Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Monumen Pancasila di Ende

Beberapa waktu lalu, saya dan teman-teman mengadakan orientasi dalam rangka pengenalan untuk sebuah tempat tugas baru. salah satu kegiatannya ialah sosial kemasyarakatan, dalam hal ini ialah bakti sosial. kami melakukan bakti sosial di simpang lima Kota Ende. Tempat itu terdapat juga Monumen Pancasila. Monumen ini dibangun untuk memperingati kelima butir falsafah dasar negara yang diilhami di Ende. Monumen ini sebenarnya diresmikan pada Tanggal 1 November tahun 1985 oleh Mendagri RI pada waktu itu, Soepardjo Rustam. 
Seiring dengan berjalannya waktu, monumen ini mengalami kerusakan akibat gempa tektonik yang melanda flores pada tanggal 12 Desember tahun 1992. kemudian dibangun dan diresmikan lagi kurang lebih setahun kemudian, pada tanggal 3 Desember tahun 1993 oleh Bupati Ende saat itu, Johanes Pake Pani.
Berikut beberapa foto yang sempat saya abadikan.










Ama Alekot (Bapa Kami versi Uab Meto)



Kurang lebih setahun yang lalu, saya diajak oleh Romo Amanche untuk mengikuti natal di Paroki Santo Paulus Oinlasi. Saya menyanggupinya, karena katanya kami akan ke Boti, sebuah perkampungan tradisional yang masih kental dengan agama aslinya, HALAIKA. Di sini saya tidak bercerita tentang bagaimana keadaan kampung Boti dan berbagai ritus maupun ritual adatnya. Saya berkesan ketika beberapa hari kami mengikuti misa di Paroki Oinlasi.
Hal yang membuat saya tersentuh adalah umat menyanyikan Doa yang diajarkan Kristus sendiri itu, ke dalam bahasa daerahnya. Saya cukup senang. Begini kira-kira doa itu yang bisa saya tuliskan.
AMA ALEKOT

Ama alekot uis neno tunan
Haim lomi seke mpules kit
Hit pah lof nem
Hit loim ten jadi
Na noeban nbi naijan nai

Mfe kai mipen mnahat neno-neno
Kaisa ta to’an fun sanat naek
Atoin asusar kai haim
Msao mifefin
O ama kaisam mpolin kai

Di kampung, saya juga pernah mendengar tentang berbagai doa harian dalam bahasa daerah Ende, karena kebetulan kakek saya adalah guru agama kala itu. Tapi sampai sekarang saya belum bisa mengarsipkannya di dalam kertas. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini. Amen.

Gerhana Bulan, Tersesat dalam Perjalanan Pulang


Gambar dari: http://www.google.com/imgres

Gerhana bulan adalah sebuah fenomena alam yang jika dikaitkan dengan ilmu pengetahuan berarti bulan berada di garis umbra. Selanjutnya dipahami sendiri karena saya bukanlah ahli fisika atau astronomi. Saya hanya mau menuliskan sedikit tentang cerita tentang gerhana bulan di kampung saya, Rajawawo, Kecamatan Nangapanda Kabupaten Ende.
Gerhana bulan di kampung, kami namakan wuza pota. wuza artinya bulan dan pota artinya hilang atau di terjemahkan sebagai hilangnya bulan dari pandangan manusia. Secara logika itu tak masuk akal. Bulan masih bisa dilihat, hanya cahayanya seolah ditutup.
Pandangan kami, wuza pota berarti bulan tersebut telah tersesat. Ia salah mengambil jalan pulang.  Pernah ketika kecil kala gerhana bulan, semua orang akan keluar rumah. Terkecuali perempuan hamil. Orang yang sementara nyenyak tidur pun dibangunkan. Semua keluar. Kala itu ketika kami kecil, ini sebuah hiburan juga. Kami akan membunyikan lesung dan alu serta bunyi-bunyian dari bambu dan lainnya yang berasal dari atau seng. Seng dan kaleng bekas akan ditabuh. Membuat hingar bingar malam di kampung kami.
Kami mulai bertanya pada orang tua masing-masing tentang kenapa bulan bisa hilang. Kemudian orang tua mulai menjelaskan bahwa bulan tersesat. Ia salah mengambil jalan pulang. Saat itu juga kami, anak-anak kecil akan berlomba siapa yang membunyikan alat masing-masing dengan suara paling besar atau nyaring. Biasanya di setiap depan rumah, akan dibuat api unggun. Kami membunyikannya sambil mengelilingi api ungun. Sesekali orang tua berteriak “Bhaze wazo si ooo..” artinya pulang sudah!. Ajakan supaya bulan pulang dan berjalan sesuai dengan jalan yang biasa dilaluinya.
Cerita lainnya ialah, orang yang melihat pertama gerhana bulan akan berteriak Wuza pota ooo.. sambil membangunkan semua orang. Katanya orang yang melihat pertama di kampung itu, adalah orang yang mendapatkan rejeki. Ia dengan cepat akan memetik daun apa saja di sekelilingnya. Daun itu di simpan. Menurut kepercayaan orang tua di kampung saya, daun itu akan menjadi obat untuk membantu proses persalinan. Mekanisme pengobatannya seperti apa saya juga kurang tahu.
Hal lainnya ialah tentang ibu hamil. Ibu hamil dilarang keluar, tapi kala itu mereka akan dimandikan malam hari. Ini bertujuan untuk menolak bala. Katanya fenomena ini langka dan bulan yang hilang itu akan mencuri janin di setiap rahim ibu yang hamil. Bila itu tidak ditangani secara cepat, maka akan ada musibah bagi ibu hamil. Bisa saja anak yang lahir nanti tidak selamat atau ibunya atau bisa jadi kedua-duanya.
Ini hanya sekedar sharing cerita kebiasaan atau tadisi masyarakat di kampung saya tentang fenomena gerhana bulan.

