Tampilkan postingan dengan label kupang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kupang. Tampilkan semua postingan

Festival Sastra Santarang.

Mau menulis karya sastra, tapi bingung mau mulai dari mana?
punya komunitas, tapi tidak tahu bagaimana mengembangkannya?
Mari gabung dengan katong di Festival Sastra Santarang yang akan dilangsungkan tanggal 2 - 4 Juni 2015.
Akan ada lokakarya penulisan kreatif, lokakarya penguatan kapasitas komunitas, bincang buku, pementasan karya sastra, etc.
Semua akan dibedah tuntas oleh pembicara nasional : Ayu Utami (Novelis), Hasif Amini (redaktur puisi Kompas) dan AS Laksana (cerpenis & esais).
Juga menampilkan orang muda NTT : Marsel Robot, M Luthfi Baihaqi (Kantor Bahasa NTT), Cyprian Bitin Berek, Amanche Frank, Mezra E. Pellondou, Mario F Lawi, Ishack Sonlay, Sipri Senda, Patris Allegro, Armin Bell, Abdi Keraf, Forum Soe Peduli, Komunitas LG Corner Ruteng, Komunitas Lopo Biinmafo Kefamenanu, Unu Ruben Paineon, Abdul Mahyuddin Djou, Lanny Koroh, Pion Ratulolly, dokter Sahadewa, Arky Manek, Saddam Hp, Christian Senda, Komunitas Sastra St. Mikhael, VELTA, Diaz n de'gank, dll
Festival ini terbuka untuk umum dan gratis.
Silahkan mendaftar lewat email : festivalsantarang@gmail.com atau HP: 085237471720.
Format pendaftaran:
Nama - Nomor Kontak/ Alamat Surel - Alamat Instansi/Lembaga

Cerita Tentang Calon TKW yang Melarikan Diri



Senin senja (08 september 2014), saya bergegas mandi. Hari itu, saya akan pergi ke sebuah kampung. Saya ditugaskan dari gereja untuk menjadi fasilitator dalam pertemuan Katekese di Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN), yang biasanya dirayakan oleh umat katolik setiap tahun pada bulan September. Saya berangkat dengan seorang kakak, karena kebetulan dia satu arah dengan saya, juga memberikan katekese di kampung tetangga dengan kampung yang akan saya datangi. Dalam aturan gereja katolik, dikenal juga wilayah terkecil dari sebuah paroki adalah Komunitas Umat Basis (KUB).
Saya tiba lebih dahulu, karena kakak yang bersama saya tadi harus berjalan sekitar lima ratus meter lagi ke arah selatan. Sekitar pukul 18.42, saya sudah tiba di rumah Ketua KUB. Kami bersepakati untuk mulai katekese pukul 19.00, karena sudah dua kali tertunda karena beberapa kesibukan umat di KUB tersebut. Di sana saya disambut dengan segelas teh hangat. Di sela minum teh dan menunggu kedatangan umat lain ke rumah tersebut, Sang Ketua KUB bercerita tentang dua orang tamunya. Kedua gadis yang menjadi tamunya itu juga keponakannya yang tinggal dan menetap di Pulau Timor, NTT.
Dari cerita tentang sikap mereka sampai juga cerita yang membuat saya menyimak dengan saksama, karena berhubungan dengan pemberitaan media massa selama ini tentang human trafficking. Saya yang kebetulan cukup rajin mengikuti pemberitaan tentang Pak Rudy Soik di televisi dan juga di dunia maya khususnya twitter, dengan beberapa kicaun dari beberapa teman dengan sangat antusias. Saya bercerita sedikit tentang permasalahan seorang polisi yang melaporkan oknum polisi lainnya tentang kasus penjualan orang di NTT tersebut.
Cerita kami terhenti ketika umat mulai berdatangan. Kami melanjutkan kegiatan utama malam itu, yakni katekese. Sampai selesai sekitar pukul 20.54. setelah katekese, banyak umat yang memilih untuk kembali ke rumah mereka. Tinggal beberapa orang beserta ketua KUB dan keluarganya. Kami bercerita berbagai topik sambil makan malam, termasuk topik tentang TKW. Saya melanjutkan cerita sambil menunggu kakak yang datang bersama saya tadi. Hingga pukul sebelas malam lewat.
Dari cerita tersebut, saya kemudian ke rumah tetangga yang kebetulan berasal dari kampung saya, hanya saja dia menikah dengan orang di kampung yang saya datangi itu. (dalam status kekerabatanpun, terhitung saya masih memanggilnya Bibi.) saya sengaja datang ke rumahnya sebab kedua gadis yang diceritakan itu ada di rumah. Ketika saya masuk mereka sedang menonton TV. Saya sengaja bercerita dengan Bibi pemilik rumah. Selang beberapa saat saya langsung sengaja bertanya kedua gadis itu. Mereka lalu memperkenalkan diri.
Dari cerita mereka, saya kemudian mendapat cerita langsung yang benar tentang pengalaman mereka. Mereka ternyata dua gadis yang baru saja lulus SMA di kampung mereka. Ceritanya, mereka di ajak oleh seorang Ibu untuk mendapatkan pekerjaan sebagai Penatalaksana Rumah Tangga (PRT) di kalimantan. Istilahnya TKW Lokal. Mereka berangkat sebelum pengumuman kelulusan mereka. Ketika ditanya alasan kenapa mereka mau. Katanya mereka ingin mencari pengalaman, lagi pula masih di wilayah Indonesia. Dari perkenalan dengan Ibu tadi, mereka kemudian berkenalan dengan suami Si Ibu itu.
Mereka kemudian diberangkatkan menggunakan pesawat ke Jakarta. Tepatnya Jakarta Barat. Di sana ada seorang Bapak yang menampung mereka di perumahannya, dengan janji mereka akan diberangkatkan ke setelah dua minggu. Di sana ada beberapa TKW yang siap diberangkatkan ke Luar Negeri. Namun, setelah waktu yang dijanjikan mereka tak juga diberangkatkan. Salah seorang dari mereka kemudian bisa melarikan diri menggunakan ojek ke Monas. Di sana dia melaporkan kejadian itu ke security dan dilanjutkan ke polisi. Mereka kemudian bisa dibebaskan dan diterbangkan kembali ke Kupang.

