil)
Jingga  : Kapan?
Iwan    : Bulan depan.
Kalau sudah menikah nanti, kamu bisa berhenti bekerja. Menjadi ibu rumah tangga, memasak makanan dan melahirkan anak-anak buatku (tertawa semakin lebar)
Jingga  : Pikiranmu seperti laki-laki abad 18!
Iwan    : lebih klasik to???
Jingga  : konservatif.
Iwan    : Memang itu cita-citaku. Memupuk kekolotan untuk hal ini.

Adegan 6
Sebuah Kafe
Jingga  : (monolog)
Sudah sebulan ini lelakiku menghilang. Menyembunyikan dirinya dari pandanganku. Pergi seolah ditelan bumi atau dia sedang mengejar semburat matahari yang berkasnya lupa dibawa pulang ketika malam datang. Ah, lelakiku buat aku lelah menanti menghilang seperti hantu di siang bolong. Seolah telah menemukan tabir kehidupan lain yang menggiurkan ingin. Melupakan aku dengan luapan cinta yang bersemi ini. 
            (berbalik ke arah penonton)
Anehnya, sekarang lelaki pandai memainkan perasaan wanita.
(menunjuk ke arah penonton)
Kalian tahu kenapa??
(hening sejenak)
Ah, sejak lelaki itu meninggalkan aku. Belakangan ini mimpi buruk itu datang lagi. Mimpi tentang kotak kecil yang bisa menampung setiap perempuan. Ya, kotak setinggi duapuluh centi itu.
Jingga yang sedang berada di sebuah meja nampak kaget. Di ujung ruangan itu terlihat olehnya Iwan bersama seorang gadis. Gadis yang biasa mengikuti cara berbusananya ke kantor. Lebih kaget lagi ketika tanpa sengaja ia melihat sepatu yang dipakai perempuan itu persis seperti sepatu pemberian Iwan yang hilang bersama menghilangnya Iwan dari kehidupannya. Tanpa ia sadari perempuan itu menuju ke arahnya bersama lelakinya. Belum hilang rasa kaget bercampur sedih, tiba-tiba perempuan itu menyodorkan sebuah undangan berwarna merah marun, senada dengan warna kuteksnya
Perempuan      : Datang ya, adik!!! Ini undangan pernikahanku dengan Iwan
                        (sambil bergelayut manja di lengan lelaki di sebelahnya)
Jingga              : Iya…
                        (kontras dengan perasaan hatinya)
Mereka lalu meninggalkan jingga dan juga kafe itu. Sepeninggal mereka Jingga berperang dengan pikirannya sendiri. Berbagai perasaan tiba-tiba berebut untuk memuncak segera. Marah, sedih, kecewa, sakit hati dan merasa kalah.
Jingga              : Kasihan perempuan…..
(gelas yang ada di tangannya tiba-tiba terjatuh. Pecah berantakan di atas lantai keramik. Matanya berkunang-kunang)
Lampu mati. Terdengar bunyi seperti sesuatu yang jatuh. Bunyi bergema. Layar ditutup.
(naikolan 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, setelah membacanya.
Terima kasih