Meriam Bambu (Zengi Tana Mbo) : Informasi Kematian



Sumber gambar: http://yosephbendi.blogspot.com

Di setiap daerah di nusantara ini pasti mengenal dengan yang namanya meriam bambu. Meriam bambu ini dugunakan sebagai hiburan atau memeriahkan suatu moment. Misalnya ketika bulan puasa, anak-anak sering memainkannya selain membunyikan petasan. Atau pada masa menjelang natal, di beberapa daerah di NTT, seperti Manggarai, Bajawa maupun pulau timor, anak-anak sering memainkan. Semua ini sangat berlawanan dengan daerah saya.
Di daerah saya meriam bambu di kenal dengan sebutan Zengi Tana Mbo. Artinya secara harafiahnya sebenarnya, minyak tanah bunyi, tapi yang dimaksudkan adalah meriam bambu. Mungkin karena salah satu bahan yang digunakan selain bambu ialah minyak tanah.
Sejarah meriam bambu atau zengi tana mbo ini, tidak diketahui secara jelas. Besar kemungkinan, ini diinspirasi dari sebuah senjata milik bangsa pertugis yang masuk ke indonesia pada abad ke enam masehi. Bisa jadi ketika melihat benda itu, masyarakat di indonesia mulai tertarik dan mencoba membuatnya dengan bahan yang ada di sekitar lingkungan mereka.
Cara pembuatannya pun terbilang sederhana, di kampung saya, bahan yang dibutuhkan hanyalah bambu dan minyak tanah serta menggunakan parang untuk melubangi bambu di dekat bukunya dan sandal jepit bekas untuk menutup lubang itu ketika memasukan api.
Mungkin itu sekedar cerita meriam bambu. Tapi maksud saya menulis ini bukan lah hanya sebatas itu. Saya ingin menyampaikan kepada pembaca sekalian bahwa di kampung saya Rajawawo, Ende, meriam bambu ternyata mempunyai arti penting dalam menyampaikan sebuah informasi dukacita. Bila di kampung A, ada yang meninggal, maka tanda yang diberikan adalah dengan membunyikan meriam bambu (selain gong untuk kalangan tertentu – keluarga yang dipandang di masyarakat atau mosalaki –). Dengan mendengar bunyi meriam bambu orang di kampung sebelah akan tahu bahwa di kampung A, ada kematian. Mereka mulai menerka, siapa orang yang meninggal itu, mulai menghitung orang tua di kampung itu, atau orang yang sakit.
Ketika berada di beberapa daerah dengan tradisi meriam bambu yang berbeda, saya merasa sedikit terhenyak. Sebab di daerah itu, meriam bambu digunakan sebagai permainan tradisional, sedangkan di daerah saya, meriam bambu mempunyai arti sebagai pemberi isyarat adanya kematian di suatu kampung.
Sejarah atau cerita lebih lengkapnya belum saya dapatkan. Tapi intinya bila ke kampung kami, dan mendengar bunyi meriam bambu, itu bukan kelakuan iseng anak-anak menjelang natal. Itu adalah pertanda di dekat sumber suara itu ada orang yang meninggal. Mari kita ke sana untuk melayat dan menunjukan rasa belasungkawa sebagai sesama makhluk fana.