Media Massa yang Tidak Menjadi Cerminan Massa


Foto oleh Kak Gusti
Saya bukan aktivis yang dengan tegar dan gencar membela hak anak. Saya hanya merasa anak-anak hendaknya diberlakukan wajar sesuai dengan umur dan tingkat pemahaman mereka. Inilah percikan awal untuk menanggapi ketidaksukaan saya terhadap oknum atau pun lembaga tertentu yang dengan sadar atau tidak ssadar telah mempekerjakan anak kecil untuk kepentingan mereka. Tulisan ini sebagai bentuk ketiodakpuasan terhadap sebuah media masa terbitan Kupang, NTT.
Sebuah harian yang cukup dikenal dan terkenal di NTT, telah melakukan hal yang tidak mendidik itu.  Beberapa minggu yang lalu, ketika saya berada di Kota Kupang, ketika kami menjadwalkan pertemuan dengan beberapa teman-teman, seorang teman terpaksa memperlambat pertemuan hanya karena dia tak tega melihat tiga anak kecil yang berumur lima tahun dan tujuh tahun menjual koran sampai menjelang jam sebelas malam. Sebuah hal yang saya rasa sangat tidak mendidik bagi generasi penerus bangsa. Selain dari segi usia yang bukan merupakan usia yang pas untuk bekerja, juga tidak sesuai dengan waktu. Tengah malam seharusnya mereka di rumah. Belajar, makan malam dan istirahat.
Hal yang sungguh amat disayangkan di sini ialah mereka justru diperalat oleh media massa yang sejatinya menjadi sebuah media yang bertujuan untuk melakukan kontrol sosial terhadap siatuasi masyarakat, bukan cuma mengejar iklan dan oplah besar yang dilanggan. Media di sini, saya secara pribadi tidak melihatnya lagi sebagai corong kontrol sosial itu. Media telah beralih fungsi sebagai sebuah mulut yang menganga lebar menadah segala macam kerakusan yang diturunkan untuk kebutuhan diri semata dan mungkin juga telah berganti pahamnya sejalan dengan kapitalisme yang terus merongrong idealisme masyarakat modern dewasa ini.
Secara pribadi pula, saya mulai antipati terhadap media, khususnya media massa di NTT. (dalam hal ini terkhusus lagi media cetak). Bagi saya media cetak sekarang tidak memberikan berita yang bisa mempengaruhi cara pandang masyarakat ke arah yang lebih baik. Media lebih mengejar keuntungan semata. Media tidak menyajikan  berita yang mendidik. Banyak berita di media yang saya maksudkan di atas, hanya sekedar memuat tentang tindakan yang amoral (pembunuhan, pemerkosaan dan sebagainya), yang bagi saya berita itu tidak mencerahkan.
Semoga media membaca dan bisa membaharui tindakan mereka selama ini.

