Final Eltari Memorial Cup dan Citra Pelayanan Publik

:Sebuah autokritik

Ratusan kendaraan susul menyusul di jalur Ende menuju Maumere. Penutupan sementara jalan yang biasa dilakukan karena perbaikan jalan, tidak berlaku kemarin (Jumat, 13 November 2015). Rupanya, masyarakat Ende dengan begitu antusias ingin menyaksikan Tim kesayangannya, Laskar Kelimutu, berlaga di final Eltari Memorial Cup di Maumere melawan Tuan Rumah, Persami.

Pertandingan ini menunjukan betapa masyarakat Ende sangat mendukung kiprah sepak bola Ana Tana (orang Ende). Mereka siap selalu untuk menyemangati dari pinggir lapangan, walaupun udara terik menyengat. Semua dilakukan demi Ende. Laskar Kelimutu harus bertanding dengan baik. Paling tidak menunjukan sportivitas yang menjunjung persaudaraan. Orang ende paham betul dengan filosofi, boka ngere ki bere ngere ae. Harus rame-rame datang nonton.

Sungguh sebuah ketimpangan ialah bahwa pelayanan publik terkesan ditelantarkan. Jam kerja yang berlaku sampai jam tiga sore seolah tidak berlaku hari itu. Mau bagaimana lagi? Pertandingan dimulai jam dua. Apalagi jarak dari Ende ke Maumere yang ratusan kilometer itu. Maka, harus ambil risiko.

Semuanya itu tidak salah. Yang menjadi kegelisahan saya yakni, apakah selama ini dalam menjalankan tugas sebagai pelayan publik semua orang yang bekerja dalam bidang pelayanan publik sudah menjalankan tugasnya dengan baik? Untuk pertandingan bola yang kegiatannya tidak bersinggungan langsung dengan kerja pelayanan publik, masyarakat kita sudah sangat disiplin untuk tidak terlambat. Bagaimana hubungannya dengan waktu masuk kantor pemerintah? Tidak terlambatkah?

Untuk kebahagian kecil, kita rela menghabiskan banyak waktu bahkan menyita waktu kerja demi padahal kita bisa menonton pertandingan hanya karena kita dinafkahi oleh Negara. Seandainya kita tidak diberi tugas menjadi pelayan publik, belum tentu kita bisa menontonnya. Semoga ke depannya kita lebih antusias menjalankan jadwal kegiatan yang telah diatur untuk masyarakat daripada jadwal pertandingan bola kaki yang hanya berimbas pada kepuasan pribadi.

NB: semoga saja tidak ada SPPD untuk menonton pertandingan kemarin. Atau paling tidak tidak ada kucuran dana tertentu yang dianggarkan. Kan ti ada pos dana untuk menonton bola to?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, setelah membacanya.
Terima kasih