Ibadah Perdana Malam Puisi Ende

Perempuan Senja, tokoh fiktif di kehidupanku itu datang lagi. Berharap saya mau menemaninya bermalam minggu. Maklum, sejak beberapa bulan terakhir ia diputuskan kekasihnya. Ia bahkan dengan sedikit memaksa supaya saya turut dengan permintaannya.
“Tidak bisa. Saya mesti ke Soulmate Cafe” kataku tegas.
“Untuk apa?” Ia bertanya histeris.
Saya diam untuk beberapa saat, kemudian bercerita di sini. Tentang malam puisi. Acara yang membuat saya untuk menolak ajakan Perempuan Senja. Beberapa waktu yang lalu, tepatnya 20 Oktober 2013 beberapa orang pencipta puisi seperti saya, Kakak Telly Rohy, Kakak Eka Wangge, Kakak Sofi Kusnadi dan Frater Kristo Suhardi bersepakat untuk menjadi penggerak kegiatan Malam Puisi Ende. Kami ingin, ada sesuatu di Ende berdasarkan kecintaan kami. Dan berharap ada orang lain yang juga seperti kami turut serta. Maka lahirlah Malam Puisi Ende. Malam di mana semua bisa datang, dengar dan membacakan puisi dengan diberi beberapa catatan dari teman-teman yang mendengarnya kepada puisi yang baru selesai dibacakan. Ini mengenai sepengal kisah tentang Malam Puisi Ende.
Tentang hari ini (Sabtu, 23 November 2013). Sekitar pukul tujuh lewat belasan orang sudah duduk mengelilingi meja di Soulmate cafe, Jalan Anggrek nomor 1, Ende-Flores. Sebelum acara Baca Puisi. Acara diawali dengan perkenalan dan cerita awal tentang kecintaan pada puisi dari masing-masing orang yang hadir. Saling berbagi, seperti apa yang pernah ditulis oleh Kahlil Gibran, “apa yang dikatakan oleh satu hati, akan dikatan juga oleh beribu-ribu hati” sebuah ajakan untuk berbagi.
Malam puisi ini sebenarnya diadopsi dari beberapa daerah. Malam puisi itu sendiri pertama kali dilaksanakan di Bali, tepatnya di Kedai Kopi Kultur, Bali pada bulan maret 2013. Kemudian merambat ke beberapa daerah di Indonesia. Kota Ende sendiri merupakan Kota ke dua puluh untuk malam puisi ini. Tujuan dari malam puisi ini sebenarnya sederhana. Datang, dengarkan dan bacakan puisi. Tapi sebenarnya dengan berpuisi kita bebas berekspresi. Mengungkapkan isi hati. Dengan begitu puisi menjadi sebuah nutrisi bagi jiwa untuk merefleksi dan berkontemplasi tentang hakekat hidup kita. Itulah kira-kira penjelasan singkat dari Kakak Telly. Ini juga sebagai bentuk kecemburuan yang bersifat positif tentunya terhadap beberapa anak muda di kota lain. Mereka mampu melakukan kegiatan sendiri tanpa ada sponsor atau pun campur tangan pemerintah. Lanjut Kak Telly berapi-api.
Selanjutnya masing-masing orang yang datang membacakan puisi mereka.
Membedah beberapa puisi yg baru saja dibacakan.
Br. Hans (wartawan, Flores Pos)

Herlin, Membacakan DOA-nya Chairil Anwar

Sofi yg membacakan curahannya yg blm ada judul
Saya
Fr. Kristo

Obeth

Telly

Polis

Tulisan Terbaru

Mitos atau Fakta: Anak Tikus Menyembuhkan Asma dan Sesak Napas?

Anak tikus. Gambar diambil dari: https://www.merdeka.com/ Di beberapa daerah, terutama dalam praktik pengobatan tradisional, ada kepercaya...