Pengalaman Menjelang Natal



Natal bagi umat kristiani menjadi suatu moment penting. Begitu pun saat menjelang natal. Di gereja katolik, saat menjelang natal atau yang di kenal dengan masa penantian (Adventus), kita diajak untuk berbenah diri, merefleksi hidup dan memahami segala laku dan tindakan kita untuk bertobat, agar kita pantas dan layak menyambut kedatangan-Nya.

Saya tidak sedang merefleksi atau membuat semacam renungan. Di sini, saya mau bercerita tentang masa-masa menjelang natal saya di Kupang. Masa-masa yang membuat saya semakin rindu. Kupang, memang bukan tempat darah saya ditumpahkan dan ari-ari saya di kuburkan. Kupang bukan tanah ketuban saya, tapi selama lima tahun di kupang, ada beberapa hal yang istimewa menjelang natal, yang sekarang tidak pernah saya rasakan lagi.

Hal yang paling saya ingat adalah ketika harus membagi waktu. Antara memikirkan ujian semester gasal dan latihan menyanyi. Saya memang bergabung di dua kelompok paduan suara. Paduan suara fakultas atau yang dikenal naanya dengan Vox Gaudentia Choir dan Paduan suara di lingkungan saya. Theressa Cantare. Kadang sesekali bernyanyi di Padduan suara untuk Orang Muda Katolik Paroki St. Matias Rasul Tofa. PS SAMARA. Di sini dibutuhkan komitmen dan keberanian untuk mengahadapi semuanya (Hallaahhh :p)

Mengikuti semuanya adalah kenikmatan tersendiri bagi saya, terkadang sore hari harus bergabung dengan Vox Gaudentia Choir,  untuk pelayanan di beberapa tempat, misalnya natal bersama PMK, dan juga malam hari harus ikut latihan di Lingkungan bersama Theressa Cantare. (Untung saya kayak, lumba-lumba di PS SAMARA). Di sinilah saya harus memikirkan bagaimana menggunakan waktu luang untuk belajar agar bisa mengerjakan ujian keesokan paginya. Lulus kuliah dan bisa tetap eksis dengan hobi.

Saya memang tidak berbakat jadi penyanyi. Bagi saya, menyanyi di paduan suara merupakan hobi yang sulit dihilangkan. Walaupun suara saya yang tidak merdu. Tapi, di paduan suara bukan soal suara bagus atau tidaknya. Ia lebih mengutamakan kekompakan (paduan). Apakah kita bisa bernyanyi dan mengeluarkan suara berdasarkan not yang ada atau kita malah, mempunyai warna suara yang tidak sesuai dengan warna suara semua orang di kelompok suara kita (Sopran, alto, tenor dan bas). Karena suara saya yang cukup besar, saya bergabung di kelompok Bas. Memang saya tidak terlalu fasih membaca not.

Hal inilah yang membuat saya merasa ada yang kurang dengan masa advent kali ini. Tapi saya semestinya harus bersyukur. Tidak semua yang kita suka, kita dapatkan. Semua akan indah pada waktunya.
Selamat menjalani masa penantian.

Tulisan Terbaru

Mitos atau Fakta: Anak Tikus Menyembuhkan Asma dan Sesak Napas?

Anak tikus. Gambar diambil dari: https://www.merdeka.com/ Di beberapa daerah, terutama dalam praktik pengobatan tradisional, ada kepercaya...